Pesona Pulau Timbul, Batu Lakulu.


Hening pagi masih menghampiri perkampungan nelayan di pesisir pantai Tambu, saat jendela kayu rumah aku buka. Mataku tiba-tiba berbinar dari balik jendela yang langsung menghadap ke pulau pasir putih didepannya. Guratan cahaya keemasan memenuhi langit pagi dan terefleksikan di permukaan air. Satu-dua perahu nelayan, melintas dibawahnya. Secara perlahan, matahari pun mulai muncul dari garis khatulistiwa, merah merona. Pelengkap panorama pagi hari nan syahdu.

“Ah, pagi yang menawan” ujarku dalam hati.

Nuansa Pagi Panti Tambu

Tidak lama berselang, aku putuskan untuk mulai berjalan dibibir pantai, menikmati pagi dengan aktivitas para nelayan sekitar yang baru pulang dari laut membawa ikan hasil tangkapan semalam. Aku masih punya waktu sekitar sejam sebelum bertemu dengan nahkoda kapal yang akan mengantarkanku ketujuan utama, selain pasir putih di pulau seberang.

Sebelum berangkat, segala persiapan dilakukan. Mulai dari perbekalan air minum, makanan sampai pengecekan bahan bakar, semua harus diperhatikan.


“Ngana dorong jo dulu itu katinting, kita ba kajar air surut ini”, kata nahkoda kapal yang akan mengantarkanku dengan dialek khas Sulawesi Tengahnya.


Dengan hitungan, “satu-dua-tiga”, maka kami serentak mengeluarkan tenaga, mendorong “katinting” ke bibir pantai dan memastikannya sempurna melayang di permukaan air. Di Sulawesi, khususnya Sulawesi bagian selatan sampai tengah, katinting merupakan sebutan perahu nelayan dengan sepasang capit dikiri dan kanan perahu sebagai penyeimbang.


“Katinting” ini yang akan kami gunakan menuju “Batu Lakulu”, sebuah pulau berkarang yang hanya timbul ketika air surut, berjarak waktu sekitar 30 menit dari Pantai Tambu. Di kalangan suku Kaili, pulau ini termasuk yang dikeramatkan, banyak mitos beredar terkait keberadaan batu lakulu, salah satunya adalah “kisah seorang pemuda yang menyelam di pulau ini dan tak kunjung muncul setelahnya”. Kisah ini pun kemudian tersebar, yang menganggap bahwa pemuda tersebut adalah penjaga batu lakulu dibawah laut sana. Tetapi dibalik semua cerita itu, pulau ini menyimpan keindahan tersendiri yang jarang terekspos oleh warga sekitar. Hal ini yang membuat rasa penasaranku memuncak dan hari ini, aku ingin menyaksikan sendiri keindahan yang tersembunyi dibalik mitos batu lakulu.

Batu Lakulu dari kejauhan

Selain bentuk pulaunya unik, menyerupai payung di permukaan, pulau ini pun memiliki pemandangan bawah laut yang luar biasa menawan. Awalnya, pulau ini tidak tampak dari kejauhan, tetapi lama-kelamaan sebuah titik kecil mulai terlihat berwarna coklat kehitaman, kontras dengan birunya laut yang mengelilinginya. Seiring dengan mendekatnya katinting titik kecil ini semakin membesar membentuk sebuah pulau. Hampir keseluruhan pulau tertutupi pecahan karang mati akibat proses alam. Sesekali ombak-ombak kecil pecah menerjang batu lakulu.

Free Dive di Batu Lakulu

Layaknya sebuah pulau kecil di tengah laut, batu lakulu sempurna melayang di atas air dengan ukuran yang tidak lebih luas dari lapangan bola. Pulau ini pun, sudah memberikan kesan berbeda dengan pulau timbul sebelumnya yang sempat dikunjungi disekitar kepulauan Karimun Jawa. Jika disana pulau timbulnya tertutupi oleh pasir putih, sangat berbeda dengan batu lakulu. Pulau timbul ini, hampir 75 persen terdiri atas pecahan karang berpuluh-puluh atau bahkan beratus-ratus tahun lalu terkumpul dan membentuk pulau yang menyerupai payung jika dilihat dari bawah air.


Puas berkeliling di atas pulau, akupun memutuskan untuk mulai mengeksplor dunia bawah lautnya. Menggunakan kacamata renang buatan warga pesisir yang memanfaatkan batang kayu mangrove dan dibentuk sedemikian rupa, menyerupai kacamata. Tidak butuh waktu lama, setelah mata ini terlindungi oleh kacamata renang tradisional, hanya sekian detik maka kemudian badan ini sempurna menyelam di bawah air. Berenang bebas kesana-kemari, sambil mengagumi terumbu karang  berbentuk sekumpulan bunga kaku di dasar laut. Sesekali, ikan berbagai warna pun menghampiri kemudian kembali menjauh bersembunyi dibalik karang. Aku pun takjub, kembali tetap berenang ke dasar laut, semakin menjauh dari pulau ini, maka karang yang ada pun tumbuh semakin miring terhadap daratan pertanda kedalaman laut sudah bertambah dan tepat diujung populasi karang, aku pun berhenti. Berenang terdiam menikmati hening dan beningnya air laut yang dihiasi sekumpulan karang berwarna putih abu-abu.
 
Karang di Batu Lakulu

Dalam hati, aku berucap, “inilah keindahan yang tersembunyi itu, dunia bawah laut yang menawan dengan karang tersusun rapi layaknya kipas”. Sebuah perpaduan unik dari pulau karang berbentuk payung, ikan warna-warni yang malu-malu dan terumbu karang dengan karang kipasnya. Hingga akupun berdoa, agar kelak batu lakulu tetap seperti ini terjaga alami oleh alam, meskipun suatu saat nanti akan menjadi tujuan wisata domestik yang berjarak 148 kilometer dari Kota Palu, Ibukota Sulawesi Tengah.

7 comments:

  1. Hebat pemandangannya, bisa free dive lagi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak, jika ingin berkunjung kesini, silahkan berkabar. Bisa free tempat tinggal.

      Delete
  2. Foto pantai yg menawai saat pagi hari di palu bener2 menyentuh saya. Pemandangan yg eksotis..
    Jadi ingin travelling kesana bang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berkabar saja, jika ingin kesana. Dalam blog ini pun ada beberapa destinasi wisata. Siapa tahu tertarik untuk mengunjunginya.

      Delete
  3. Gilaak ini Bagus banget tempatnya. Belum terekspose ya ? Jadi pengen kesini heheh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak Didy, silahkan mampir kesini. Mungkin hanya sekedar melihat matahari terbit dan free dive

      Delete
  4. Duh, bagus banget ya. Talif fotonya kurang banyak nih.

    ReplyDelete

Powered by Blogger.