MASIGNASUKAv102
1508570391356967755

Disabilitas Karena Kusta Ternyata Bisa loh

Disabilitas Karena Kusta Ternyata Bisa loh
Add Comments
23 December 2021

 “Itu adalah kutukan”

 

“Pasti itu penyakit keturunan”

 

“Kita semua harus jauh-jauh”

 

“Mereka harus diisolasi jauh-jauh dari pemukiman”

 

Pernah dengar sentimen negatif seperti itu? Apalagi buat mereka para penderita penyakit kusta. Sentimen negatif seperti ini memang selalu bermunculan dan marak di tengah masyarakat. Ketidaktahuan dan paradoks akan penyakit lepra adalah penyebabnya. Dan parahnya lagi, ketika sentimen negatif seperti ini dirasakan dan dijalani oleh penderita, alih-alib bisa sembuh yang ada malah menyebabkan peningkatan keparahan penyakit tersebut. Bahkan disabilitas karena kusta bisa sekali terjadi.

 

Kusta memang penyakit yang sering mendapatkan sentimen negatif di kehidupan bermasyarakat. Penyebab penyakit ini sebenarnya adalah bakteri Mycobacterium leprae yang menyerang jaringan kulit, saluran pernapasan dan saraf tepi. Karena penyebabnya adalah bakteri Mycobacterium leprae maka sering sering juga disebut sebagai penyakit lepra.


Pada tahun 2017 angka penderita disabilitas akibat kusta masih cukup tinggi yaitu 6.6 dari 1 juta penduduk. Angka ini jauh dari target pemerintah yaitu kurang dari 1 per 1 juta penduduk. Hal ini menjadi tantangan terbesar bagaimana agar penanganan kusta ini bisa terlaksana dengan masif dan para penderita terhindar dari sentimen masyarakat.

Ruang Publik KBR Disabilitas Karena Kusta

Gejala Awal Kusta

Gejala awal ketika terkena kusta adalah timbulnya bercak putih atau merah pada permukaan kulit dan efeknya menimbulkan mati rasa. Bercak yang muncul, bisa hanya ada satu atau bahkan banyak di seluruh tubuh. Gejala kusta lainnya yang muncul sebagai efek beruntun untuk menegakkan diagnosa penderita.

 

Secara umum, proses diagnosa mulai dari kuman penyebab kusta masuk ke tubuh hingga membentuk kelainan umumnya membutuhkan waktu 3-5 tahun. Proses yang sangat panjang ini juga bisa menyebabkan mispersepsi apakah seseorang menderita kusta atau penyakit kulit lainnya. Sehingga ketika pertama kali tanda atau gejala awal muncul maka perlu untuk segera diperiksakan dalam rangka menegakkan diagnosa.

 

Disabilitas Karena Kusta

Sentimen masyarakat akan penyakit kusta, bisa menjadi salah satu faktor meningkatnya angka disabilitas penyakit kusta. Bagi penderita yang mendapatkan sentimen ini akan mengalami masalah psikologis. Mereka akan cenderung berpikir sebagai orang yang disalahkan dan akhirnya tidak terobati.

 

Ketika kusta tidak ditangani dan lambat diobati, maka penderitanya berpeluang mengalami disabilitas. Maka wajar, jika kusta identik dengan cacat.


Disabilitas Karena Penyakit Lepra


Disabilitas terjadi pada penderita kusta karena bakterinya menyerang saraf. Efeknya mati rasa dan lumpuh pada sel motorik. Jika hal ini dibiarkan tanpa adanya pengobatan maka lambat laun, penderita akan mengalami disabilitas.

 

Menurut Dr. dr. Sri Linuwih Susetyo, SpK dalam ruang publik KBR menyatakan bahwa "bagian tubuh tangan, kaki dan mata adalah area yang berpeluang terjadinya disabilitas bagi penyandang kusta. Ketiga area ini, ketika terpapar bakteri leprae selanjutnya akan menyerang syaraf di sekitarnya dan efek jangka panjangnya bakal menimbulkan mati rasa dan kelumpuhan sel motorik."

 

Terapi Penyembuhan Kusta

Kusta bukanlah penyakit yang bersifat menurun. Secara umum tampak di masyarakat bahwa ketika satu anggota keluarga mengidap kusta, maka hal ini bisa menurun ke anggota keluarga lainnya. Fakta sebenarnya bukanlah seperti itu.

 

Kurangnya pengetahuan masyarakat atas penanganan dan proses penyembuhan penyakit kusta adalah penyebabnya sehingga tidak bisa membedakan antara penyakit keturunan dan bukan. Padahal sebenarnya, penyakit kusta ini bisa disembuhkan dan mencegah penyakit ini menular ke anggota keluarga lainnya.

 

Secara umum terapi kusta itu dibagi menjadi dua, yaitu terapi kusta kering dan kusta basah.


1. Terapi penderita kusta kering

Proses terapinya berjalan selama 6 bulan dan bisa diperpanjang hingga 9 bulan tanpa jeda menggunakan paket obat terapi yaitu Rifampisin dan Dapson.


2. Terapi penderita kusta basah.

Proses terapi penyembuhan berlangsung selama 12 bulan dan diperpanjang hingga 18 bulan menggunakan MDT (Multi Drug Therapy) Rifampisin, Dapson dan Lampren.

 

Perlu untuk diketahui bahwa, terapi kusta ini harus dilakukan dengan konsisten tanpa jeda. Ketika jeda terapi terjadi, maka prosesnya kembali ke awal untuk menghindari resistensi bakteri penyebab kusta.

 

Penyembuhan Kusta Bukan Hanya Mengandalkan Obat

Proses panjang dan efek penggunaan obat ketika terapi kusta adalah hal yang sangat berat yang perlu dijalani oleh penderita lepra. Nah penting sekali buat anggita keluarga dan masyarakat sekitar dalam mensupport proses panjang ini. Salah satunya dengan dukungan dan pengembalian mental pasien.

 

Seperti yang dicontohkan oleh Bapak Dulamin, Ketua Kelompok Perawatan Diri (KPD) Kec. Astanajapura Cirebon dan 20 orang anggotanya. Tugas mereka sebenarnya sangat simpel tetapi berdampak besar buat proses terapi penderita kusta.

 

Terapi penyakit kusta

Umumnya mereka belajar dan menerapkan bagaimana mentreatment luka kusta di lingkungan mereka dengan proses pembersihan luka. Proses ini dimulai dengan perendaman 20 menit dan penggosokan menggunakan batu apung. Tujuannya agar, luka yang muncul jadi bersih sekaligus memberikan kekuatan mental buat para penderita.

 

Selain itu, menurut Pak Dulamin yang sudah menjalani terapi selama 1 tahun dan berhasil sembuh bahwa "ketika berobat, sebaiknya terapkan pemikiran positif dan jauhkan dari stigma negatif. Agar proses penyembuhan bisa berjalan dengan baik. Ketika orang sakit. Jauhkan dari sentimen negatif agar para pasien tidak kepikiran dan fokus penyembuhan."

  

Semoga dengan meningkatnya pemahaman masyarakat akan penyakit kusta bisa membantu proses pemulihan penderita dengan tidak adanya sentimen negatif. Sehingga ujungnya mengurangi angka disabilitas akibat penyakit ini dan para penderita kembali sehat.

 

Talif

Saat ini selain sebagai blogger juga bekerja sebagai technical team khususnya dalam dunia kimia perminyakan.