MASIGNASUKAv102
1508570391356967755

UMKM Maju Bersama Teknologi AI Credit Scoring

UMKM Maju Bersama Teknologi AI Credit Scoring
Add Comments
19 July 2023

Tak ada yang menyangka, kala sebidang tanah berbentuk bukit seluas 2 hektar dibeli seharga 10 juta di tahun 2010 akan membuka lapangan kerja kelak.

UMKM Maju Bersama Teknologi

Bahkan pembelian tanah ini malah mendapatkan perundungan dari tetangganya, “kenapa sih beli tanah tandus yang nggak bisa diolah menjadi kebun tersebut?”

Namanya mas Agung, warga Talang Ubi Kabupaten PALI, bersama dengan ayahnya mulai merintis usaha kecil pembuatan batu bata dari tanah liat sekitar tahun 2014, empat tahun setelah pembelian tanah tersebut. Beberapa kali gagal dalam proses menentukan formula batu bata dari tanah miliknya, karena bagian atas dari tanah tersebut masih banyak mengandung unsur tanah yang berwarna putih sehingga formula adonan tanah tidak sesuai untuk pembuatan batu bata merah.

Tahapan mempelajari formula dan cetakan batu bata menjadi tantangan tersendiri. Kala itu, di PALI sendiri hanya ada 1 atau 2 usaha batu bata saja. Makanya semangat untuk memulai bisnis ini pun, dijalankan secara diam-diam tanpa sepengetahuan tetangga.

Sebuah Proses Panjang

Berbagai formula adonan tanah dari hari ke hari, minggu ke minggu terus dilakukan. Tetapi memang sulitnya mendapatkan formula adalah tantangan besar. Karena tahapan awal dari pembuatan batu bata merah terletak di adonan tanahnya.

Hingga akhirnya setelah berdiskusi dengan salah satu pengusaha batu bata di desa seberang. Pengusaha ini menyarankan untuk menggunakan bagian tanah yang berada di bawah permukaan alias area yang tidak ditumbuhi rumput.

Berbekal alat gali seadanya, mas Agung dan ayahnya pun menjalankan saran tersebut. Dengan kedalaman galian sekitar 1 meter, ditemukan tanah liat merah tanpa campuran tanah berwarna putih. Surprise sekaligus bersyukur. Ini lah jenis tanah yang diharapkan.

Tumpukan Tanah Liat
Tanah yang dibeli berlatar batu bata yang sudah dicetak (sumber: dokumen pribadi)

Seperti biasa, proses selanjutnya adalah pembuatan adonan batu bata dan pencetakan. Pada tahapan ini, semuanya berjalan mulus. Proses pengeringan dan pembakaran juga tidak mengalami hambatan signifikan. Sampai batu bata merah jadi.

Modal Bisnis dari Tabungan dan Patungan Keluarga

Keberhasilan mendapatkan formula adonan yang tepat membuka peluang bisnis batu bata ini untuk segera dibuka. Beberapa peralatan awal yang dibutuhkan adalah mesin cetak batu bata, alat gali, troli, area penjemuran dan pembakaran mulai dipersiapkan.

Segala persiapan ini benar-benar menguras tabungan mas Agung dan keluarga. Berbagai upaya peminjaman ke bank juga tidak mendapatkan hasil, karena kala itu mas Agung hanyalah pegawai outsourcing sehingga tingkat kepercayaan Bank sangat rendah. Bisa dikatakan, Credit Score yang entah darimana dan bagaimana cara hitungnya benar-benar rendah.

Tetapi mas Agung dan keluarga tidak patah semangat. Semua diurus secara bertahap sesuai kemampuan. Untuk tenaga kerja, menggunakan warga sekitar rumah yang bersedia dibayar mingguan berdasarkan jumlah produksi batu bata harian. Dibayar per minggu karena, dari proses cetak, pengurangan kadar air, pembakaran hingga penjualan memakan waktu sekitar seminggu. Bahkan jika kurang peminat karena belum diketahui, maka proses ini bisa berjalan sekitar 10 hingga 14 hari.

Dari Tanah Menjadi Sumber Utama Penghasilan

Seiring berjalannya waktu, jumlah bata yang diproduksi pun meningkat. Awalnya hanya bisa 500 bata basah per hari, kini sudah mencapai 5000 bata basah per hari.

Proses cetak batu bata
Proses cetak batu bata berongga (sumber: dokumen pribadi)

Tenaga kerja juga bertambah dan menariknya mas Agung sudah terbiasa mempekerjakan tenaga kerja musafir yang hanya sekadar mampir dan menetap sementara sebelum melanjutkan perjalanan ke daerah tujuan.

Karena bagi mas Agung, membantu sesama yang membutuhkan adalah cara dia berbagi rezeki atas tanah yang dibeli tahun 2010 silam.

Dari tanah tersebut juga sudah bisa membangun rumah mas Agung yang awalnya tinggal sama orang tua. Rumah mas Agung dibangun tepat di samping “Bangsal” sebutan untuk lokasi kerja pembuatan batu bata.

Upaya Meningkatkan Produksi Batu Bata

Keberhasilan Bangsal sebagai lokasi pembuatan batu bata sudah mulai dikenal oleh warga Pendopo kabupaten PALI, Sumatera Selatan. Bentuk batu bata yang dicetak juga sudah menyesuaikan kebutuhan pasar yaitu tipe berongga.

Beberapa warga yang berencana melakukan renovasi atau pembangunan rumah juga sudah mulai melakukan pre order batu bata sebelum proses pembakaran selesai.

Secara cash flow bisnis dan perhitungan keuntungan juga jadi lebih mudah. Tinggal menghitung jumlah bata hasil pembakaran dikurangi dengan biaya produksi per bata.

Saat ini, biaya produksi sekitar 300-500 perak per bata. Sedangkan harga jual di 800 perak dengan sekali proses pembakaran sekitar 10.000 batu bata. Saat ini, ada sekitar 3 area pembakaran yang digunakan secara bergantian.

Batu Bata yang sudah jadi
Batu bata yang siap dijual (sumber: dokumen pribadi)

Nah, untuk meningkatkan produksi batu bata harian, mas Agung sudah menganalisis kebutuhannya berupa penggunaan alat berat untuk menggali dan memindahkan tanah liat yang dibutuhkan dan penambahan mesin cetak.

Langkah ini pastinya butuh biaya yang cukup besar. Berharap dengan bisnis yang ada saat ini, pihak Bank sudah bisa memberikan bantuan pinjaman modal. Tetapi tidak mau gegabah juga, karena pengalaman ditolak pada pertama kali membangun bisnis masih terngiang. Ditolak karena Credit Score yang rendah.

Tentang Credit Scoring

Setiap orang pastinya punya trauma masa lalu, termasuk dengan trauma ketika ditolak pengajuan pinjaman modal oleh pihak pemegang dana. Tetapi, jika sudah tahu caranya, trauma itu bisa perlahan-lahan dihilangkan seperti dengan mengecek credit score.

Loh kok bisa gitu? Jadi gini, biasanya kan Bank atau pihak pemberi modal menolak memberikan pinjaman karena Credit Score yang dimiliki rendah.

Credit Score adalah sebuah sistem penilaian yang diterapkan oleh lembaga pembiayaan untuk menilai kelayakan si peminjam ketika mengajukan pinjaman. Semakin tinggi Credit Score, maka resiko yang dimiliki semakin rendah sehingga akan meningkatkan kepercayaan lembaga pembiayaan untuk memberikan pinjaman.

Seiring berjalannya waktu Credit Score yang dimiliki oleh seseorang itu bisa berubah. Tetapi yang paling penting bagi para pelaku UMKM adalah perubahan credit score harus ke arah positif. Artinya, angka credit score semakin tinggi.

Kendala yang terjadi bagi para pelaku UMKM biasanya adalah mereka tidak tahu cara menghitung skor kredit. Untungnya saat ini sudah ada teknologi AI Credit Scoring sebagai teknologi yang digunakan untuk membantu para pelaku UMKM seperti mas Agung.

Mengenal Teknologi AI Credit Scoring Untuk UMKM

Fakta yang ditemukan di lapangan oleh pelaku UMKM kala ingin melakukan pinjaman UMKM tanpa jaminan adalah langsung mengajukan tanpa menganalisis terlebih dahulu Credit Scoring. Makanya, tidak sedikit para pelaku UMKM gigit jari tidak mendapatkan modal sesuai yang diharapkan.

Tentang Amartha
Tentang Amartha (sumber: amartha.com)

Itulah mengapa kehadiran teknologi AI Scoring yang dikembangkan oleh Amartha sebagai platform teknologi keuangan mikro terdepan bernama Ascore.ai benar-benar membantu. Terutama dalam hal perhitungan skor kredit UMKM.

Ascore.ai by Amartha merupakan layanan penilaian skor kredit terbaik berbasis teknologi artificial intelligence (AI) dengan memanfaatkan kumpulan jutaan data pendukung untuk membantu para pelaku bisnis seperti UMKM dalam membuat keputusan yang tepat dan memanfaatkan peluang yang belum digunakan. Cara kerjanya berdasarkan faktor resiko seperti profil pengguna, data telekomunikasi, usaha yang dijalankan dan lain-lain.

Salah satu fitur yang ditawarkan oleh Ascore.ai adalah pengecekan kredit profil. Dengan fitur yang dikembangkan ini, maka para pengguna akan mendapatkan skor kredit secara langsung.

Solusi Ascore.ai Dalam Mendukung Pengembangan UMKM

Hadirnya fitur kredit skor pada Ascore.ai pastinya benar-benar membantu. Tetapi ternyata, pada Ascore.ai juga disediakan beberapa solusi bisnis dalam membantu mengembangkan UMKM antara lain:

1. Membantu mengembangkan bisnis yang memahami kebutuhan pasar dengan cara penggunaan pangkalan data secara akurat dan holistik untuk membantu menghitung risiko bisnis dengan cara sederhana.

2. Menyajikan proses integrasi sempurna untuk pemenuhan berbagai kebutuhan bisnis dengan cara menggunakan integrasi API dan dashboard yang sangat mudah dalam penggunaan.

3. Memberikan solusi inovatif yang lebih cerdas dengan rangkaian produk penunjang seperti deteksi liveness dan verifikasi identitas. Semuanya dirancang untuk membuat proses menjadi cepat, akurat, dan aman.

4. Sebagai marketplace data menyeluruh untuk melayani pertumbuhan usaha UMKM yang semuanya terhubung dengan teknologi AI.

Score Credit
Cara Book Demo Score Credit (sumber:ascore.ai)

Selain itu juga, ada beberapa produk Amartha yang bisa dimanfaatkan seperti deteksi liveness, KTP Selfie match dan OCR KTP.

Semua solusi dan produk yang ditawarkan pastinya bakal membantu tumbuh kembang UMKM agar bisa lebih maju di pasaran. 

Kini, tidak ada lagi kebingungan dalam menentukan skor kredit untuk pengajuan tambahan modal karena semuanya sudah terintegrasi dengan AI. Malahan, para pelaku UMKM bisa fokus dalam menjalankan usahanya dengan berbagai tawaran produk bermanfaat berbasis AI. Percaya deh.

Talif

Saat ini selain sebagai blogger juga bekerja sebagai technical team khususnya dalam dunia kimia perminyakan.

  1. Penting banget ya tahu skor kredit usaha kita untuk meningkatkan kepercayaan. Kalau skor tinggi, malah biasanya ditawari bank untuk berutang tanpa bunga.

    ReplyDelete
  2. Aku jg baru cek nih. Credit score ku jg rendah. Ini krn utang dr kartu kredit yg macet. Mslhnya ada teman kntr yg utang buat beli hp. Eh trnyata dia ga bs bayar lanjutannya yg baru cicilan ke-4. Satu lg krn duit cicilan dipake buat beli aset kripto. Naasnya aset kripto bbrp wkt lalu malah merosot. Mana dia jg korban pinjol lagi. Aku tub yg terpaksa nombokin. Tp lama2 ga kuat jg. Jd ga ikut bayar krn ga ada yg buat nombokin deh.

    ReplyDelete
  3. MasyaaAllah, beruntung sekali mas Agung dan sang Ayah, bisa dapet manfaat dari tanah tandus yang dibeli, walau pun hasilnya baru terlihat beberapa tahun kemudian, semangat memulai bisnis nggak pernah padam.

    Btw, Teknologi AI Credit Scoring bener-bener ngebantu UMKM buat bangun bisnisnya yah, Mas. Dan Saya jadi penasaran sama tetangga yg nyinyir itu, pasti langsung diem liat suksesnya mas Agung, haha..

    ReplyDelete
  4. UMKM akan naik kelas jika terbuka untuk bekerja sama dengan berbagai pihak yang siap membantu, termasuk dengan perangkat teknologi yang berbasis artificial intelligence

    ReplyDelete
  5. Untung mas Agung nggak dengerin tetangga julid ya, maju terus yakin menjalankan usahanya walaupun susah cari pinjaman modal. Alhamdulillah skrng ada Amartha yg bisa mendukung usaha UMKM.

    ReplyDelete
  6. Dari yang tadinya tetangga tidak tahu, hingga jadi mengkaryakan tetangga dan warga yang singgah. Akhirnya jadi berbagi kebahagiaan. Keren ini progressnya Mas Agung. Sukses terus untuk bisnis UMKM ini

    ReplyDelete
  7. Sepertinya sangat menarik nih teknologi AI Ascore.ai dari Amartha ini. Fiturnya sangat membantu para pelaku UMKM untuk menghitung perkiraan kredit scorenya sebelum melakukan pinjaman untuk mengembangkan bisnis mereka.

    ReplyDelete
  8. wah pastinya kehadiran sangat membantu banyak para UMK dalam mengembangkan usaha mereka, solusi yang inovatif dan cerdas ini pastinya makin membuat para pengusaha UMKM kian mengembangkan sayapnya

    ReplyDelete
  9. AI semakin canggih, hingga hal seperti ini juga menjadi bagian. Tentunya dengan adanya AI ini akan memberikan kemudahan bagi banyak pihak dalam menentukan kelayanan dengan lebih cepat. Btw ikut senang dengan usaha bata merah yang semakin berkembang.

    ReplyDelete
  10. Sangat menginspirasi apa yang dilakukan Mas Agung dan keluarga. Dari agak dilecehkan tetangga karena membeli tanah tandus yang tidak produktif, proses membuat bata yang tidak bagus adonannya, sampai akhirnya mendapatka tanah liat yang bagus.

    ReplyDelete
  11. Teknologi ai makin canggih nih. Bisa mengukur score credit suatu usaha. Jadi, kalau ada pengajuan dana, plafonny pasti pas. Enggak terlalu tinggi atau rendah.

    Btw, saya salut sama Pak Agung itu. Harga tanah jaman dulu murah banget ya..

    ReplyDelete
  12. Dua hektar hanya sepuluh juta? Wow...
    Meski tandus, tapi kan tanah itu investasi ya. Dan beneran sekarang bisa menghasilkan bisnis luar biasa...

    ReplyDelete
  13. Kisah Mas Agung menginspirasi banget euy. Berbagi rezeki, mendatangkan rezeki ya. Di artikel ini jadi tahu juga tentang credit scoring dan ada Ai juga buat ceknya. Makasi sudau berbagi insight

    ReplyDelete
  14. Baru tau kalau ada yang namanya skoring ini.
    Sehingga dengan tingkat kepercayaan yang bagus dan bersih, para UMKM bisa semakin meningkatkan modal usaha gitu ya..

    ReplyDelete
  15. Jadi pakai ascore.ai kita bs menilai credit score kita sendiri ya? Wah, sangat membantu sekali. Jd buat yg mau ngajuin pinjaman jd bs pasang strategi ya klo udah tahu credit scorenya.

    ReplyDelete
  16. Inspiratif banget kisah mas Agung ini
    Pengetahuan baru buat aku, kalau ada scoring juga dan bisa menggunakan bantuan AI

    ReplyDelete