9 October 2021

Masalah Kesuburan Pria, Bisa Jadi Salah Satu Faktor Belum Memiliki Anak

 “Selamat bro, atas kelahiran anaknya. Semoga menjadi anak yang berbakti buat orang tua dan keluarganya ya”

 


Kalimat tersebut, sering banget terlontar ketika ada rekan yang baru memiliki anak. Bagi pasangan yang sudah menikah, sudah pasti memiliki anak adalah dambaan. Tetapi terkadang pula, kalimat tersebut bisa menyinggung pasangan tertentu yang mungkin sudah lama menikah hingga puluhan tahun tetapi belum dikarunia anak.

 

Pernah suatu ketika, di area tempat tinggal saya. Kala itu sih, ada pasangan yang memang sudah 5 tahun menikah tetapi belum dikarunia anak. Hingga mertua dari pihak laki-laki tersebut gelisah dan memutuskan hal tidak terduga. Sang mertua, meminta untuk menceraikan istrinya karena tidak mampu memberikan garis keturunan. Berat dan tragis. Tetapi, apa mau dikata, bagi sebagian masyarakat memiliki keturunan adalah hal utama sih memang. Perceraian pun tidak dapat lagi dihindari.

 

Dua tahun kemudian, sang istri yang diceraikan menikah kembali dengan warga dari kabupaten yang berbeda. Satu tahun dari umur pernikahan kedua sang istri, akhirnya melahirkan anak laki-laki sehat dengan berat 3.0 kg dan panjang 50 cm.


Masalah Kesuburan Pria

 


Berita ini, sontak membuat sang suami yang menceraikan istrinya berpikir sepertinya masalah utama mereka dahulu belum dikarunia anak adalah bersumber dari dia. Pemahaman akan kesuburan alat reproduksi selama ini masih terpaku kepada pihak wanita saja. Padahal urusan memiliki anak, itu adalah melibatkan dua belah pihak, dari suami dan dari istri. Dan ternyata, masih banyak yang belum memahami akan kesuburan pria sebagai salah satu penyebabnya.

 

Mengetahui Faktor Penyebab Masalah Kesuburan Pria

Ketika berada di posisi pasangan suami istri yang belum dikaruniai anak, jangan langsung buru-buru memutuskan bahwa sang istri adalah penyebab masalahnya. Bisa jadi memang, masalah kesuburan reproduksi itu datangnya dari pihak suami.

 

Definisi klasik dari infertilitas adalah ketidakmampuan untuk hamil setelah bersenggama secara teratur tanpa kontrasepsi selama 12 bulan. Sedangkan, menurut WHO (1993)/ ESHRE (1996) dibutuhkan waktu 24 bulan baru bisa dikatakan infertilitas.

 

Masalah infertilitas ini, ternyata 45% berasal dari faktor istri dan 45 % berasal dari faktor suami. Sisanya adalah faktor yang lain yang belum bisa dijelaskan secara ilmiah.

 

Baca juga: Cara Terhindar dari Hepatitis


Jika dilihat dengan seksama, maka baik istri maupun suami, sama-sama memiliki faktor penyebab infertilitas sehingga penting sekali untuk mengetahui apa saja yang menjadi penyebabnya.

 

Khusus untuk pria, masalah kesuburan itu dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain:

1. Kelainan pengeluaran sperma; biasanya terjadi pada pria yang mengeluarkan air mani tetapi tidak ditemukan sperma di dalamnya.

2. Kelainan produksi dan pematangan sperma; ini terkait dengan motilitas sperma yang > 32 % (grade a) dengan jumlah total sekitar 30 juta/cc atau lebih.

3. Penyumbatan saluran mani karena infeksi/bawaan; terkadang ada sebagian pria mengalami hal ini sehingga sperma tertahan pada saluran mani karena penyakit bawaan atau terjadinya infeksi.

4. Faktor imunologi/ antibodi antisperma; bukan hanya tubuh yang bisa autoimun tetapi juga bisa menghasilkan antibodi antisperma sehingga menghalangi proses terbentuknya sperma itu sendiri.

5. Faktor gizi; kekurangan nutrisi juga bisa mempengaruhi kualitas sperma yang dihasilkan dan pastinya juga kesehatan tubuh.


Cara Evaluasi Masalah Kesuburan Pria atau Infertilitas Pria

Buat pasangan suami istri, jika sudah lebih dari 24 bulan menikah dan belum dikaruniai anak, maka sebaiknya perlu dilakukan evaluasi kesuburan alat reproduksi.

 

Biasanya untuk proses evaluasi alat reproduksi, hanya dilakukan oleh para istri saja padahal, para suami juga harus melakukan pengecekan. Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan khususnya oleh suami untuk mengetahui masalah kesuburan yang dialami, mulai dari pemeriksaan fisik, genitalia hingga pemeriksaan khusus.

 

Pemeriksaan fisik umumnya dilakukan untuk melihat kondisi pria seperti obesitas, seks sekunder abnormal, hipoandrogenisme dan sindrom klinefelter. Biasanya pemeriksaan fisik ini dilakukan oleh dokter urolog dan androlog.

 

Infertilitas pada pria


Sedangkan terkait pemeriksaan genitalia pada pria itu meliputi pemeriksaan pada penis dan testis, epididimis, vas deferns, skrotum dan inguinal. Semua bagian ini adalah satu kesatuan dari alat reproduksi pada pria.

 

Untuk pemeriksaan khusus, biasanya bagian ini menjadi hal penting untuk dilakukan karena prosesnya dilakukan untuk menganalisa sperma yang dihasilkan oleh pria, apakah sudah sesuai dengan kualitas atau ada masalah pada sperma yang dihasilkan. Selain itu juga, pada pemeriksaan khusus terkadang dibutuhkan pemeriksaan tambahan seperti pemeriksaan hormonal (FSH, LH, PRL dan testosteron), klamidia beserta antibodi antisperma.

 

Setelah dilakukan pemeriksaan masalah kesuburan pria barulah kemudian dilakukan evaluasi untuk menentukan diagnosa yang tepat serta langkah penanganannya.

 

Jika memang sudah diketahui masalah infertilitas ini berasal dari pria, maka perlunya penanganan lebih lanjut, seperti yang disampaikan oleh Dokter Indra N C Anwar sebagai dokter spesialis obstetri dan ginekologi pada Kulwap yang diselenggarakan oleh Makuku Indonesia dalam memperingati “Hari Kontrasepsi Sedunia”.

 

Makuku sendiri berasal dari jepang yang menyediakan platform saluran ritel berkualitas untuk wanita hamil, bayi dan anak-anak. Bukan hanya produk yang dijual tetapi juga jasa dan layanan konsultasi agar para ibu hamil, bayi dan anak-anak bisa tumbuh sehat. Termasuk salah satunya terkait masalah kesuburan organ reproduksi.

 

Makuku Indonesia


Kini ada banyak cara kok untuk mengetahui masalah kesuburan pria dan solusinya, tinggal bagaimana kita mau memulai dan membuka diri untuk melakukan pemeriksaan. Jangan sampai, masalah belum memiliki anak bisa berujung perceraian. Saatnya untuk memastikan dulu sebelum bertindak.

 

Semoga buat para pasangan suami istri yang belum dikaruniai anak, ada baiknya mulai memeriksakan diri bersama, bukan hanya istri tetapi juga suami. Meskipun memang, anak adalah rezeki dari sang pencipta tetapi tugas kita adalah berikhtiar semaksimal mungkin termasuk mencari penyebabnya dan menemukan solusinya.

 

Post a Comment

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search