MASIGNASUKAv102
1508570391356967755

Warung Sate Keroncong

Warung Sate Keroncong
Add Comments
Saturday, 18 April 2020
Di balik padatnya aktivitas masyarakat urban di sekitaran Jatinegara hingga bangunan bergaya kolonial yang berdampingan dengan gedung bertingkat, ternyata tersimpan salah satu kuliner legendaris, sate keroncong di sebuah gang bernama Gang Lele.

Berada di kawasan Mester Cornelis, sebuah warung sederhana bergaya klasik berdiri seolah tak tergerus zaman. Deretan meja dan kursi kayu tertata rapi dengan daya tampung maksimal 25 orang. Di sampingnya, bara dari nyala arang sempurna membakar daging kambing yang disusun pada tusuk satai. Beberapa kali kipas anyaman bambu berwarna kuning kecoklatan berhasil mematikan nyala api yang terbentuk. Pada proses ini, api tidak dibutuhkan, cukup panas arang dan asap mengepul untuk membuat tusukan daging kambing berwarna merah menjadi putih pucat. Suatu tempo, daging tersebut direndam dalam ramuan rempah khas nusantara sebelum panas arang kembali menyempurnakan proses pembakaran.

warung sate keroncong
Warung sate sederhana

 
Dahulu, tahun 1960 di atas trotoar kawasan Jatinegara Mester, Pak Kirmadi merintis Warung Sate. Terletak berdekatan dengan Kantor Polres Jakarta Timur yang pada masa itu dikenal sebagai Seksi 7 membuat Warung Sate Pak Kirmadi tenar dengan nama Warung Sate Seksi 7. Barulah pada 1979 akhir, Warung Sate Seksi 7 pindah ke dalam Gang Lele dan berganti nama menjadi Warung Sate Sederhana dengan tetap mempertahankan menu utama berbahan dasar kambing, yaitu gulai dan sate.

Seiring dengan berjalannya waktu dan ramainya pengunjung yang datang, lambat laun membuat fisik dari Pak Kirmadi mulai melemah padahal warung sate tetap ramai. Akhirnya pada 1998,  usaha Warung Sate Sederhana diteruskan oleh Pak Sri Mulyono sebagai generasi kedua hingga saat ini. Di bawah kendali beliau, semua cita rasa dipertahankan, begitu pun dengan bentuk dan tampilan warung sebagai bagian dari warisan keluarga.

Sate keroncong dan misi sosial

Jauh sebelum Indonesia merdeka, keroncong terkenal sebagai musik Portugis bernama fado. Musik ini diperkenalkan oleh para pelaut dan budak kapal niaga bangsa Portugis sejak abad ke-16 di nusantara. Melalui Goa di daratan India, musik keroncong masuk ke Melaka sebelum akhirnya dimainkan oleh warga Maluku. Sejak saat itulah, musik keroncong menyebar ke berbagai daerah di Indonesia meskipun pengaruh portugis melemah.

Pada 1996, sebuah grup pengamen keroncong asal Semarang yang biasanya mengais rezeki keliling di sekitar pasar beras Jatinegara tanpa sengaja bertemu dengan Pak Mulyono yang saat itu mendampingi Pak Kirmadi, ayah beliau. Kala itu, grup keroncong tersebut meminta izin untuk mengamen selama sehari di depan warung dan disambut baik oleh Pak Kirmadi dengan menyediakan tempat dan kursi seadanya. Hasilnya, ternyata cukup menggembirakan buat para grup keroncong yang berjumlah hingga 7 orang sampai dengan 4 hari berturut-turut.
penyanyi keroncong
Pemain keroncong

 
Hari demi hari, Warung Sederhana pun secara tidak langsung terjalin mutualisme dengan grup musik keroncong. Tidak ada lagi pengamen jalanan lain yang mencoba masuk ke dalam warung sehingga menimbulkan kenyamanan bagi para pelanggan dalam menyantap menu istimewa nan legendaris. Sedangkan bagi pelanggan sendiri, sangat terhibur dengan kehadiran musik keroncong. Tidak jarang, para pelanggan puas dengan alunan musik Portugis ini dan menyisihkan uangnya ke dalam topless plastik tepat di depan grup penyanyi keroncong. Bagi Pak Mulyono, menyediakan tempat dan memberikan makan untuk para anggota grup keroncong yang hingga saat ini tinggal 4 orang merupakan bentuk terima kasih atas kesetiaan mereka mendampingi Warung Sederhana. Mutualisme yang terjalin ini membuat Warung Sederhana menjelma tenar sebagai Warung Sate Keroncong.

Keunikan kuliner legendaris

Selain keberadaan keroncong yang merupakan musik Portugis, ternyata terdapat keunikan lain yaitu proses memasak yang tidak menggunakan satu pun bahan bakar minyak (BBM). Untuk proses memasak gulai dan nasi cukup mengandalkan kayu bakar yang didatangkan dari daerah Cisalak, Depok. Adapun tongseng dan sate dimasak menggunakan arang. Ternyata tanpa menggunakan BBM, tetap tercipta cita rasa autentik dan orisinal dari setiap masakan yang dihasilkan dan juga pastinya tidak terpengaruh dengan perubahan kenaikan harga BBM.

Memasak tongseng
Proses memasak tongseng

Cita rasa legendaris di setiap menu

Cita rasa sebuah makanan tercipta dimulai dari bahan baku dan rempah yang kemudian menyatu dalam proses memasak. Di Warung Sate Keroncong, hal ini benar-benar diperhatikan. Memilih kambing tua jawa sebagai bahan dasar dan 12 rempah nusantara yang diperoleh dari pasar Jatinegara merupakan kunci rahasia dari cita rasa menu yang dihasilkan. Dalam sehari, butuh sekitar 45 kilogram daging kambing yang kemudian diolah menjadi gulai, tongseng, dan 1.000 tusuk sate.


Baca juga: Dange dan Kapurung


sate mentah
Sate sebelum dibakar

Dahulu tahun 1960 hingga tahun 1980, gulai adalah menu favorit pengunjung. Empuknya daging kambing yang sudah melewati proses masak selama 5 jam yang menggunakan kayu bakar menjadi pilihan utama para pengunjung. Rasa gurih dari santan menciptakan tekstur kuah kental berwarna kuning. Efek menyegarkan pun muncul di lidah pada setiap porsinya. Setelah tahun 1980, ketika tongseng mulai dikenal luas oleh masyarakat, ternyata terjadi pergeseran menu favorit yang awalnya gulai kini berubah menjadi tongseng. Teknik memasak tongseng pun sangat sederhana, menggunakan panas dari nyala api arang selama 5 menit. Pada prosesnya, daging kambing mentah, potongan kubis, rempah dan air gulai dicampurkan untuk menciptakan rasa gurih dan daging padat nan empuk. Keberadaan kubis dan potongan cabai hijau menjadi ciri khas menu tongseng itu sendiri dan kuah kental menjadikan menu ini istimewa dibandingkan warung lainnya.

Menu tongseng
Menu tongseng


Berbeda dengan dua menu berkuah tersebut, sate tampil dengan potongan daging kambing yang cukup besar. Dibakar di atas arang dan dikipas menggunakan anyaman bambu dan sesekali sate setengah matang dicelupkan dalam ramuan bumbu agar meresap ke dalam daging sekaligus untuk menciptakan cita rasa istimewa pada setiap gigitan. Sate ini disajikan dengan potongan cabai dan tomat yang dituang bersama kecap hitam manis. Semua menu mulai sate, gulai, hingga tonseng terpelihara citarasanya mulai dari awal berdiri hingga saat ini  sebagai tempat kuliner legendaris.


warung sate keroncong
Menu sate


Kangen untuk kembali lagi

Merindukan alunan musik keroncong yang harmonis dari ukulele, gitar akustik dan selo beserta lantunan suara penyanyi khas sambil menikmati gulai kambing dan sate merupakan alasan mengapa Warung Legendaris ini dirindukan. Bahkan tidak jarang, para pelanggan setia yang kerja di luar kota ketika berada di Jakarta pasti menyempatkan diri untuk mampir. Tak hanya untuk memenuhi kewajiban makan siang, tetapi juga sekaligus nostalgia akan kuliner legendaris dari Warung Sate Keroncong.


Alamat:
Warung Sate Sederhana
Gg. Lele Matraman Raya 224. Jatinegara. Jakarta Timur.
Jam buka, pukul 09.00 - 18.00
Taumy Alif Firman

Menjadi lulusan kimia di Universitas terbaik di Indonesia bukanlah menjadi halangan untuk menuangkan tulisan tentang destinasi wisata dan gaya hidup selama menikmati keindahan di seluruh penjuru negeri.

  1. Wah, jadi ngiler nih. Tapi harus tunggu corona pergi baru bisa jalan-jalan lagi, ya.

    ReplyDelete
  2. Meski di warung sederhana, ternyata legendanya Jatinegara ya. Dan dari foto dagingnya tampak benar kualitas dagingnya.
    SAYa langsung bayangkan nikmatnya lho

    ReplyDelete
  3. wah jadi ngiler nih kak secara baru tau ada kuliner sate keroncong di kawasan mester.. kok waktu sy kost si Bukit Duri ga ngeh ya ada sate keroncong ini.. hehehe mksh infonya kak

    ReplyDelete
  4. Ya ampun ngiler banget sih, itu daging satenya menggoda banget, tongsengnya juga yummie kayaknya.
    wajib dikunjungi nih kalau ke Jakarta.

    Nanti kita makan sate keroncong saat korona pergi :)

    ReplyDelete
  5. Saya wakt tingga di Jakarta, sering leat daerah master Jatinegara, Mas Taumy. kebetulan rumah saya juga di Buaran Jakarta timur. Hanya saya kok baru tau ada warung sate keroncong yang melegenda ya. Dari fotonya saja, langsung mau mencicipi hahahaha.
    Besok kalau ke Jakarta akan saya cari warung sate keroncong ini, Mas. penasaran ingin mencicipinya.

    ReplyDelete
  6. Portugis ini banyak meninggalkan kesan mendalam untuk Indonesia ya mas. Selain musik keroncong, kabarnya banyak kata dalam bahasa Indonesia yang diserap dalam bahasa Potugis, salah satunya BENDERA. Saya takjub loh. Walau pun yaaaa Portugis itu negara penjajah. Hehehe. Berkesan banget pastiya makan sate di sini.

    ReplyDelete
  7. Waah jadi tau tentang Warung Sate Keroncong berikut ulasan sejarahnya, ternyata lagu keroncong itu dari negara Portugis ya Mbak. btw kl istilah perut keroncongan aseli Indonesia kan ya Mbak, hehehe

    ReplyDelete
  8. Ngiler aku...tongseng favoritku nih, dan di seputaran rumahku ga ada yang mantap. Kalau mau enak mesti pas pulkam..duh! Dan aku sudah sering baca tentang Warung Sate Keroncong ini, cuma ya itu tadi karena letaknya di Jatinegara jadi belum kesampaian juga. Semoga habis corona bisa ke sana..dan masih eksis warungnya.

    ReplyDelete
  9. Dari baca judulnya, saya sudah menerka nerka, keroncong itu apa terkait musik keroncong atauboerut yg keroncongan ya.. .
    Ternyata terkait musik ya..

    Sepertinya sate nya enak, dari foto daging sate yg belom dibakar itu, daging segar

    ReplyDelete
  10. Bacanya ini pas Ramadhan tuh rasanyaaa.... pengen banget. Untung aja lagi gak puasa, hehe. Btw, sate dan tongseng adalah menu kasukaan apalagi saat darah rendah. Di Malang pun ada warung sate favorit namanya Cairo, endess

    ReplyDelete
  11. Liat ini saat puasa.. Godaan banget. Wkwkwk... karena sate dan tongseng itu makanan favorit aku. Apalagi tongsengnya dimasak pake tungku begitu. Duh, rasanya lebih nikmat dibandingkan di masak pake kompor.

    ReplyDelete
  12. Wuih cita rasanya khas nusantara ya.. Btw aku baru tau kalo keroncong bukan musik asli Indonesia hehehe

    ReplyDelete