MASIGNASUKAv102
1508570391356967755

ReDa-TB: Relawan Muda Pemutus Mata Rantai Tuberkulosis dari Rumah

ReDa-TB: Relawan Muda Pemutus Mata Rantai Tuberkulosis dari Rumah
Add Comments
21 August 2026

Adakah yang lebih menyedihkan saat melihat di depan mata, keluarga tersayang meninggal dunia tanpa bisa berbuat apa-apa? Padahal 6 bulan sebelumnya, keluarga tampak sehat saja “hanya” memiliki “batuk” biasa yang tidak sembuh-sembuh. Hingga akhirnya, memeriksakan diri ke rumah sakit dan didiagnosa mengidap TB. Iya, TB alias Tuberkulosis. Penyakit yang memiliki kemampuan penularan ganas, tanpa pandang bulu, umur dan jenis kelamin. Semuanya bisa mengidap.

Tuberkulosis

Dan kini, penyesalan demi penyesalan menghantui keluarga. Kenapa tidak sedari dulu melakukan pemeriksaan. Padahal jika terdeteksi sejak dini, bukan tidak mungkin TB bisa sembuh dengan pengobatan rutin. Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Keluarga tersayang pergi selamanya tanpa bisa kembali lagi.

Mengenal TB Lebih Dekat

Diantara kita, siapa sih yang tidak pernah batuk? Salah satu tanda yang sering diamati bagi penderita TB adalah batuk berkepanjangan. Makanya tidak heran jika batuk disepadankan dengan TB.

Padahal TB sendiri merupakan penyakit infeksi kronis menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis. Umumnya organ yang diserang adalah paru-paru, tulang belakang, kelenjar getah bening, otak, ginjal dan kulit.

Sebagai penyakit menular, droplet dari penderita TB aktif bisa menularkan 10-14 orang di sekitarnya. Kebayang kan, bagaimana TB ini bisa menjalar dari satu orang dalam keluarga ke anggota keluarga lainnya. Serta jika tidak terlacak, maka bisa jadi satu keluarga tertular tanpa disadari.

Simulasi penularan TB

Maka dari itu, edukasi terkait gejala yang muncul harus diketahui oleh setiap orang. Seperti batuk lebih dari 3 minggu yang terkadang disertai darah menjadi salah satu gejala awal seseorang menderita TB. Tetapi tidak semua penderita TB bakal menunjukkan gejala tersebut. Terkadang gejalanya berupa sesak napas disertai nyeri dada, demam terus menerus, penurunan berat badan yang drastis hingga berkeringat berlebih saat malam hari. Maka dari itu, penting sekali untuk mengetahui dan menegakkan diagnosis yang tepat melalui proses skrining baru kemudian lanjut untuk tes dahak (TCM/ tes cepat molekuler) dan atau tes Mantoux.

Saat Indonesia Naik Peringkat

Urusan kasus TB di Indonesia bukan hal sepele lagi, tetapi butuh perhatian khusus. Bayangin saja coba, pada tahun 2019 kasus TB di Indonesia sekitar 845.000 kasus dan menempati peringkat 5 sebagai negara dengan tingkat penderita TB terbanyak di dunia.

Berselang 5 tahun kemudian, melalui Global Tuberculosis Report tahun 2024, Indonesia naik peringkat ke arah yang lebih mengerikan yaitu peringkat 2 kasus penderita TB dengan estimasi penderita sebesar 1.092.000. Sebuah angka yang fantastis dan sekaligus menimbulkan kegelisahan akan penyebaran TB yang masif tanpa disadari. Menariknya lagi, berdasarkan data olah Kemenkes final per 17 Maret 2025 kasus TBC terbanyak berada dalam usia produktif dan lansia.

Jika hal ini dibiarkan terus menerus, maka 5-10 tahun ke depan, populasi usia produktif Indonesia akan menurun drastis. Dampaknya pasti mempengaruhi semua sektor, bukan hanya kesehatan, tetapi juga sektor ekonomi, sosial dan pendidikan. Padahal Indonesia sendiri menargetkan eliminasi TB tahun 2030.

Meningkatnya peringkat Indonesia sebagai peringkat kedua kasus TB tertinggi di dunia ternyata menyimpan satu kendala utama. Bukan dalam hal pengobatan dan penanganan para penderita TB tetapi ternyata proses skrining TB yang telat dan belum terorganisir dengan baik. 

Dari estimasi 1.092.000 kasus TB hanya 78 % yang berhasil teridentifikasi, sisanya sebanyak 22 % belum terdata dan angka ini bisa membludak suatu saat layaknya bom waktu yang akan meledak dan menimbulkan angka kasus TB meningkat drastis. Alih-alih eliminasi TB, yang ada malah peningkatan kasus TB.

ReDa-TB (Relawan Muda-TB): Sebuah Konsep Skrining TB berbasis Keluarga

Fakta mengejutkan terkait penanganan TB bukan dari pengobatannya tetapi dari proses skrining. Bayangin saja coba dalam satu keluarga yang setiap hari bertemu pastinya tahu akan kondisi anggota keluarga lainnya. Nah dari sinilah, konsep penerapan Relawan Muda TB alias ReDa-TB bisa masuk sebagai relawan di keluarga sendiri yang pastinya peduli akan kondisi dan kesehatan keluarganya.

Konsep dasarnya sederhana, para ReDa-TB akan dibekali pengetahuan mendasar terkait bahaya TB dan proses skrining anggota keluarga berbasis teknologi digital. Proses skrining ini bisa dilakukan kapan saja dengan mengisi formulir digital pertanyaan dasar ‘skrining’ TB. Selain itu, ReDa-TB bukan hanya bertugas sebagai fasilitator skrining TB, tetapi juga memantau perkembangan anggota keluarga lainnya selama berinteraksi.

ReDa-TB adalah relawan muda yang berasal dari anggota keluarga yang sudah dibekali pengetahuan terkait penanganan tuberkulosis dan berfungsi untuk membantu proses skrining, pemantauan dan penuntasan pengobatan jika ada anggota keluarga yang terkena TB.

Penting untuk diperhatikan adalah pemilihan anggota keluarga yang akan menjalankan fungsi sebagai ReDa-TB. Dari segi usia, minimal anggota keluarga tersebut berada pada level remaja hingga usia produktif yang melek akan teknologi digital. Syarat ini mutlak untuk mempercepat proses skrining berjalan sesuai dengan hasil yang diharapkan.

Konsep dasar relawan muda TB

Peran ReDa-TB Memutuskan Rantai Tuberkulosis

Sebagai relawan berbasis keluarga, kehadiran ReDa-TB sangat penting dan vital di fase skrining, pemantauan dan penuntasan pengobatan. Tetapi sebelum jauh ke hal tersebut, ReDa-TB berfokus pada proses skrining yang cepat dan tepat untuk menutup gap 22 % kasus TB yang belum terdata berdasarkan angka 1.092.000 kasus TB.

Semakin banyak yang tergabung dalam ReDa-TB maka semakin banyak pula data skrining yang didapatkan sehingga pemantauan dan penanganan pada level terendah di lingkungan keluarga bisa berjalan dengan baik. Dalam proses penerapannya nanti, tahapan skrining bisa menggunakan formulir digital dengan pangkalan data berada di Kemenkes seperti yang sudah dilakukan oleh Kemnaker dalam penerapan Permenaker No 13 tahun 2022. 

Proses skrining Relawan Muda TB

Hasil dari pengisian formulir digital ini selanjutnya diintegrasikan dengan sistem yang ada di Kemenkes untuk kemudian diolah, apakah setiap data yang diterima masuk dalam kategori “Terduga TB” atau tidak. Semakin banyak partisipasi maka semakin cepat pula penanganan TB bagi mereka yang mendapatkan status “terduga” TB.

Tidak hanya berhenti pada level skrining saja, ReDa-TB juga menjalankan fungsi berikutnya sebagai pemantau pengobatan hingga tuntas bagi anggota keluarga yang butuh penanganan. Keterlibatan ReDa-TB yang berasal dari anggota keluarga sendiri akan mempermudah penanganan karena adanya keterikatan kasih sayang di dalamnya. Masing-masing anggota keluarga pastinya lebih peduli akan kesembuhan anggota keluarganya jika ada yang mengidap TB.

Melalui konsep sederhana, Relawan Muda TB (ReDa-TB) diharapkan bisa mempercepat dan melacak kasus TB dari level terendah yaitu keluarga. Dan berharap bahwa stop tuberkulosis tahun 2030 tercapai. Indonesia sehat lebih produktif.


#MasyarakatSehatIndonesiaKuat

#LombaKesehatanKomdigi2026

#HUT81RI

 

Talif

Saat ini selain sebagai blogger juga bekerja sebagai technical team khususnya dalam dunia kimia perminyakan.