Adakah yang lebih menyedihkan, saat membuka jendela asap dimana-mana. Langit tak biru lagi. Kobaran api membakar hutan dan ladang. Berbagai penyakit ISPA menyerang warga yang rentan. Dan ini berlangsung lama, bukan hitungan hari tapi sudah mencapai hitungan bulan. Miris, tapi tak berdaya.
Para
relawan pemadam kebakaran hutan dan lahan pun sudah berjibaku berbulan-bulan,
tapi hasilnya silih berganti. Memadamkan api di titik satu, eh titik lainnya
ikut terbakar. Menyiram air di permukaan, eh ternyata bara apinya masih ada di
bawah lapisan tanah. Begini lah jika tanah gambut kering yang terbakar.
Mungkin
masih banyak yang belum tahu kalau ternyata asap yang membuat langit kita mirip
planet mars itu karena lahan gambut kering yang terbakar. Itu semua berawal
dari proses kanalisasi hutan gambut.
Membangunkan Penyebab Karhutla Bernama Kanalisasi
Kekayaan
alam dan biodiversitas Indonesia sebenarnya tidak perlu diragukan lagi.
Berbagai tumbuhan dan hewan endemik menyebar di berbagai pulau di Indonesia.
Ini semua menjadi bukti betapa kayanya Indonesia, termasuk dengan hadirnya
ekosistem gambut.
Bayangin
saja coba, data menunjukkan bahwa Indonesia memiliki ekosistem gambut tropis
terbesar di dunia loh. Angkanya nggak tanggung-tanggung, sebesar 24,2 juta
hektar yang tersebar di pulau Sumatera, Kalimantan dan Papua.
“Ekosistem gambut merupakan lahan basah yang terbentuk dari akumulasi organik dan menyimpan karbon dengan jumlah yang sangat besar dalam meregulasi iklim.”
Ekosistem
gambut yang basah merupakan spons terbaik, tetapi rusak hanya dengan proses
kanalisasi hutan gambut. Iya, kalian tidak salah baca, kanalisasi hutan gambut.
Melalui
proses kanalisasi ini, gambut yang awalnya terendam air lama-kelamaan menjadi
kering dan mengalami proses degradasi. Dan parahnya, gambut yang terdegradasi
akibat perubahan hidrologi ini tidak bisa kembali seperti semula. Struktur
tanahnya berubah dan perlahan Cadangan karbon terlepas ke atmosfer.
Data
menunjukkan bahwa total panjang kanal di Indonesia adalah 281.253,51 km yang
setara dengan 120 kali bolak-balik tol trans jawa. Nah, dari total 24,2 juta ha
Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) ternyata sebesar 16,4 juta ha sangat rawan dan
rentan mengalami kebakaran Tingkat tinggi hingga sedang. Dan ini lah yang
terjadi saat ini.
Salah
satu indikator nyata terjadinya kebakaran lahan gambut adalah asap muncul
terus-menerus meskipun bagian permukaan sudah tidak tampak apinya. Hal ini
dikarenakan bara api yang ada bertahan jauh di bawah tanah di lapisan gambut
dalam kurun waktu yang lama. Dampaknya, asap terus menerus dihasilkan dan
langit menjadi mirip planet “mars”.
Biodiversitas yang Terancam
Melalui
proses kanalisasi KHG yang berlebihan, bukan hanya mengganggu ekosistem hutan
gambut tetapi mengancam biodiversitas lainnya. Hal ini karena membangkitkan
“monster” bernama pirit.
Saat
hutan gambut masih terendam air, pirit yang ada di dalamnya tidak akan
memberikan dampak negatif ke lingkungannya. Tapi saat proses kanalisasi
dilakukan sehingga menyebabkan gambut menjadi kering, maka lama-kelamaan
mineral pirit ini akan bersentuhan langsung dengan oksigen. Proses ini akan
menyebabkan reaksi oksidasi menghasilkan asam sulfat dan asam sulfida. Bisa
dibayangkan, saat tanah mengandung asam pekat dengan pH 2-3 maka bahayanya
bukan main-main lagi.
Tanah
asam ini akan ikut larut melalui kanal dan bergabung dengan sungai besar
lainnya. Dampak buruknya adalah, semua area yang dilewati oleh tanah asam ini
baik tanaman maupun hewan bisa keracunan dan lama-kelamaan akan mengganggu
biodiversitas.
Biodiversitas merupakan keanekaragaman bentuk kehidupan yang mencakup seluruh makhluk hidup mulai dari mikroorganisme, tumbuhan, hewan, hingga manusia, serta interaksi di antara mereka dan lingkungan tempat tinggalnya.
Proses
kanalisasi ini membuat keanekaragaman hayati yang dulunya beragam kini berubah
menjadi monokultur yaitu sawit. Makanya sudah menjadi rahasia umum, bahwa di
setiap area kanalisasi selalu saja ada pohon sawit yang tumbuh dan merusak
keanekaragaman hayati lainnya.
Bersuara Melalui Pangan Lokal yaitu Sagu
Salah
satu cara dalam mencegah hidrolisis lahan gambut adalah dengan mengembalikan
gambut ke posisi semual sebagai spons raksasa dan menanam sagu yang kemudian
dimanfaatkan sebagai bahan pangan lokal.
Saat ini,
tanaman sagu tumbuh subur di lahan basah tanpa perlu mengeringkan gambut.
Artinya, air tetap terjaga, bahaya pirit bisa dicegah, dan kebakaran hutan bisa
dihindari. Hebatnya lagi, sagu bukan cuma penjaga iklim dan biodiversitas, tapi
juga sumber karbohidrat masa depan yang bergizi tinggi untuk ketahanan pangan
masyarakat.
Dari segi
nutrisi, sagu mengandung karbohidrat murni, beberapa kandungan vitamin dan
mineral serta sangat sedikit mengandung lemak jenuh. Makanya tidak heran, jika
sagu bisa dimanfaatkan sebagai bahan pangan dalam memenuhi makronutrien yang
dibutuhkan tubuh untuk bahan energi.
Nah, menariknya lagi di beberapa pulau di Indonesia seperti Sulawesi, Maluku, Papua sudah sejak dulu memanfaatkan sagu sebagai bahan pangan lokal sehari-hari. Sebagai orang yang tumbuh dan besar di Sulawesi, berikut dua contoh produk olahan sagu yang dijadikan makanan sehari-hari.
Kapurung
Bagi sebagian masyarakat, kata “kapurung” mungkin terdengar asing. Masyarakat lebih
familiar dengan “papeda” yang berasal dari papua. Tetapi sebenarnya, jenis
makanan ini identik. Kapurung sendiri merupakan salah satu jenis makanan
berbahan dasar sagu. Cara buatnya pun sederhana. Sagu yang sudah dikeringkan
dan diayak menjadi lebih halus kemudian disiram dengan air mendidih sedikit
demi sedikit sambil diaduk perlahan-lahan.
Selama
proses penuangan air panas ini, maka pengadukan pun harus terus berlanjut
hingga diperoleh adonan “kapurung” yang menyerupai jelly berwarna abu-abu.
Perubahan bentuk dari serbuk sagu menjadi jelly inilah yang disebut “kapurung”.
Setelah adonan ini siap, kemudian dengan menggunakan batang lidi, adonan
diambil sedikit demi sedikit dan dibentuk menyerupai jelly bulat kecil dan
dicampurkan ke dalam kuah gurih. Umumnya kuah gurih ini berasal dari kuah ikan
dan sayur yang sudah disiapkan sebelumnya.
Cara makannya pun sederhana. Setiap jelly bulat kecil dicampurkan dengan kuah gurih kemudian langsung ditelan. Ingat, menikmati kapurung itu dengan cara langsung ditelan bukan digigit. Karena ketika digigit, maka jelly bulat kecil tersebut akan terasa lengket di sela-sela gigi. Seporsi “kapurung” biasanya dinikmati dengan lauk ikan dan sayur.
Dange
Jika
“kapurung” adalah panganan olahan sagu yang berbentuk jelly, maka dange adalah
olahan lain yang bentuknya menyerupai lembaran persegipanjang dengan ketebalan
tertentu. Proses pembuatannya dimulai dari serbuk sagu yang sudah dikeringkan
dan diayak, kemudian dimasukkan ke dalam “dangeang” yang merupakan alat
pencetak dange.
Dangeang
yang sudah berisi serbuk sagu selanjutnya di bakar di atas bara api yang
menyala sampai diperoleh dange yang membentuk lembaran persegi panjang berwarna
putih. Lembaran inilah yang kemudian digunakan sebagai bahan pangan dari sagu.
Cara menikmati santapan dange sedikit unik. Selembar dange direndam ke dalam kuah gurih (biasanya kuah ikan atau sayur) kemudian dipotong sesuai selera dan ditambahkan sayur dan ikan di atas potongan dange tersebut baru kemudian dinikmati.
Sensasi
gurih dan tekstur padat berpasir akan terasa di dalam mulut dalam setiap
gigitan. Jika “kapurung” dinikmati tanpa digigit, sebaliknya “dange” dinikmati
dengan cara digigit dan dikunyah terlebih dahulu.
Berharap,
melalui pangan lokal dari sagu ini bisa menjadi salah satu bentuk mitigasi dan
adaptasi dari krisis iklim. Sekaligus sebagai bentuk meningkatkan kesadaran
masyarakat akan keberagaman pangan lokal. Bukan hanya mengandalkan beras dan
gandum saja. Yuk dimulai dan dipertahankan.





comment 0 komentar
more_vert