Kampung Berua: Keindahan Tersembunyi dari Balik Perbukitan Karst

January 21, 2019

Peluh masih menetes dari keningku sesaat setelah menginjakkan kaki di Dermaga 2. Perjalanan menggunakan sepeda motor dari simpang Selenrang benar-benar menguras keringat, meskipun hanya 10 menit. Kini, tepat di depan ku, jembatan biru penghubung dermaga dengan kampung sebelah melengkung sempurna. Langkahku teralihkan ke salah satu bangunan kayu, disisi kanan. Di belakangnya, mengapung epik warna-warni perahu motor di atas air sungai yang menghijau. Sungguh kontras dengan birunya langit siang itu. Ketika berada di rumah kayu, instingku pun cukup sumringah, dugaan awalku, ketika hari libur tiba, tempat ini akan dipenuhi dengan para pelancong lokal. Tetapi faktanya, hanya aku sendiri orang asing ditempat ini.
 
Dermaga 2: Tempat sewa perahu motor menuju kampung berua
Mengunjungi kampung Berua, artinya butuh perahu motor untuk akses menuju kesana. Dari dermaga 2 harga sewa perahu, tertera 200ribu untuk kapasitas 4 orang. Bermodalkan dialek khas suku Bugis yang ku miliki, akhirnya harga sewa pun bisa turun hampir setengahnya dan sekarang aku siap menyusuri sungai dengan perahu motor sewaanku.

Dari bawah jembatan, perjalanan menyusuri sungai dimulai. Pemandangan hutan mangrove dan pohon nipah silih berganti. Sesekali, perahu motor dari arah berlawanan melintasi. Desingnya menyeruak riak air disungai, sama seperti perahu motor yang ku tumpangi. Hampir 10 menit berlalu, pemandangan sepanjang aliran sungai kini semakin menakjubkan. Bukit-bukit karst menjulang benar-benar terasa semakin dekat, sempurna dengan warna hijau hitamnya. Hijau karena ditumbuhi pepohonan dan hitam karena tekstur batuannya. Belum lagi tambahan lekukan pohon nipah di bawahnya yang menyatu dalam satu frame bukit karst. Bahkan di salah satu sudut rasa takjub semakin memuncak, birunya langit menjadi penyebabnya karena menimbulkan warna kontras tersendiri sebagai penyempurna panorama yang disajikan.
 
Menyusuri sungai pute menuju kampung berua

Kampung Berua

Cekungan dinding batuan disekitar aliran sungai menjadi penanda bahwa pintu masuk kampung berua sudah di depan mata. Tidak banyak perahu motor bersandar siang itu, hanya ada 2 dalam lamat pengamatanku. Mesin perahu pun dimatikan, dengan lihai perahu diarahkan ke dermaga kayu sebelum akhirnya tali perahu ditambatkan berdampingan dengan 2 perahu lainnya. Ini lah tujuan utamaku, meskipun perjalanan menuju kampung ini sudah menyajikan keindahan yang jarang disaksikan di tempat lain.
 
Kampung Berua
Ribuan tahun lalu, kampung berua merupakan danau besar di tengah perbukitan karst. Banyak peninggalan dan bukti arkeolog yang mendukung hal tersebut. Instingku pun mulai menalar, “jika kampung berua adalah danau, apakah kota Makassar dahulunya juga kawasan perairan?” karena melihat dari topografi 2 kawasan yang berdekatan ini. Tetapi kali ini, tujuan ku bukan untuk membuktikan hal tersebut, biarkanlah para peneliti arkeolog yang membuktikannya.

Sebagai kampung yang dikelilingi bukit karst, maka sudah barang tentu akan tampak seperti cekungan. Keindahannya pun dimulai dari jalan papan yang dibuat oleh warga sekitar. Beberapa pengunjung sebelumnya menjadikan jalan papan ini sebagai spot foto untuk diabadikan sebaga kenang-kenangan. Di sisi kiri jalan papan, berderet 3-4 rumah panggung suku bugis, sedangkan kanannya terbentang petak sawah dan beberapa petak tanaman perairan yang dibudidayakan. Sepanjang mata memandang, ternyata rumah panggung yang ada di kampung berua tidak banyak, mungkin kurang dari 10 yang jaraknya terpencar antar satu rumah dengan rumah lainnya. Inilah salah satu keunikan kampung ini, selain pemandangan bukit karst juga kearifan lokal yang terjaga.

Jalan papan di kampung berua


Padang Ammarung

Setelah melewati jalan papan, akhirnya perjalanan dilanjutkan menyusuri pematang sawah menuju padang ammarung. Sesekali, kawanan bebek akan menemani perjalanan dari sisi perairan salah satu petak sawah. Suara kerumunannya sangat jelas terasa. Nuansa ini, benar-benar terapi pikiran dan hati akan nuansa tenang, asri dan bersahabat. Jauh dari kata bising dan polusi kota besar.

Landsacpe kampung berua dari padang ammarung

Ammarung dalam Bahasa lokal berarti “bunyi”. Nama Padang Ammarung sendiri diambil dari gemuruh air yang membelah padang ammarung dimusim hujan. Di tempat ini dapat dijumpai padang batu sisa benteng-benteng geologi yang unik. Susunan bebatuan yang ada dilukis oleh air dengan mata air yang membelah batuan. Bahkan menurut cerita rakyat, beberapa tahun silam gemuruh air ini sendiri menerjang dari dalam celah batu yang membentuk sunga-sungai kecil peninggalan zaman Belanda. Letak padang Ammarung yang berada diatas bukit, maka dari sini, landscape kampung berua tersaji dengan indahnya.

Situs Pasaung

Puas menikmati Padang Ammarung, perjalanan pun dilanjutkan ke sisi lain dari kampung Berua yaitu Situs Pasaung. Dalam Bahasa Makassar, pasaung berarti “menyabung”. Hal ini berdasarkan pemanfaatan tempat ini pada zaman dahulu sebagai tempat menyabung ayam. Di Kawasan ini, para jawara-jawara berkumpul untuk menyabung ayam, karena pada zaman itu menyabung ayam merupakan salah satu simbol kejantanan.

lukisan prasejarah berwarna merah


Di situs pasaung terdapat peninggalan prasejarah ribuan tahun lalu dengan lukisan-lukisan pada dinding gua berusia antara 15.000 – 20.000 tahun silam. Hal ini juga menjadi bukti akan keberadaan manusia prasejarah dengan segala aktivitasnya. Disitus ini, peninggalan prasejarah yang dapat ditemukan berupa telapak tangan berwarna merah. Selain itu, pada salah satu batu di dinding tebing ditemukan bentuk “ukiran” yang menyerupai kingkong, sehingga tempat ini juga dijuluki “kingkong stone”.

Dinding batuan yang menyerupai Kingkong

Beberapa peninggalan prasejarah menjadi salah satu alasan untuk berkunjung ke kampung berua sebagai salah satu bagian Kawasan Wisata Rammang-Rammang yang sudah terkenal dan juga menjadi wisata bukit kapur terluas nomor 3 di dunia.



46 comments:

  1. Kampung Berua ini sepertinya masih belum sering terjamah oleh turis local maupun internasional ya, Kak. Pemandangannya masih asri. Kebersihannya pun masih terjaga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Bener2 asri kalau kesana. Lumayan, ada tempat seperti ini dekat bandara Makassar

      Delete
  2. Wah Kampung Berua emang keindahanya tersembunyi banget sih. Btw, pas aku ke sana penasaran banget sama goa Kingkong yang katanya ada baru mirip mukanya kingkong. Pas dicari kok gak nemu ya sebelah mananya??

    ReplyDelete
    Replies
    1. Goa Kingkong letaknya sejajar dengan Goa Berlian.

      Delete
  3. Beberapa tahun lalu, saya sempat mampir ke Kampung Berua (?)saat berkunjung ke Maros waktu eksplore Sulawesi Selatan dan sekitarnya. Karena tanpa guide dan memang ingin menikmati eksplore dengan apa adanya, saya tidak bertanya nama kampung tsb.Saya baru tahu nama dan detailnya dari tulisan Bang Taumy nih. Terimakasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih mba Tuty. Luar biasa, sudah berkunjung beberapa tahun yang lalu. Tapi, tetap asri kok sampai sekarang

      Delete
  4. Suatu tempat yang tersembunyi memang terkadang bisa memancarkan keindahan yang luar biasa.
    Saya masih penasaran Rammang-Rammang itu seperti apa, kayaknya terkenal banget ini tempatnya hehehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo kak Ris, maen kesini. Dijamin memiliki pengalaman yang berbeda.

      Delete
  5. Ya Allah... Kampung Berua ini keren amat Kak! Jadi kepengen ke sana nih.

    www.firdaussoeroto.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo kak Firdaus. Kata orang, ini mirip Hanoi. Tapi kata saya sih, beda...hahaha

      Delete
  6. Kampung Berua sungguh keindahan tersembunyi diantara perbukitan karst yang ada.
    Aku pernah baca tentang kawasan wisata Rammang-Rammang di blog seorang emak blooger Makassar. Lalu lebih detil di sini diulas tentang Kampung Berua.
    Wah, keren memang ya...Dan itu rumah memang cuma segitu jumlahnya? Salut dnegan kearifan lokal yang dijaga.
    Semoga terus lestari termasuk lukisan di dinding gua yang menakjubkan ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Terimakasih sudah mampir kak Dian. Disana memang rumahnya bisa dihitung jari. Cobalah dibuktikan dengan datang langsung

      Delete
  7. Kalau itu dulunya danau, jangan2 seluruh ndonesia dulunya air? :)

    ReplyDelete
  8. Baru dengar Kampung Berua. Menarik banget karena banyaknya situs bersejarahnya. Masuk list nih. ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes. Ayo, segera dikunjungi agar list nya ter check list

      Delete
  9. Baru denger kampung berua, keren bangett yaa jadi pengen kesana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak. Ini bagian dari Rammang-Rammang

      Delete
  10. Saya yang tinggal beberapa bulan di Makassar bbelum pernah ke tempat bagus ini. Semoga bisa ke kampung barua suatu saat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh. Padahal sangat dekat jaraknya. Semoga disegerakan untuk berkunjung kesini.

      Delete
  11. Haduuuh, kampung berua menggoda mata yaaa. Jadi pengen jalan jalan hiks

    ReplyDelete
  12. Jago! Kekuatan kata yang deskriptif ditunjang gambar yang bikin gagal fokus membuatku serasa berada di Kampung Berua dan Situs Pasaung . Harus banget nih ke sini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih kak Yun. Ayo, berkunjung ke kampung Berua

      Delete
  13. Naik perahu menyusuri sungai dikelilingi pemandangan pepohonan sungai yang hijau..cuma masih bisa lihat dalam film dan my trip may adventure hehehe.. Beruntung banget Mas Taumy bisa jalan-jalan ke Kampung Berua. Tulisan fitur untuk deskripsi alamnya juara iiih.. seluuu..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba Dewi. Alhamdulillah bisa berkunjung kesini

      Delete
  14. wah tempatnya keren ya. baru tahu kalau ada situs pra sejarah di kampung berua

    ReplyDelete
  15. Selalu seneng baca tulisan Mas Taumy. Apalagi aku belum pernah ke Kampung Berua. Jadi rasanya kayak ikutan berpetualang ke tempat ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih mba Nunik. Semoga suatu saat bisa menyaksikan langsung

      Delete
  16. Dari foto aja ketahuan ini kayaknya super cakep sih kampung berua ini. Pemandangannya bukit karst dan perairan gitu. Suka ngiri sama yang bisa ke tempat2 yang keren dan masih jarang yang dateng.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. Sabar ya, suatu saat pasti Leni bisa berkunjung ke tempat yg jarang dikunjungi

      Delete
  17. asik asik..... maret nanti mau ke sini, gak perlu susah lagi untuk cari info tentang Berua... makasih mas

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wuih mantab. Selamat menikmati babang kampung Beruanya dibulan Maret

      Delete
  18. Baru denger ini nama kampung berua. Cukup menarik, tapi ya ngeri mesti naik perahu kecil. Maklum g bs berenang, takut tenggelam palagi klo ada buaya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aman kok. Pengemudinya sudah handal dan airnya cukup tenang. Disana buaya sungainya ga ada.

      Delete
  19. Kampung Berua, tulisannya menarik sekali. Baru denger juga soalnya. Dan kelihatannya bakal hitz nih, tinggal nunggu waktu aja.

    ReplyDelete
  20. Indonesia memang unik ya, kalau ga ada uulasan ini mana tahu ada Kampung Berua. Mari viralkan biar makin terkenal Indonesia Kita.

    Deskripsi nya jelas sekali, mas. Jadi pingin nge-trip kesana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih kakak, sudah mampir. Ayo berkunjung ke kampung Berua

      Delete
  21. Padang Ammarung rasanya keren banget yah Bang. Kaya sesuatu yang belum terjamah, ramai sama gemercik air. Keren bangeeet

    ReplyDelete
  22. Pesona alamnya masih terlihat sangat alami. Kampung Berua sebagai keindahan tersembunyi dari balik perbukitan karst ini seperti memanggil-manggil minta untuk dikunjungi. Mau ke sana!

    ReplyDelete
  23. Kampung Berua ini mirip ama Ramang-ramang, apakah lokasinya sama?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak. Kampung Berua itu berada di Rammang-Rammang

      Delete

Powered by Blogger.