MASIGNASUKAv102
1508570391356967755

Mempertahankan Tanaman “Pahlawan” Sagu Demi Biodiversitas Pangan di Tengah Gempuran Kanalisasi

Mempertahankan Tanaman “Pahlawan” Sagu Demi Biodiversitas Pangan di Tengah Gempuran Kanalisasi
Add Comments
20 October 2026

Adakah yang lebih menyedihkan, saat membuka jendela asap dimana-mana. Langit tak biru lagi. Kobaran api membakar hutan dan ladang. Berbagai penyakit ISPA menyerang warga yang rentan. Dan ini berlangsung lama, bukan hitungan hari tapi sudah mencapai hitungan bulan. Miris, tapi tak berdaya.

Kebakaran hutan dan lahan

Para relawan pemadam kebakaran hutan dan lahan pun sudah berjibaku berbulan-bulan, tapi hasilnya silih berganti. Memadamkan api di titik satu, eh titik lainnya ikut terbakar. Menyiram air di permukaan, eh ternyata bara apinya masih ada di bawah lapisan tanah. Begini lah jika tanah gambut kering yang terbakar.

Mungkin masih banyak yang belum tahu kalau ternyata asap yang membuat langit kita mirip planet mars itu karena lahan gambut kering yang terbakar. Itu semua berawal dari proses kanalisasi hutan gambut.

Membangunkan Penyebab Karhutla Bernama Kanalisasi

Kekayaan alam dan biodiversitas Indonesia sebenarnya tidak perlu diragukan lagi. Berbagai tumbuhan dan hewan endemik menyebar di berbagai pulau di Indonesia. Ini semua menjadi bukti betapa kayanya Indonesia, termasuk dengan hadirnya ekosistem gambut.

Bayangin saja coba, data menunjukkan bahwa Indonesia memiliki ekosistem gambut tropis terbesar di dunia loh. Angkanya nggak tanggung-tanggung, sebesar 24,2 juta hektar yang tersebar di pulau Sumatera, Kalimantan dan Papua.

“Ekosistem gambut merupakan lahan basah yang terbentuk dari akumulasi organik dan menyimpan karbon dengan jumlah yang sangat besar dalam meregulasi iklim.”

Ekosistem gambut yang basah merupakan spons terbaik, tetapi rusak hanya dengan proses kanalisasi hutan gambut. Iya, kalian tidak salah baca, kanalisasi hutan gambut.

Melalui proses kanalisasi ini, gambut yang awalnya terendam air lama-kelamaan menjadi kering dan mengalami proses degradasi. Dan parahnya, gambut yang terdegradasi akibat perubahan hidrologi ini tidak bisa kembali seperti semula. Struktur tanahnya berubah dan perlahan Cadangan karbon terlepas ke atmosfer.

Kanalisasi

Data menunjukkan bahwa total panjang kanal di Indonesia adalah 281.253,51 km yang setara dengan 120 kali bolak-balik tol trans jawa. Nah, dari total 24,2 juta ha Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) ternyata sebesar 16,4 juta ha sangat rawan dan rentan mengalami kebakaran Tingkat tinggi hingga sedang. Dan ini lah yang terjadi saat ini.

Salah satu indikator nyata terjadinya kebakaran lahan gambut adalah asap muncul terus-menerus meskipun bagian permukaan sudah tidak tampak apinya. Hal ini dikarenakan bara api yang ada bertahan jauh di bawah tanah di lapisan gambut dalam kurun waktu yang lama. Dampaknya, asap terus menerus dihasilkan dan langit menjadi mirip planet “mars”.

Biodiversitas yang Terancam

Melalui proses kanalisasi KHG yang berlebihan, bukan hanya mengganggu ekosistem hutan gambut tetapi mengancam biodiversitas lainnya. Hal ini karena membangkitkan “monster” bernama pirit.

Saat hutan gambut masih terendam air, pirit yang ada di dalamnya tidak akan memberikan dampak negatif ke lingkungannya. Tapi saat proses kanalisasi dilakukan sehingga menyebabkan gambut menjadi kering, maka lama-kelamaan mineral pirit ini akan bersentuhan langsung dengan oksigen. Proses ini akan menyebabkan reaksi oksidasi menghasilkan asam sulfat dan asam sulfida. Bisa dibayangkan, saat tanah mengandung asam pekat dengan pH 2-3 maka bahayanya bukan main-main lagi.

Tanah asam ini akan ikut larut melalui kanal dan bergabung dengan sungai besar lainnya. Dampak buruknya adalah, semua area yang dilewati oleh tanah asam ini baik tanaman maupun hewan bisa keracunan dan lama-kelamaan akan mengganggu biodiversitas.

Biodiversitas merupakan keanekaragaman bentuk kehidupan yang mencakup seluruh makhluk hidup mulai dari mikroorganisme, tumbuhan, hewan, hingga manusia, serta interaksi di antara mereka dan lingkungan tempat tinggalnya.

Proses kanalisasi ini membuat keanekaragaman hayati yang dulunya beragam kini berubah menjadi monokultur yaitu sawit. Makanya sudah menjadi rahasia umum, bahwa di setiap area kanalisasi selalu saja ada pohon sawit yang tumbuh dan merusak keanekaragaman hayati lainnya.

Bersuara Melalui Pangan Lokal yaitu Sagu

Salah satu cara dalam mencegah hidrolisis lahan gambut adalah dengan mengembalikan gambut ke posisi semual sebagai spons raksasa dan menanam sagu yang kemudian dimanfaatkan sebagai bahan pangan lokal.

Saat ini, tanaman sagu tumbuh subur di lahan basah tanpa perlu mengeringkan gambut. Artinya, air tetap terjaga, bahaya pirit bisa dicegah, dan kebakaran hutan bisa dihindari. Hebatnya lagi, sagu bukan cuma penjaga iklim dan biodiversitas, tapi juga sumber karbohidrat masa depan yang bergizi tinggi untuk ketahanan pangan masyarakat.

Dari segi nutrisi, sagu mengandung karbohidrat murni, beberapa kandungan vitamin dan mineral serta sangat sedikit mengandung lemak jenuh. Makanya tidak heran, jika sagu bisa dimanfaatkan sebagai bahan pangan dalam memenuhi makronutrien yang dibutuhkan tubuh untuk bahan energi.

Kandungan Nutrisi Sagu
Nah, menariknya lagi di beberapa pulau di Indonesia seperti Sulawesi, Maluku, Papua sudah sejak dulu memanfaatkan sagu sebagai bahan pangan lokal sehari-hari. Sebagai orang yang tumbuh dan besar di Sulawesi, berikut dua contoh produk olahan sagu yang dijadikan makanan sehari-hari.

Kapurung

Bagi sebagian masyarakat, kata “kapurung” mungkin terdengar asing. Masyarakat lebih familiar dengan “papeda” yang berasal dari papua. Tetapi sebenarnya, jenis makanan ini identik. Kapurung sendiri merupakan salah satu jenis makanan berbahan dasar sagu. Cara buatnya pun sederhana. Sagu yang sudah dikeringkan dan diayak menjadi lebih halus kemudian disiram dengan air mendidih sedikit demi sedikit sambil diaduk perlahan-lahan.

Selama proses penuangan air panas ini, maka pengadukan pun harus terus berlanjut hingga diperoleh adonan “kapurung” yang menyerupai jelly berwarna abu-abu. Perubahan bentuk dari serbuk sagu menjadi jelly inilah yang disebut “kapurung”. Setelah adonan ini siap, kemudian dengan menggunakan batang lidi, adonan diambil sedikit demi sedikit dan dibentuk menyerupai jelly bulat kecil dan dicampurkan ke dalam kuah gurih. Umumnya kuah gurih ini berasal dari kuah ikan dan sayur yang sudah disiapkan sebelumnya.

Kapurung
Cara makannya pun sederhana. Setiap jelly bulat kecil dicampurkan dengan kuah gurih kemudian langsung ditelan. Ingat, menikmati kapurung itu dengan cara langsung ditelan bukan digigit. Karena ketika digigit, maka jelly bulat kecil tersebut akan terasa lengket di sela-sela gigi. Seporsi “kapurung” biasanya dinikmati dengan lauk ikan dan sayur.

Dange

Jika “kapurung” adalah panganan olahan sagu yang berbentuk jelly, maka dange adalah olahan lain yang bentuknya menyerupai lembaran persegipanjang dengan ketebalan tertentu. Proses pembuatannya dimulai dari serbuk sagu yang sudah dikeringkan dan diayak, kemudian dimasukkan ke dalam “dangeang” yang merupakan alat pencetak dange.

Dangeang yang sudah berisi serbuk sagu selanjutnya di bakar di atas bara api yang menyala sampai diperoleh dange yang membentuk lembaran persegi panjang berwarna putih. Lembaran inilah yang kemudian digunakan sebagai bahan pangan dari sagu.

Dange
Cara menikmati santapan dange sedikit unik. Selembar dange direndam ke dalam kuah gurih (biasanya kuah ikan atau sayur) kemudian dipotong sesuai selera dan ditambahkan sayur dan ikan di atas potongan dange tersebut baru kemudian dinikmati.

Sensasi gurih dan tekstur padat berpasir akan terasa di dalam mulut dalam setiap gigitan. Jika “kapurung” dinikmati tanpa digigit, sebaliknya “dange” dinikmati dengan cara digigit dan dikunyah terlebih dahulu.

Berharap, melalui pangan lokal dari sagu ini bisa menjadi salah satu bentuk mitigasi dan adaptasi dari krisis iklim. Sekaligus sebagai bentuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan keberagaman pangan lokal. Bukan hanya mengandalkan beras dan gandum saja. Yuk dimulai dan dipertahankan.


Talif

Saat ini selain sebagai blogger juga bekerja sebagai technical team khususnya dalam dunia kimia perminyakan.