Tak ada yang menyangka, dibalik hiruk pikuk Bekasi ada café unique nan asri. Awalnya saya pikir cuma café biasa. Café dimana para anak muda kekinian nongkrong, bercerita sekaligus menikmati berbagai jenis menu yang tersaji. Tetapi ternyata ekspektasi saya terlalu ‘standar’. Di café ini, bukan hanya sebagai tempat nongkrong tetapi lebih dari itu.
Bayangin
saja coba, pas awal masuk, kita sudah disajikan dengan interior vintage dan
berbagai jenis tanaman menghiasi sisi kiri jalan. Dekorasi pada dindingnya pun
terpampang beberapa quotes dengan ornamen khas “para pekerja di ladang”. Unik
tapi nyata. Itulah mengapa, café ini selalu saja memberikan kesan lebih,
dibanding kafe-kafe yang sudah saya kunjungi sebelumnya. Pendirinya memberi
nama café ini yaitu “Seniman Pangan”.
Awal yang Melelahkan
Kehadiran
“Seniman Pangan” bukanlah proses yang mudah. Semua berawal dari keterbatasan
dan semangat untuk mengembangkan lokasi menjadi lebih bermanfaat. Kala itu di
tahun 2017, saat pembangunan perumahan Vida dibutuhkan minimal 30% dari total
luas lahan yang akan dibangun adalah area hijau. Maka muncullah ide
memanfaatkan 4 bangunan percontohan dan 3 hektar area rerumputan yang tak
terawat.
Tidak
mudah memang, merubah semuanya secara instan. Tetapi bukan berarti tidak bisa
termanfaatkan dengan baik. Empat bangunan contoh kemudian disulap menjadi
beberapa bagian dari café ini, mulai area dapur, mushola, area dining dan area
penunjang lainnya.
![]() |
| Salah satu sudut dari area tanam di Seniman Pangan |
Tempat Meramu Kulinernya Indonesia
Umumnya
sebuah café, hanya menjual menu untuk dinikmati bersama rekan atau keluarga.
Tetapi di “Seniman Pangan” menu yang disajikan berasal dari bahan pangan yang
ditanam di area perkebunan.
Bahkan
saat saya hadir dalam rangka gathering bersama rekan-rekan Eco Blogger Squad
sekaligus memperingati Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia
(International Day of the World’s Indigenous Peoples) yang jatuh setiap tanggal
9 Agustus kami semua disambut dengan hangat oleh Ibu Johanna Hehakaja
selaku Business Director Sekolah Seniman Pangan. Beliau memberikan banyak
penjelasan atas menu yang disajikan saat itu.
“Menu lunch kali ini adalah Indonesian Cuisine Taste, dimana setiap menunya mewakili daerah yang ada di Indonesia” ungkap beliau.
Makanya tidak heran jika menunya sangat Indonesia banget. Mulai dari nasi subut Kalimantan, terus sate singkong dengan sambal kacang dari Mollo NTT hingga ayam tangkap dari Aceh. Ditambah lagi ada dessert Sagu Sep pisang dengan gelato dari Papua.
![]() |
| Ibu Johanna Hehakaja |
Bagi para
penggerak di Seniman Pangan, setiap menu yang disajikan bukan hanya tentang
makanan tetapi bagaimana memanfaatkan pangan yang berasal dari daerah setempat
sebagai salah satu untuk terus berkontribusi dari rumah. Serta menjadi bagian
dalam menjaga dan melestarikan pengetahuan tradisional yang sudah sejak lama
ada serta warisan budaya IPLC (Indigenous Peoples and Local Communities) atau
yang sering kita sebut sebagai masyarakat adat dan komunitas.
Dari Café Menjadi Sekolah
Tidak
semua café bisa memberikan edukasi, tetapi di “seniman pangan” edukasi tentang
pemanfaatan pangan lokal terus bertumbuh. Setiap masyarakat lokal yang datang
kesini akan tumbuh dan berkembang bersama. Mereka yang datang, belajar
bagaimana memanfaatkan pangan lokal agar bisa naik kelas.
Layaknya
sebuah sekolah, ternyata di “seniman pangan” sedari dulu sudah sering
memberikan edukasi kepada para masyarakat adat dan komunitas baik dalam maupun
luar negeri. Mereka belajar, tumbuh dan berkembang untuk kemudian menjadi
‘local hero’ di tempat masing-masing nantinya.
![]() |
| Mama Etin Suryatin |
Umumnya,
program berjalan selama 7 hari. Enam hari digunakan untuk proses pengenalan
bahan pangan lokal, bagaimana memelihara, mengembangkan dan memanfaatkannya
hingga diproses menjadi menu autentik. Setiap menu disertai dengan story
telling di dalamnya tentang khasiat dan manfaat hingga sejarah kemunculan bahan
pangan tersebut.
“Makanya tidak heran, jika banyak bahan pangan yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia ada di kebun ini” ungkap Mama Etih Suryatin selaku Partnership Director Seniman Pangan saat menemani keliling kebun.
Bagi
masyarakat adat dan komunitas yang datang mengikuti pelatihan tersebut juga
diberikan pengetahuan tentang teknik plating agar setiap menu yang dihasilkan
layak untuk dinikmati. Di akhir pelatihan, para masyarakat adat dan komunitas
akan melakukan ‘fine dining’ dengan mengundang berbagai tokoh-tokoh terkenal
seperti kementerian ekonomi kreatif, kedutaan hingga orang luar negeri yang
ingin mencicipi cita rasa autentik. Dan dari sinilah, keberhasilan “Seniman Pangan” sebagai sekolah itu dimulai.
Inovasi yang Tiada Henti
Urusan
pengembangan pangan lokal, tidak hanya berakhir di meja makan saja. Tetapi
terus berkembang menjadi panganan menarik dan kekinian sehingga dekat dengan
kehidupan sehari-hari.
![]() |
| Corazon Nikijuluw |
Makanya
tidak heran, saat saya berkunjung bisa melakukan banyak hal. Bukan hanya
mengelilingi area penanaman seluas 3 hektar tetapi juga mengikuti workshop
pembuatan sirup kemangi dan selai rosella. Semua proses pembuatannya dibuat
sedemikian rupa dengan standar quality control yang terjaga. Serta tanpa
penggunaan bahan pengawet.






comment 0 komentar
more_vert