MASIGNASUKAv102
1508570391356967755

Seniman Pangan: Saat Karsa Bersatu dengan Rasa

Seniman Pangan: Saat Karsa Bersatu dengan Rasa
Add Comments
11 August 2026

Tak ada yang menyangka, dibalik hiruk pikuk Bekasi ada café unique nan asri. Awalnya saya pikir cuma café biasa. Café dimana para anak muda kekinian nongkrong, bercerita sekaligus menikmati berbagai jenis menu yang tersaji. Tetapi ternyata ekspektasi saya terlalu ‘standar’. Di café ini, bukan hanya sebagai tempat nongkrong tetapi lebih dari itu.

Cafe Seniman Pangan

Bayangin saja coba, pas awal masuk, kita sudah disajikan dengan interior vintage dan berbagai jenis tanaman menghiasi sisi kiri jalan. Dekorasi pada dindingnya pun terpampang beberapa quotes dengan ornamen khas “para pekerja di ladang”. Unik tapi nyata. Itulah mengapa, café ini selalu saja memberikan kesan lebih, dibanding kafe-kafe yang sudah saya kunjungi sebelumnya. Pendirinya memberi nama café ini yaitu “Seniman Pangan”.

Awal yang Melelahkan

Kehadiran “Seniman Pangan” bukanlah proses yang mudah. Semua berawal dari keterbatasan dan semangat untuk mengembangkan lokasi menjadi lebih bermanfaat. Kala itu di tahun 2017, saat pembangunan perumahan Vida dibutuhkan minimal 30% dari total luas lahan yang akan dibangun adalah area hijau. Maka muncullah ide memanfaatkan 4 bangunan percontohan dan 3 hektar area rerumputan yang tak terawat.

Tidak mudah memang, merubah semuanya secara instan. Tetapi bukan berarti tidak bisa termanfaatkan dengan baik. Empat bangunan contoh kemudian disulap menjadi beberapa bagian dari café ini, mulai area dapur, mushola, area dining dan area penunjang lainnya.

Kebun Seniman Pangan
Salah satu sudut dari area tanam di Seniman Pangan
Masalah utamanya malah terletak dari lahan 3 hektar yang tidak terawat. Di awal pengerjaan, lahan tak terawat ini hampir sepenuhnya berisi puing-puing bangunan, tanah keras penuh batu. Butuh usaha lebih untuk proses pengangkutan puing dan bebatuan yang tidak dibutuhkan. Pelan tapi pasti, beberapa area tanah sudah bersih kemudian dibuatkan petak kebun untuk proses pembenihan dan penanaman. Begitu seterusnya hingga berkembang seperti apa yang bisa dilihat hari ini. Sebuah café lengkap dengan area perkebunan pangan yang isinya berbagai tanaman dari seluruh Indonesia. Amazing.

Tempat Meramu Kulinernya Indonesia

Umumnya sebuah café, hanya menjual menu untuk dinikmati bersama rekan atau keluarga. Tetapi di “Seniman Pangan” menu yang disajikan berasal dari bahan pangan yang ditanam di area perkebunan.

Bahkan saat saya hadir dalam rangka gathering bersama rekan-rekan Eco Blogger Squad sekaligus memperingati Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia (International Day of the World’s Indigenous Peoples) yang jatuh setiap tanggal 9 Agustus kami semua disambut dengan hangat oleh  Ibu Johanna Hehakaja selaku Business Director Sekolah Seniman Pangan. Beliau memberikan banyak penjelasan atas menu yang disajikan saat itu.

“Menu lunch kali ini adalah Indonesian Cuisine Taste, dimana setiap menunya mewakili daerah yang ada di Indonesia” ungkap beliau. 

Makanya tidak heran jika menunya sangat Indonesia banget. Mulai dari nasi subut Kalimantan, terus sate singkong dengan sambal kacang dari Mollo NTT hingga ayam tangkap dari Aceh. Ditambah lagi ada dessert Sagu Sep pisang dengan gelato dari Papua.

Ibu Johanna Hehakaja
Ibu Johanna Hehakaja
Sajian ini, membuat saya surprise. Nggak nyangka bisa menikmati berbagai kuliner Indonesia hanya dengan datang ke “Seniman Pangan”.

Bagi para penggerak di Seniman Pangan, setiap menu yang disajikan bukan hanya tentang makanan tetapi bagaimana memanfaatkan pangan yang berasal dari daerah setempat sebagai salah satu untuk terus berkontribusi dari rumah. Serta menjadi bagian dalam menjaga dan melestarikan pengetahuan tradisional yang sudah sejak lama ada serta warisan budaya IPLC (Indigenous Peoples and Local Communities) atau yang sering kita sebut sebagai masyarakat adat dan komunitas.

Dari Café Menjadi Sekolah

Tidak semua café bisa memberikan edukasi, tetapi di “seniman pangan” edukasi tentang pemanfaatan pangan lokal terus bertumbuh. Setiap masyarakat lokal yang datang kesini akan tumbuh dan berkembang bersama. Mereka yang datang, belajar bagaimana memanfaatkan pangan lokal agar bisa naik kelas.

Layaknya sebuah sekolah, ternyata di “seniman pangan” sedari dulu sudah sering memberikan edukasi kepada para masyarakat adat dan komunitas baik dalam maupun luar negeri. Mereka belajar, tumbuh dan berkembang untuk kemudian menjadi ‘local hero’ di tempat masing-masing nantinya.

Mama Etin Suryatin
Mama Etin Suryatin

Umumnya, program berjalan selama 7 hari. Enam hari digunakan untuk proses pengenalan bahan pangan lokal, bagaimana memelihara, mengembangkan dan memanfaatkannya hingga diproses menjadi menu autentik. Setiap menu disertai dengan story telling di dalamnya tentang khasiat dan manfaat hingga sejarah kemunculan bahan pangan tersebut.

“Makanya tidak heran, jika banyak bahan pangan yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia ada di kebun ini” ungkap Mama Etih Suryatin selaku Partnership Director Seniman Pangan saat menemani keliling kebun.

Bagi masyarakat adat dan komunitas yang datang mengikuti pelatihan tersebut juga diberikan pengetahuan tentang teknik plating agar setiap menu yang dihasilkan layak untuk dinikmati. Di akhir pelatihan, para masyarakat adat dan komunitas akan melakukan ‘fine dining’ dengan mengundang berbagai tokoh-tokoh terkenal seperti kementerian ekonomi kreatif, kedutaan hingga orang luar negeri yang ingin mencicipi cita rasa autentik. Dan dari sinilah, keberhasilan “Seniman Pangan” sebagai sekolah itu dimulai.

Inovasi yang Tiada Henti

Urusan pengembangan pangan lokal, tidak hanya berakhir di meja makan saja. Tetapi terus berkembang menjadi panganan menarik dan kekinian sehingga dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Corazon Nikijuluw
Corazon Nikijuluw
Menurut Corazon Nikijuluw selaku Food Technology & Education Manager Seniman Pangan mengatakan bahwa “diversifikasi dan pengembangan produk dari bahan lokal sangat penting untuk sustainability bahan pangan itu sendiri. Berbagai produk yang dikembangkan pastinya punya pangsa pasar tersendiri karena keunikan dan citarasa yang dihasilkan”.

Makanya tidak heran, saat saya berkunjung bisa melakukan banyak hal. Bukan hanya mengelilingi area penanaman seluas 3 hektar tetapi juga mengikuti workshop pembuatan sirup kemangi dan selai rosella. Semua proses pembuatannya dibuat sedemikian rupa dengan standar quality control yang terjaga. Serta tanpa penggunaan bahan pengawet.

Produk Olahan Seniman Pangan
Di seniman pangan, inovasi terus bertumbuh. Layaknya roda yang terus berputar untuk menghasilkan produk baru dari bahan lokal. Tujuannya hanya satu untuk keberlanjutan bahan pangan lokal di tengah gempuran produk sintetis. Makanya tidak heran jika setiap karsa para penggerak seniman pangan menghasilkan rasa unik nan autentik.

Tertarik mencoba? Jangan lupa untuk mampir ke Café ‘Seniman Pangan”.
Talif

Saat ini selain sebagai blogger juga bekerja sebagai technical team khususnya dalam dunia kimia perminyakan.