Tuesday, 31 March 2020

Tanah Papua: Destinasi Wisata Hijau Nan Unik Penuh Dengan Kearifan Lokal

“Mas, bawa wadah sendiri kan untuk barang belanjaannya? Sekarang kita sudah tidak menyediakan kantong plastik untuk barang belanjaan” ucap pelayan toko ketika selesai membeli barang belanjaan disalah satu minimarket, kawasan Tebet. Jakarta.

Tidak ada pilihan, karena memang saat itu, aku belum tahu bahwa sekarang sudah mulai dicanangkan gerakan hijau untuk mengurangi penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari. Aku memutuskan untuk membeli totebag sebagai wadah barang belanjaanku saat ini.

Sejak pencanangan larangan penggunaan sedotan beberapa tahun terakhir dan sekarang disusul dengan larangan penggunaan kantong plastik. Aku berpikir, apakah mungkin semua aktivitas kehidupan dengan konsep hijau alias ramah lingkungan bisa diterapkan? Hal ini lah yang terpikirkan sepanjang perjalanan pulang dari minimarket tersebut.

Malam pun kini beranjak larut, tetapi kota ini tidak pernah sepi. Layaknya kehidupan 24 jam, semua aktivitas berjalan dirodanya masing-masing. Begitupun juga denganku, ketika malam tiba adalah waktunya mencari inspirasi tempat liburan untuk mengisi waktu cuti yang akan datang. Akupun melihat peta Indonesia dan memperhatikan dengan saksama. Mataku berhenti dipulau timur Indonesia, Papua.

Bagiku, Papua adalah destinasi yang tepat untuk aku kunjungi kali ini. Berbagai destinasi wisata unik dan menarik sudah banyak beredar diinternet terutama yang bersumber dari EcoNusa, sebut saja Raja Ampat yang pesonanya hingga ke mancanegara. Tetapi kali ini, aku benar-benar ingin mengunjungi papua destinasi wisata hijau nan unik. Hingga aku temukan beberapa destinasi wisata hijau yang penuh dengan kearifan lokal.

Puncak Carstenz, Sang Pemilik Salju Abadi

Siapa yang tidak senang melihat salju? Apalagi di Indonesia yang hanya memiliki 2 musim yaitu musim hujan dan kemarau. Salju merupakan hal istimewa untuk dilihat. Biasanya para wisatawan Indonesia memilih berlibur ke Jepang atau Korea untuk melihat salju.

Tetapi ternyata, di tanah Papua terdapat salju di Puncak yang tidak memandang musim ini dan merupakan salah satu destinasi yang layak dikunjungi jika berkunjung ke Papua. Bahkan karena keberadaanya selalu ada, maka sering dijuluki sebagai salju abadi.
 
Papua Destinasi Hijau
Sumber Foto; LuarRuang.com

Terletak dipegunungan Jayawijaya, dengan ketinggian mencapai 4.884 mdpl menyebabkan udara dipuncak gunung ini sangat dingin. Puncak ini awalnya dilihat pertama kali oleh penjelajah asal Belanda bernama Jan Carstenz pada tahun 1623. Sehingga puncak ini pun diberi nama Puncak Carstenz yang merupakan puncak tertinggi di Indonesia dan juga menjadi salah satu dari tujuh puncak tertinggi di dunia, ‘Seven Summits’.

Desa terdekat menuju puncak Carstenz adalah desa Ugimba yang ditempuh selama 8 jam perjalanan dari Sugapa, Intan Jaya. Dari Ugimba, masih butuh sekitar 4 hingga 6 hari menuju puncak Cartenz.

Puncak Cartenz tidak hanya menyajikan salju abadi diketinggian tetapi banyak hal yang bisa dinikmati sepanjang perjalanan seperti sungai air garam, sungai terbalik karena airnya mengalir dari bawah ke atas, hingga hujan es. Belum lagi kekayaan flora dan fauna yang tersebar dibeberapa ekosistem hutan berdasarkan ketinggian. Hal inilah yang membuatku ingin sekali berkunjung ke puncak Carstenz papua destinasi wisata hijau dengan salju abadinya .


Malam yang Memikat di Desa Kunang-Kunang Wouna

Mengembalikan memori masa kecil, akan keberadaan kunang-kunang ternyata juga bisa dinikmati di tanah papua. Ketika malam hari tiba, keberadaan kunang-kunang dengan cahayanya yang kerlap-kerlip disela-sela pepohonan adalah pemandangan yang sulit ditemukan di kota-kota besar. Apalagi seperti ibukota Jakarta.

Terletak di desa Wouna, Distrik Yawosi, keberadaan kunang-kunang sudah lama menjadi destinasi wisata unik sekaligus ramah lingkungan. Udara bersih merupakan salah satu faktor pendukung keberlangsungan hidup kunang-kunang, dan ini bisa ditemukan di desa Wouna. Apalagi kunang-kunang disini besar-besar sehingga cahaya yang dihasilkan pun tampak lebih bersinar.
 
Papua Destinasi Hijau
Sumber Foto; indozone.id
Populasi kunang-kunang di Pulau Biak benar-benar dijaga oleh masyarakat setempat sebagai salah satu bentuk kearifan lokal akan keseimbangan ekosistem. Ketika kunang-kunang muncul itu artinya, udara disekitar mereka terjaga dengan baik sehingga aktivitas tidak akan terganggu akibat adanya polusi.

Romantisme malam dikelilingi cahaya memikat dari kunang-kunang membuat desa Wouna layak untuk dikunjungi. Berdasarkan informasi penduduk lokal bahwa waktu terbaik untuk menikmati kunang-kunang adalah pukul 18.00 - 21.00 WIT. Hal inilah yang menjadikan desa Wouna sebagai salah satu destinasi wisata hijau yang ingin aku kunjungi, sekaligus nostalgia masa kecil. Kapan lagi, bisa berlari di bawah pohon dengan kerlap-kerlip cahaya dari kunang-kunang kalau bukan di desa Wouna.

Bertemu dengan Paus Bryde, Penjaga Kampung Lobo

“Pernahkah bertemu dengan ikan paus sepanjang 12 meter dan disaksikan langsung tepat di depan mata, bukan lagi di layar televisi?” celoteh teman saat kami berdiskusi tentang destinasi wisata laut.

Belum sempat terjawab, teman tersebut akhirnya mengeluarkan kalimat ampuh sekaligus tantangan. Ayo lah, datang ke kampung Lobo, maka engkau akan menemukan Paus Bryde, sang penjaga kampung Lobo.

Papua Destinasi Hijau
Sumber Foto; intronesia.com

Berada di Teluk Triton, Kampung Lobo menjadi salah satu tempat terbaik untuk bertemu dengan paus Bryde. Meskipun masyarakat kampung Lobo mayoritas nelayan, tetapi mereka hidup dengan harmonis bersama paus Bryde. Tidak ada satupun nelayan memburu paus ini. Bahkan mereka sudah menganggap keberadaan paus Bryde sebagai penyelamat hingga menjadikannya keluarga ketika berada di laut. Kearifan lokal nan unik bersahabat dengan mamalia laut yang perkasa.

Apalagi kata temanku, bahwa ketika air laut sedang jernihnya tidak jarang paus Bryde ini akan berkumpul ditengah lautan dan menari-nari. Sesekali, dari balik punggungnya, air akan tersembur ke udara. Semua ini bisa langsung dinikmati dari atas perahu nelayan. Ah, benar-benar memikat. Aku pun memastikan paus Bryde sang penjaga kampung Lobo adalah tujuanku ketika berkunjung ke tanah papua.

Desa Noken di Kampung Utikini Baru

Noken merupakan salah satu hasil karya dari Papua berbentuk wadah yang sering digunakan untuk menyimpan barang bawaan. Noken terbuat dari serat kayu kemudian dipilin dan dirajut hingga menyerupai tas. Pada 4 Desember 2012, noken sudah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia sehingga patut dan layak untuk dilestarikan.

Bagi para wanita papua atau sering disebut mama mama papua, noken bukan hanya sebuah wadah penyimpanan multifungsi tetapi juga sebagai simbol kedewasaan. Seorang wanita papua, belum dikatakan dewasa jika tidak mampu merajut noken yang baik. Sehingga noken sudah menjadi sentral keluarga dan citra wanita papua.
 
Papua Destinasi Hijau
Sumber Foto; VoA Indonesia
Salah satu desa noken yang ingin aku kunjungi adalah desa noken di Kampung Utikini Baru. Kampung ini sudah sering menghasilkan berbagai jenis model noken hingga merajut turunan produk noken. Selain terbuat dari serat kayu, di kampung ini noken juga sudah mulai menggunakan benang wol.

Menjadikan buah tangan sekaligus sebagai bentuk kampanye lingkungan dalam mengurangi penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari adalah salah satu alasan mengapa desa noken wajib dikunjungi.

Maka benarlah adanya tentang kalimat kawanku yang sepintas terdengar biasa saja tetapi penuh makna. “Jika ingin melihat hutan beton datanglah ke Jakarta. Tetapi, jika ingin menikmati wisata hijau, datanglah ke Papua”. 

Saturday, 7 March 2020

Ketika Memilih Teknik Elektro

Kabut masih menyelimuti jalan depan rumah. Sesekali angin semilir, membawa dingin yang menusuk tulang. Dari ufuk timur, berkas lazuardi perlahan nampak. Ine dengan raut keriput, kulit beliau berwarna hitam legam, tergopoh-gopoh menuju dapur. Dibukanya gentong dan mengambil 2 gayung air kemudian menuangnya kedalam teko aluminium yang kilapnya sudah memudar. Sesaat kemudian, asap perlahan mengepul, nyala api sekarang tinggal menunggu waktu untuk membuat panas, air dalam teko.

“Uto, bangun. Maria bangun. Ini sudah pagi. Ayo persiapan berangkat sekolah. Jangan lupa, Uto ambil air di pancoran Muring. Maria, bantu Ine masak disini” terdengar dengan samar teriakkan Ine membangunkanku dan adik laki-lakiku, Uto. Ine dalam bahasa manggar berarti Ibu.

Seperti rutinitas biasa, aku pun bergegas ke dapur membantu Ine mempersiapkan sarapan pagi dan perbekalan. Dari balik celah dinding anyaman bambu, aku melihat Uto bergegas membawa 5 buah jerrycan untuk diisi dengan air dipancoran Muring.

Sadar Gender



Bulan ini adalah musim panen, meskipun air sangat terbatas bukan berarti proses tanam padi di kaki bukit membentuk terasering tidak berhasil. Bagi kami warga Bea Muring, air dan listrik adalah dua kendala utama yang setiap hari menghantui. Tetapi, kami bersyukur masih bisa hidup dan bertahan hingga hari ini. Melalui hasil perkebunan lainnya, yaitu cengkeh.

Pukul 06.00 WITA, selesai mandi dan sarapan. Aku bergegas ke pinggir jalan depan rumah. Seperti biasa, menumpangi Colt kayu, kendaraan yang akan mengantarkanku ke sekolah SMA di kampung atas. Berjarak tempuh 30 menit perjalanan jika lancar dan jalanan tidak longsor. Sebenarnya, jika menggunakan motor waktu tempuhnya hanya 10 menit. Tetapi bagi keluarga kami, motor adalah barang yang sangat mewah. Sejak SD hingga SMA seperti sekarang, di rumah hanya ada radio baterai sebagai barang termewah yang ayah beli di pasar Ruteng.

“Maria, jangan lupa mampir beli kapur dan daun sirih untuk persiapan Tari Caci”. Teriak Ine, sebelum akhirnya Colt kayu tiba.

“Baik, Ine” aku pun bergegas naik Colt kayu dari belakang. Mengangkat sedikit rok seragam sekolah dan lompat masuk ke dalam Colt kayu. Beberapa Ine Ine lainnya yang sudah ada didalam Colt kayu, geleng-geleng kepala melihat caraku naik kendaraan ini. Bagi mereka, hanya laki-lakilah yang biasa naik dengan cara tersebut. Maklum, desa ini memang hanya memandang laki-laki dan perempuan berdasarkan kodratnya, sehingga sadar gender sangat jauh dari harapan. Tetapi, aku selalu tidak peduli tentang hal ini, selama tidak mengganggu pikiran dan keinginanku. Meskipun sering menjadi bahan perbincangan warga desa.

Kini, Colt Diesel melaju pelan, menembus jalanan berbatu dengan aspal seadanya. Bahkan lebih banyak jalanan rusak dibanding jalanan beraspal. Pepohonan dan bukit sudah menjadi sahabat perjalanan yang selalu dijumpai sepanjang jalan. Begitupun aliran sungai di sebelah kiri jalan, sebagai satu-satunya sungai yang melintasi desa ini.
 
Sadar Gender
Sengkedan Terasering di Bukit kawasan Bea Muring

Insiden Pesta Panen

Alunan tabuhan gendang dari microphone begitu menarik perhatian. Puluhan hingga ratusan warga sudah mulai memadati lapangan depan gereja. Dua kelompok pria, masing-masing terdiri 4 orang sudah siap menunjukkan kebolehannya. Mereka semua menggunakan pakaian khas dengan penutup kepala dari kulit sapi. Tangan kanan memegang cemeti, dan tangan kiri memegang tameng. Setiap kali mereka bergerak, maka terdengar suara gemercik dari lempengan bulat yang digantungkan dibelakang tubuh mereka. Tarian ini bernama Tarian Caci atau Cicaci.
 
Setiap gerakan penari Caci akan menimbulkan bunyi

Tarian Caci hanya diselenggarakan ketika musim panen tiba sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen. Semua penarinya adalah laki-laki. Mereka saling serang menggunakan cemeti dan bertahan menggunakan tameng. Tidak jarang, darah segar bermunculan dari tubuh mereka. Ketika darah ini keluar, maka langsung diobati menggunakan ramuan kapur dan daun sirih, agar tidak bertambah parah dan pendarahan akan berhenti seketika.

“Romo Elie, kenapa hanya laki-laki saja yang boleh ikut Tari caci, padahal semua pasti senang kalau ada perempuan yang ikut berpartisipasi dalam tarian ini” tanyaku kepada Romo Paroki Bea Muring, disela-sela menikmati Tarian Caci.

“Maria, Tari Caci ini penuh dengan gerakan fisik yang menguras tenaga. Coba kamu lihat itu, cemeti yang digunakan. Itu adalah simbol kekuatan seorang laki-laki. Begitupun juga dengan tameng sebagai simbol pertahanan jika ada yang menyerang. Dengan semua peralatan yang dimiliki, sudah sepantasnyalah Tari Caci dimainkan oleh laki-laki. Jika Maria ingin menari, belajarlah Tarian Lipa Songke yang gerakannya lemah lembut nan gemulai”

Sadar Gender

Aku pun terdiam mendengar penjelasan dari Romo. Mungkin ada benarnya juga. Jika Tarian Caci hanya untuk para laki-laki karena karakter kerasnya, begitupun dengan Tarian Lipa Songke hanya untuk perempuan dengan karakter lemah lembut.

Belum habis aku cerna semua analogi ini, tiba-tiba suara tabuhan gendang tidak terdengar dengan jelas. Alunan gendang yang awalnya nyaring sekarang tergantikan dengan suara gaduh dari penonton. Ternyata, ada masalah dengan microphone.

Ini insiden, jika tidak segera diatasi, maka pertunjukkan bisa langsung berhenti. Para penabuh gendang saling menatap, mereka bingung mengatasi hal ini. Apalagi ini adalah pesta panen. Jangan sampai ‘bala’ atau bencana datang menghampiri setelah ini.

Wakil kepala Desa yang biasa menjadi teknisi dadakan jika ada masalah dengan microphone, sekarang lagi berada di Labuan Bajo, ada agenda yang beliau tidak bisa tinggalkan. Aku pun inisiatif untuk cek sambungan microphone. Siapa tahu ada kabel penghubung yang putus dari sambungan generator bertenaga diesel dengan microphone.

Sadar Gender



Benar saja dugaanku, setelah menggunakan obeng dan membuka ujung microphone terdapat salah satu kabel yang putus. Aku mencoba melilitkan pisau untuk memotong lapisan pelindung kabel hingga muncul serat tembaganya. Kemudian aku sambungkan dengan panel berlambang positif sebelum bautnya aku kuatkan kembali. Sejatinya tidak membutuhkan tenaga yang kuat untuk menyelesaikan insiden ini. Meskipun bagi warga disini yang belum sadar gender, hanya beranggapan bahwa, cuma laki-laki saja yang bisa menyelesaikan masalah kelistrikan. Tetapi, kali ini tidak. Akhirnya selesai sempurna. Kini microphone sudah bisa digunakan kembali dan acara terus berlanjut. Tarian Caci ini akan dinikmati hingga 3 hari kedepan.

Salahkah, Jika Aku Memilih Teknik Elektro

Sejak insiden Tari Caci, aku pun sadar akan potensi yang aku miliki. Selama sekolah, aku memang sangat suka dengan mata pelajaran fisika khususnya tentang listrik. Apalagi, kelulusan ujian nasional yang berlangsung minggu kemarin, membuat aku yakin untuk memilih kuliah di jurusan Teknik Elektro. Hal ini rencana akan aku bicarakan dengan Ema (artinya ayah dalam bahasa manggarai) dan Ine malam nanti.

“Ema… Maria kan sudah lulus SMA. Maria berencana untuk kuliah dijurusan Teknik Elektro. Apakah boleh?” Aku pun langsung menundukkan kepala selepas menyampaikan hal ini.

“Maria…Apa yang kamu harapkan sehingga ingin kuliah di Teknik Elektro. Kampung kita ini, sejak dahulu hingga sekarang, para perempuan pasti memilih sekolah bidan atau perawat, agar kelak bisa mengabdi di puskesmas. Nah, ini…Maria, mau kuliah Teknik Elektro. Coba kamu lihat, anak Pak Yuki yang kuliah teknik di Ruteng, rambutnya gondrong dan suka merokok. Tetapi dia kan laki-laki, sedangkan Maria kan perempuan. Mana bisa Ema biarkan Maria menjadi seperti itu” jawaban Ema yang seakan tiba-tiba meruntuhkan harapanku.

“Ema… Memang benar, kalau perempuan disini kebanyakan lanjut sekolahnya sebagai bidan atau perawat. Tetapi, apakah kita juga harus memaksakan Maria untuk mengikuti jejak mereka. Padahal, Ema kan tahu kalau Maria memiliki bakat khusus dalam dunia listrik. Pas acara pesta panen, hanya Maria yang bisa menyelesaikan masalah microphone yang putus itu, jadinya acara tetap berlangsung. Mungkin pula suatu saat nanti, melalui tangan Maria lah, desa kita bisa menikmati listrik tanap perlu pakai generator diesel. Lagian Teknik Elektro, pastinya tidak akan melihat apakah perempuan atau laki-laki yang kuliah disitu, yang penting bisa memenuhi syarat akademik. Maria kan hebat dalam Fisika. Ina yakin, Maria bisa masuk kuliah dijurusan Teknik Elektro” ucapan Ina yang tiba-tiba tidak terduga olehku sama sekali.

Dahulu, Ina selalu diam jika membahas hal pelik dikeluarga, semuanya selalu mengandalkan keputusan Ema. Tetapi kali ini berbeda. Ina lah yang mendukungku. Bahkan Ina berani mengeluarkan pendapatnya sebagai seorang perempuan sekaligus sebagai Ibu.

Sadar Gender


Sekarang aku tersadar, ternyata tidak semua orang di kampung ini tidak sadar gender. Ina lah orang pertama yang mengerti dan memahami bahwa memilih jurusan pendidikan bukan masalah gender tetapi masalah kemampuan yang dimiliki. Karena Ina pula lah, akhirnya Ema luruh dan mengizinkan ku kuliah di jurusan teknik elektro.

Mungkin aku terlahir di Bea Muring, desa yang hanya memandang bahwa sejatinya pekerjaan laki-laki dan perempuan sudah berbeda berdasarkan kodratnya. Tetapi, bukan berarti bahwa memilih masa depan juga hanya berdasarkan kodrat. Masih ada aspek lain yang lebih penting, yaitu masalah bakat dan minat tanpa hanya memandang jenis kelamin.


Wednesday, 4 March 2020

Bisikkan Dari Hutan; “Jangan Biarkan Kami Menjadi Rimba Terakhir”

Seketika ruangan jadi hening. Suara sayu terdengar dari microphone, mendayu begitu mendalam. Ruangan berisi para finalis ini, sontak berubah. Sekarang semua mata benar-benar tertuju pada sosok wanita yang ada di depan. Memakai baju khas Minangkabau. Lengkap dengan aksesoris menyerupai rumah gadang. Sesekali, beliau mengusap air mata yang jatuh dengan tissue putih.


“Sedih sekali rasanya melihat hutan terbakar, baik di Riau maupun di Kalimantan. Meskipun kami sebagai petani, di pesisir selatan Sumatera Barat. Alhamdulillah, kami selalu berusaha hutan tetap terjaga hingga hari ini. Jika ada yang berani bakar, sebagai Bundo Kandung Nagari, tidak akan aku biarkan, akan aku kejar pelakunya. Kemanapun perginya” seru Ibu Sri Tati yang masih mengusap air matanya mengenang perjuangannya untuk menjaga hutan tetap lestari.

Sebagai WALHI Champion dari Sumatera Barat yang aktif dalam program Pengelolaan Hutan untuk Kesejahteraan Perempuan ternyata berhasil menjaga hutan dan memanfaatkan daging buah pala untuk diolah menjadi selai, sirup dan minuman segar buah pala. Sebuah program yang benar-benar berusaha memanfaatkan hutan dengan baik dan para perempuan sebagai penggeraknya. Meskipun kebakaran hutan menjadi tantangannya. Saat ini produk yang dihasilkan sudah dijual ke beberapa tempat, salah satunya ke Hotel Bumi Minang, sebagai welcome drink yang biasa tamu hotel minum ketika check in.


Rimba Terakhir Walhi
Ibu Sri Tati (WALHI Champion dari Sumatera Barat)


Menjaga hutan adalah usaha bersama

Bagi masyarakat adat, hutan bukan hanya dianggap sebagai onggokan pohon saja tetapi hutan adalah satu kesatuan yang beragam bukan seragam. Jika di kota mengenal supermarket dan apotek, masyarakat adat pun memanfaatkan hutan sebagai supermarket alami untuk memenuhi kebutuhan hidup begitupun juga apotek keluarga. Dari hutan, berbagai tanaman obat bisa dimanfaatkan untuk kesembuhan penyakit.

Keberadaan hutan dimana adanya keanekaragaman flora, fauna, pangan, bahkan obat serta kebudayaan akan menjadi identitas masyarakat setempat. Semua hal tersebut harus dilindungi dan dilestarikan, dimulai dari peran perempuan.

Kedudukan perempuan sebagai penjaga hutan bukan hanya sebagai pengelola dan memanfaatkan hutan. Tetapi, lebih dari itu. Perempuan berperan sebagai penjaga identitas dan nilai-nilai hidup yang berasal dari hutan. Dengan begitu maka pangan keluarga akan terjaga dengan baik dan hutan akan lestari.

Rimba Terakhir Walhi
Ibu Khalisa Khalid (Perwakilan dari Eksekutif Nasional WALHI)


Jika hutan terbakar, akan menghilangkan sumber pangan yang lama kelamaan memutus rantai supply pangan ke kota. Apalagi selama ini, sekolah alam perempuan adalah hutan. Jika hutan terbakar, maka pengetahuan tersebut akan hilang dan masyarakat adat pun juga hilang. Sehingga sangat pentingn untuk menjaga hutan tetap lestari.

Menurut Ibu Khalisa Khalid sebagai Perwakilan dari Eksekutif Nasional WALHI, bahwa warga yang tinggal diperkotaan, bisa juga turut andil dalam menjaga huta. Salah satu caranya adalah bijak dalam mengkonsumsi produk. Gunakanlah produk berdasarkan kebutuhan bukan kemauan. Dengan begitu, maka proses monokultur dari hutan akan berlangsung lambat dan lama kelamaan tidak memberikan keuntungan berlebih bagi para pebisnis monokultur. Selain itu pula, warga perkotaan sebaiknya mengkonsumsi dan menggunakan apa yang hutan hasilkan melalui komunitas adat hutan.

Perjuangan mengelola hutan

Jauh dari ibukota Indonesia, sebuah daerah bernama Kolaka di Sulawesi Tenggara ternyata terdapat masyarakat yang sudah lama bergerak untuk memperjuangkan pengelolaan hutan. Adalah Ibu Tresna Usman Kamaruddin sebagai penggeraknya yang akrab disapa mba Tresna.

Banyaknya pemuda yang bekerja sebagai petani tanpa memiliki lahan hingga sulitnya melihat pohon sagu menjadi latar belakang perjuangan untuk mengelola hutan. Padahal, dahulu sagu menjadi pangan andalan dari hutan.

Rimba Terakhir Walhi

Salah satu gerakan nyata untuk mengelola hutan adalah gerakan penanaman pohon sagu. Bagi masyarakat Kolaka, sagu bukan hanya pangan tetapi memiliki nilai kearifan lokal. Dari sagu lah, berbagai jenis makanan bisa dibuat. Bahkan gerakan ini menghidupkan kembali cemilan yang sudah lama punah berbahan dasar sagu. Cemilan ini bernama cakko cakko. Proses pembuatannya dengan mencampurkan sagu dan gula kemudian digoreng untuk menciptakan cita rasa gurih nan manis.

Dari bahan hutan menuju cita rasa Kota

Jika selama ini, masyarakat kota cenderung menggunakan bahan yang mudah didapatkan untuk membuat masakan ternyata tidak kalah dengan bahan dari hutan. Salah satunya adalah jamur yang bisa digunakan untuk menggantikan cita rasa daging pada menu ‘Fettucine Mushroom Ragu’ oleh Chef handal William Gozali yang akrab disapa WilGoz.


Bukan hanya memperkenalkan jamur dalam menunya, tetapi WilGoz juga memberikan kesempatan kepada setiap peserta yang hadir untuk memasak langsung menu dari jamur ini.

Hasil akhirnya, benar-benar memanjakan lidah. Cita rasa dari jamur memang bisa menggantikan daging. Hal ini membuktikan bahwa bahan dari hutan bisa menghasilkan cita rasa menu kota.





“Jangan biarkan kami menjadi rimba terakhir”

Merasakan asap kabut akibat hutan terbakar, banjir bandang akibat pembalakan liar, hingga monokultur demi kepentingan bisnis adalah bencana bagi hutan yang patut untuk diperjuangkan agar tidak terjadi lagi.

Pengelolaan hutan berbasis kearifan lokal dengan memberdayakan masyarakat adat, hingga bijak dalam menggunakan produk yang dibutuhkan adalah salah satu cara untuk menjaga kelestarian hutan. Seperti yang selama ini WALHI perjuangkan melalui WKR, Wilayah Kelola Rakyat. Sebuah sistem pengelolaan hutan yang lebih adil dan dikelola langsung oleh masyarakat agar bisa dimanfaatkan dengan baik.


Memilih masyarakat adat dalam mengelola hutan serta melibatkan peran perempuan sebagai guardiant pelindung hutan adalah bentuk nyata dari aplikasi program WKR. Dengan begitu, maka tidak akan ada lagi bisikan dari hutan, ‘jangan biarkan kami menjadi rimba terakhir’ karena hutan dilindungi dan dikelola dengan baik demi terpenuhinya pangan masyarakat. Salam adil dan lestari.

Para pemateri bersama 30 finalis blogger forest cuisine

Friday, 28 February 2020

Oli Pertamina Enduro: Oli Motor Terbaik untuk Motor Matic Zaman Sekarang

“Katanya oli motor terbaik, baru 15 hari ganti oli bunyi mesin sudah tidak nyaman” seloroh suara ini aku dengar samar-samar dari tempat tinggalku.


Jalanan masih lembab, bekas hujan semalam. Beberapa pasir halus dan kerikil berserakan dipinggir gang berukuran 2 meter. Dempetan rumah tanpa pekarangan sempurna berjejer di sisi kiri dan kanan gang. Hampir setiap rumah, membariskan motor matic yang dimiliki tepat disetiap sisi gang. Teratur dan terisi berdasarkan waktu kedatangan pemiliknya. Di gang buntu kawasan Tebet ini lah, aku bertetangga dengan Pak Syaiful. Pria paruh bayah yang suaranya aku dengar barusan. Saat ini, keseharian beliau, kerja sebagai pengemudi ojek daring.

“Pagi Pak. Sudah siap-siap saja nih Pak” sapaku ke Pak Syaiful yang sedang melap sisa air hujan di motor matic kesayangan beliau. “Iya nih mas. Pagi ini mau ke bengkel dulu. Ingin ganti oli motor matic, sebelum mulai ngojek,” jawab beliau sambil tersenyum.


Meskipun umur beliau sudah hampir masuk kepala lima. Tetapi semangat kerja yang tidak kenal lelah demi istri dan dua orang anaknya membuatku takjub. Bahkan diwaktu senggang, ketika aku pulang kerja, kami sering ngobrol bersama. Mulai dari kondisi Jakarta, info yang lagi nge-trend diberita hingga membahas tentang oli motor terbaik.

Percakapan ringan dan hangat hampir setiap hari kami lakukan. Meskipun terkadang aku pulang malam karena lembur kerja di kantor. Begitupun juga dengan beliau yang biasa tetap melayani pelanggan melalui aplikasi di gawai, hingga larut malam. Dari beliaulah, aku mengenal dan memahami betapa kerasnya mencari rejeki dijalanan ibukota.

Oli motor matic Enduro


Apalagi tantangannya ditambah karena kondisi cuaca. Jakarta jika musim kemarau, panasnya benar-benar menyengat tubuh. Tetapi, jika musim hujan seperti saat ini, bisa banjir dimana-mana. Padahal, setiap hari beliau menempuh jarak sekitar 100 kilometer lebih untuk hilir mudik menerima dan memenuhi pesanan dari pelanggan berbasis daring. Macet jalanan, layaknya sahabat buat beliau. Bukan lagi menjadi hambatan. Karena mau tidak mau, kemacetan pasti ditemuin. Tinggal harus sabar dan tetap fokus mengendarai kendaraan matic miliknya.

Baginya, motor matic kesayangan ibarat istri kedua. Butuh untuk dijaga, dipahami dan dirawat dengan baik. Salah satunya adalah pemilihan oli motor matic untuk menjaga agar mesin motor tetap prima. Keluhan beliau pagi tadi bahwa suara motor sudah tidak nyaman, akhirnya memilih mengganti oli motor lama dengan oli motor terbaik Enduro dari Pertamina.

Jatuh hati pada informasi pertama

Sehari sebelumnya, ternyata Pak Syaiful mengenal oli Enduro melalui portal berita yang beliau baca disela waktu menunggu pesanan. Meskipun sudah paruh baya, bukan berarti beliau tidak update berita terkini. Nah, dari gawai beliaulah muncul pop up iklan oli motor terbaik Enduro. Layaknya cinta, bisa jatuh pada pandangan pertama. Begitupun dengan beliau, jatuh hati pada informasi pertama.

Oli motor matic terbaik Enduro
Informasi Enduro Matic-G 20W-40 pada portal detik.com


Dibacanya dengan saksama, hingga mata beliau berbinar. Disitu tertulis, “Oli motor terbaik Enduro Matic G 20W-40 mampu menjaga mesin hingga 7.500 kilometer”. Informasi ini meyakinkan beliau untuk mengganti oli motor matic lama dengan Enduro jika waktunya tiba. Eh, ternyata. Baru kemarin membaca informasi tentang Enduro, hari ini sudah harus ganti oli karena bunyi mesin yang sudah tidak nyaman.

Meskipun kemacetan Jakarta dimana-mana, ternyata beliau tetap senang menggunakan oli motor matic, Enduro. Karena salah satu kelebihan Enduro Matic G 20W - 40 adalah stabilnya kekentalan oli. Sehingga pada kondisi jalanan macet yang membuat mesin motor panas, oli Enduro tetap stabil kekentalannya dan pastinya kinerja mesin tetap terjaga.

 Dari motor matic hingga oli idola kendaraan

 “Mas, tahu tidak? Kalau motor matic ini sekarang ganti oli nya sudah lebih lama. Tidak seperti oli terdahulu. Baru 15 hari harus sudah ganti oli. Itu semua karena sudah menggunakan oli Enduro Matic G 20W-40 dari Pertamina. Oli ini sudah menjadi oli idola kendaraan matic zaman sekarang” begitulah ucapan Pak Syaiful memulai percakapan di minggu pagi.

Terkadang memang, jika tidak ada tema yang dibicarakan, Pak Syaiful lebih cenderung bahas tentang motor matic. Nah entah mengapa, hari ini beliau langsung bahas oli.

Aku mencoba mengingat, percakapan kami sebelumnya, ternyata memang benar. Beberapa bulan terakhir, Pak Syaiful sering ganti oli setiap 15 hari sekali. Pantesan saja, pagi ini beliau bahas tentang oli. Aku pun jadi penasaran dengan Oli Enduro. Karena minggu depan adalah jadwal ganti oli motor matic milikku.


Oli motor terbaik


Mengenal lebih dekat oli Enduro

Disela waktu istirahat kerja di kantor. Aku pun mengingat percakapan dengan Pak Syaiful hari minggu kemarin. Seketika itu pula, aku ketikkan ‘Oli Pertamina Enduro' dihalaman pencarian internet. Tujuannya hanya satu, mengenal lebih lanjut oli motor matic ini.

Beberapa informasi penting, aku dapatkan. Mulai dari material pembuatan yang berasal dari bahan baku sintetis dengan kekentalan lebih tinggi SAE 20W-40 hingga standar mutu yang digunakan.

Saat ini ternyata, oli motor matic Enduro sudah memenuhi standar mutu JASO MB yang merupakan standar mutu dari Jepang untuk motor matic 4 Tak.

Oli motor Enduro Matic G 20W-40
Kelebihan Oli Enduro Matic G 20W-40

Kerennya lagi, oli motor matic Enduro juga sudah memenuhi tingkat performance API  SL yang menjanjikan performa optimal untuk segala kondisi. Cocok untuk kondisi macet di musim kemarau hingga musim penghujan bersuhu dingin.

Jika musim kemarau, biasanya mesin akan panas sehingga menyebabkan oli encer, ternyata hal ini tidak terjadi pada oli Enduro Matic G 20W-40. Kekentalannya akan tetap stabil. Selain itu pula, kandungan Molybdenum (Mo) mampu meminimalkan gesekan mesin pada suhu dan kecepatan tinggi.

Terus jika musim penghujan dan suhu dingin, kekentalan oli Enduro tetap stabil juga sehingga akan melindungi mesin sejak pertama kali dihidupkan.

Aku bergumam dalam hati, “wajar saja jika Pak Syaiful menjadikan oli Enduro Matic G 20W-40 sebagai oli idola kendaraan beliau”. Semua kelebihan yang dimiliki membuat oli ini layak menjadi oli motor terbaik.

Ketika Enduro jadi oli idola kendaraan

Akhirnya, jadwal ganti oli motor matic kesayanganku yang sudah aku miliki sejak 6 tahun silam datang juga. Berbekal pengalaman dari Pak Syaiful dan informasi diinternet, aku memutuskan untuk menggunakan oli Enduro.

Masalah motor matic tua biasanya adalah presisi yang mulai berkurang. Untungnya oli motor matic Enduro cocok untuk digunakan. Karena kekentalan olinya mampu mengatasi presisi motor tua aku yang mulai renggang. Apalagi, harga oli ini sangat terjangkau, Rp 33.000 untuk kemasan 0,8 liter.

Oli motor terbaik Enduro


Wajar saja, jika Pak Syaiful menjadikan oli ini sebagai oli idola kendaraan beliau. Dengan berbagai kelebihan, harga pas dikantong dan cocok juga buat motor tua matic aku. Maka, mulai saat ini, oli Enduro aku labelin sebagai oli motor terbaik idola untuk perawatan motor matic.

Sekarang, aku yakin. Tidak akan ada lagi, teriakan Pak Syaiful ganti oli setiap 15 hari sekali. Apalagi masalah mesin cepat aus dan panas. Karena semuanya sudah teratasi bersama oli motor terbaik Enduro dari Pertamina.

Oli motor terbaik Enduro

Tuesday, 18 February 2020

Dange dan Kapurung: Panganan dari Hutan Berbahan Dasar Sagu

Palopo hari ini benar-benar panas. Perjalanan menggunakan pesawat ATR pagi hari dari Makassar menuju bandara udara Belopa membuat lupa diri untuk sarapan terlebih dahulu. Begitupun juga dengan istri. Untungnya keluarga yang menjemput langsung membawa kami ke rumah makan.


Sebenarnya waktu tempuh dari bandara ke rumah makan masih sekitar 30 menit, tetapi dengan percakapan hangat selama perjalanan, waktu tempuh 30 menit terasa cepat. Hingga tidak sadar, sekarang kendaraan yang kami tumpangi sempurna berhenti di salah satu rumah makan dikawasan jalan Andi Djemma, Kota Palopo.


“Pesan kapurung dan dange buat 4 orang” begitulah kiranya, Tante ku memesan menu makanan siang kali ini.


Percakapan demi percakapan terus berlanjut mulai dari menanyakan kabar keluarga di Jawa hingga urusan model tas yang lagi trend. Bagi istriku yang keturunan Jawa Timur, berkunjung ke Palopo sudah lama diinginkan. Tetapi selalu saja ada halangan. Entah cuti yang tidak cukup atau harga tiket pesawat kemahalan. Untungnya di bulan Februari, semua dipermudah.





Tidak lama berselang, ketika membahas masalah nasi pecel khas madiun, pelayan pun datang dengan membawa menu yang dipesan dan diletakkan diatas meja. Tiba-tiba gurat wajah istri berubah. Matanya agak dipicingkan dan dahinya berkernyit. Aku pun langsung bisa menebak. Pasti karena menu makan siang kali ini tidak seperti rumah makan biasanya yang selalu menyediakan nasi.

“Papa, kok makanan yang ada hanya ini saja. Nasinya tidak ada?” bisik istriku dengan hati-hati agar tidak terdengar oleh Tante kami.


Sesuai dugaanku, istri selama ini belum pernah makan tanpa nasi. Layaknya orang Indonesia pada umumnya, “belum makan, jika tidak dengan nasi” itulah ungkapan yang sering didengar. Bahkan nasi sudah menjadi simbol penghilang rasa lapar utama. Tetapi hal ini berbeda buat masyarakat Luwu, Sulawesi Selatan.

“Sayang, sekarang kita lagi berada di Palopo. Disini makanannya terbuat dari “tabaro” alias sagu. Sagu ini merupakan salah satu sumber pangan dari hutan. Apalagi di Sulawesi Selatan terdapat 4,1 ribu hektar hutan sagu dari 10 ribu hektar lahan yang berpotensi untuk ditanami sagu. Dari lahan tersebut, bisa menghasilkan 168 ton sagu per tahunnya. Maka tidak heran, jika makanan orang Luwu adalah dange dan kapurung. Seperti yang tersaji saat ini diatas meja”.


Ketika Dange dan Kapurung Menjadi Makanan Favorit

Berasal dari tepung sagu kering yang dicetak kemudian dibakar, dange muncul sebagai pangan dari hutan dengan cita rasa gurih dan agak “berpasir” ketika dimakan. Hal ini berbeda dengan kapurung, meskipun sama-sama berasal dari tepung sagu.



Proses pembuatan kapurung sendiri, diawali dengan penuangan air panas secara perlahan ke tepung sagu yang sudah dihaluskan. Secara bersamaan, adonan sagu lama kelamaan akan berubah tekstur menjadi padatan kenyal berwarna abu-abu. Adonan yang terbentuk ini, dicetak menggunakan 2 stik kayu dengan cara dililitkan membentuk gumpalan bulat tidak beraturan kemudian dimasukkan ke dalam campuran sayur atau kuah ikan.



“Papa, ternyata dange itu rasanya enak juga ya. Jika terlebih dahulu direndam dengan kuah sayur. Nuansa ‘berpasir’ terasa dimulut. Sangat berbeda rasanya dibandingkan dengan nasi” celoteh istri ketika mencoba dange yang tersaji di meja makan.


Sama seperti yang istriku rasakan. Sensasi makan dange dengan tekstur ‘berpasir’ dan ‘pecah’ ketika dikunyah menjadi alasan mengapa dange adalah salah satu makanan favoritku saat ini selain kapurung. Disamping tampilan dange yang unik yaitu berbentuk lembaran persegi panjang.


Selain dange, sudah pasti kapurung pun menjadi menu favoritku yang dimakan bersama dengan dange. Berbeda dengan tekstur dange, kapurung muncul layaknya agar-agar kenyal berbentuk bulatan kecil. Cara makannya juga unik, dengan memotong kapurung hingga kecil dan langsung ditelan tanpa perlu dikunyah.







Ini lah yang membuat kapurung dan dange begitu istimewa, hingga menjadi makanan favoritku. Mulai dari teknik memasak hingga cara menikmati dan pastinya membuat kenyang.

Kandungan Nutrisi dan Manfaat Sagu

Menikmati dange dan kapurung secara bersama dalam satu penyajian akhirnya membuat perut kenyang meskipun makan kali ini adalah sarapan sekaligus makan siang. Beberapa tetes keringat mulai bercucuran, saking antusias menikmati sajian. Tidak terkecuali buat istri dan tante ku.

Nutrisi yang terkandung dalam sagu per 100 gram (sumber: hellosehat.com)


Bagiku, sagu yang sudah diolah menjadi dange dan kapurung sebagai pangan dari hutan sudah mampu memenuhi kebutuhan akan karbohidrat tanpa perlu makan nasi. Apalagi kandungan nutrisi dalam sagu yang cukup lengkap seperti karbohidrat, serat, protein, sodium, potassium dan lemak.


Selain kandungan nutrisi dalam sagu, ternyata ada beberapa manfaat dari sagu yang penting untuk diketahui:

1. Sumber energi pasca olahraga berat; kandungan karbohidrat pada sagu dapat meningkatkan produksi glukosamin alami dalam tubuh yang diperlukan untuk memperbaiki keseluruhan pergerakan sendi dan pemulihan otot.

2. Mencegah darah tinggi; kandungan potasium pada sagu mampu memperlancar darah pada sistem kardiovaskular sehingga terhindar dari tekanan darah tinggi.

3. Meredakan panas akibat demam; sagu memiliki efek pendinginan yang menenangkan tubuh dengan mengendalikan kelebihan produksi empedu sehingga mampu meredakan panas tubuh.


Pentingnya Mengetahui Dange dan Kapurung sebagai Bahan Pangan dari Sagu

Pengalaman pertama mencoba sajian dange dan kapurung bagi istriku ternyata memberikan kesan positif akan pemanfaatan sagu sebagai sumber pangan dari hutan. Selama ini, istri hanya memahami dan mengenal bahwa hanya nasi yang bisa membuat kenyang. Padahal ternyata masih ada sagu dengan dange dan kapurung sebagai bentuk olahannya mampu membuat kenyang.




Wajar saja karena dalam 100 gram sagu mampu menghasilkan 350 kalori yang cukup untuk memenuhi kegiatan harian. Apalagi, Indonesia saat ini sangat berpeluang dalam pengembangan tanaman sagu karena 55% tanaman sagu dunia, tumbuh di Indonesia. Sebuah potensi yang luar biasa agar semua masyarakat tahu, bahwa sagu bukan hanya sekadar sumber pangan dari hutan tetapi juga menjadi komoditi yang siap bersaing demi ketahanan pangan Indonesia seperti yang sering WALHI perjuangkan.

Maka dari itu, bagi kami masyarakat Luwu tidak akan pernah khawatir jika tidak makan nasi. Cukup sagu yang menjadi sumber pangan utama dari zaman dahulu hingga sekarang.

Comments system

Disqus Shortname

Powered by Blogger.