Adakah yang lebih menyedihkan saat melihat di depan mata, keluarga tersayang meninggal dunia tanpa bisa berbuat apa-apa? Padahal 6 bulan sebelumnya, keluarga tampak sehat saja “hanya” memiliki “batuk” biasa yang tidak sembuh-sembuh. Hingga akhirnya, memeriksakan diri ke rumah sakit dan didiagnosa mengidap TB. Iya, TB alias Tuberkulosis. Penyakit yang memiliki kemampuan penularan ganas, tanpa pandang bulu, umur dan jenis kelamin. Semuanya bisa mengidap.
Dan kini, penyesalan demi penyesalan
menghantui keluarga. Kenapa tidak sedari dulu melakukan pemeriksaan. Padahal
jika terdeteksi sejak dini, bukan tidak mungkin TB bisa sembuh dengan
pengobatan rutin. Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Keluarga tersayang pergi
selamanya tanpa bisa kembali lagi.
Mengenal TB Lebih Dekat
Diantara kita, siapa sih yang tidak
pernah batuk? Salah satu tanda yang sering diamati bagi penderita TB adalah
batuk berkepanjangan. Makanya tidak heran jika batuk disepadankan dengan TB.
Padahal TB sendiri merupakan penyakit
infeksi kronis menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis.
Umumnya organ yang diserang adalah paru-paru, tulang belakang, kelenjar getah
bening, otak, ginjal dan kulit.
Sebagai penyakit menular, droplet
dari penderita TB aktif bisa menularkan 10-14 orang di sekitarnya. Kebayang
kan, bagaimana TB ini bisa menjalar dari satu orang dalam keluarga ke anggota
keluarga lainnya. Serta jika tidak terlacak, maka bisa jadi satu keluarga
tertular tanpa disadari.
Maka dari itu, edukasi terkait gejala
yang muncul harus diketahui oleh setiap orang. Seperti batuk lebih dari 3
minggu yang terkadang disertai darah menjadi salah satu gejala awal seseorang
menderita TB. Tetapi tidak semua penderita TB bakal menunjukkan gejala
tersebut. Terkadang gejalanya berupa sesak napas disertai nyeri dada, demam
terus menerus, penurunan berat badan yang drastis hingga berkeringat berlebih
saat malam hari. Maka dari itu, penting sekali untuk mengetahui dan menegakkan
diagnosis yang tepat melalui proses skrining baru kemudian lanjut untuk tes
dahak (TCM/ tes cepat molekuler) dan atau tes Mantoux.
Saat Indonesia Naik Peringkat
Urusan kasus TB di Indonesia bukan
hal sepele lagi, tetapi butuh perhatian khusus. Bayangin saja coba, pada tahun
2019 kasus TB di Indonesia sekitar 845.000 kasus dan menempati peringkat 5
sebagai negara dengan tingkat penderita TB terbanyak di dunia.
Berselang 5 tahun kemudian, melalui
Global Tuberculosis Report tahun 2024, Indonesia naik peringkat ke arah yang
lebih mengerikan yaitu peringkat 2 kasus penderita TB dengan estimasi penderita
sebesar 1.092.000. Sebuah angka yang fantastis dan sekaligus menimbulkan
kegelisahan akan penyebaran TB yang masif tanpa disadari. Menariknya lagi,
berdasarkan data olah Kemenkes final per 17 Maret 2025 kasus TBC terbanyak
berada dalam usia produktif dan lansia.
Jika hal ini dibiarkan terus menerus,
maka 5-10 tahun ke depan, populasi usia produktif Indonesia akan menurun
drastis. Dampaknya pasti mempengaruhi semua sektor, bukan hanya kesehatan,
tetapi juga sektor ekonomi, sosial dan pendidikan. Padahal Indonesia sendiri
menargetkan eliminasi TB tahun 2030.
Meningkatnya peringkat Indonesia
sebagai peringkat kedua kasus TB tertinggi di dunia ternyata menyimpan satu
kendala utama. Bukan dalam hal pengobatan dan penanganan para penderita TB
tetapi ternyata proses skrining TB yang telat dan belum terorganisir dengan
baik.
Dari estimasi 1.092.000 kasus TB
hanya 78 % yang berhasil teridentifikasi, sisanya sebanyak 22 % belum terdata
dan angka ini bisa membludak suatu saat layaknya bom waktu yang akan meledak
dan menimbulkan angka kasus TB meningkat drastis. Alih-alih eliminasi TB, yang
ada malah peningkatan kasus TB.
ReDa-TB (Relawan Muda-TB): Sebuah Konsep Skrining TB berbasis Keluarga
Fakta mengejutkan terkait penanganan
TB bukan dari pengobatannya tetapi dari proses skrining. Bayangin saja coba
dalam satu keluarga yang setiap hari bertemu pastinya tahu akan kondisi anggota
keluarga lainnya. Nah dari sinilah, konsep penerapan Relawan Muda TB alias
ReDa-TB bisa masuk sebagai relawan di keluarga sendiri yang pastinya peduli
akan kondisi dan kesehatan keluarganya.
Konsep dasarnya sederhana, para
ReDa-TB akan dibekali pengetahuan mendasar terkait bahaya TB dan proses
skrining anggota keluarga berbasis teknologi digital. Proses skrining ini bisa
dilakukan kapan saja dengan mengisi formulir digital pertanyaan dasar ‘skrining’
TB. Selain itu, ReDa-TB bukan hanya bertugas sebagai fasilitator skrining TB,
tetapi juga memantau perkembangan anggota keluarga lainnya selama berinteraksi.
ReDa-TB adalah relawan muda yang berasal dari anggota keluarga yang sudah dibekali pengetahuan terkait penanganan tuberkulosis dan berfungsi untuk membantu proses skrining, pemantauan dan penuntasan pengobatan jika ada anggota keluarga yang terkena TB.
Penting untuk diperhatikan adalah
pemilihan anggota keluarga yang akan menjalankan fungsi sebagai ReDa-TB. Dari
segi usia, minimal anggota keluarga tersebut berada pada level remaja hingga
usia produktif yang melek akan teknologi digital. Syarat ini mutlak untuk
mempercepat proses skrining berjalan sesuai dengan hasil yang diharapkan.
Peran ReDa-TB Memutuskan Rantai Tuberkulosis
Sebagai relawan berbasis keluarga,
kehadiran ReDa-TB sangat penting dan vital di fase skrining, pemantauan dan
penuntasan pengobatan. Tetapi sebelum jauh ke hal tersebut, ReDa-TB berfokus
pada proses skrining yang cepat dan tepat untuk menutup gap 22 % kasus TB yang
belum terdata berdasarkan angka 1.092.000 kasus TB.
Semakin banyak yang tergabung dalam
ReDa-TB maka semakin banyak pula data skrining yang didapatkan sehingga
pemantauan dan penanganan pada level terendah di lingkungan keluarga bisa
berjalan dengan baik. Dalam proses penerapannya nanti, tahapan skrining bisa
menggunakan formulir digital dengan pangkalan data berada di Kemenkes seperti
yang sudah dilakukan oleh Kemnaker dalam penerapan Permenaker No 13 tahun
2022.
Hasil dari pengisian formulir digital
ini selanjutnya diintegrasikan dengan sistem yang ada di Kemenkes untuk
kemudian diolah, apakah setiap data yang diterima masuk dalam kategori “Terduga
TB” atau tidak. Semakin banyak partisipasi maka semakin cepat pula penanganan
TB bagi mereka yang mendapatkan status “terduga” TB.
Tidak hanya berhenti pada level
skrining saja, ReDa-TB juga menjalankan fungsi berikutnya sebagai pemantau
pengobatan hingga tuntas bagi anggota keluarga yang butuh penanganan.
Keterlibatan ReDa-TB yang berasal dari anggota keluarga sendiri akan mempermudah
penanganan karena adanya keterikatan kasih sayang di dalamnya. Masing-masing
anggota keluarga pastinya lebih peduli akan kesembuhan anggota keluarganya jika
ada yang mengidap TB.
Melalui konsep sederhana, Relawan
Muda TB (ReDa-TB) diharapkan bisa mempercepat dan melacak kasus TB dari level
terendah yaitu keluarga. Dan berharap bahwa stop tuberkulosis tahun 2030
tercapai. Indonesia sehat lebih produktif.
#MasyarakatSehatIndonesiaKuat
#LombaKesehatanKomdigi2026
#HUT81RI
comment 0 komentar
more_vert