Kampung Muslim Koh Samui: Pusat Muslim Melayu Peranakan di Teluk Thailand



Terik matahari masih menyengat, membakar kulit, tak kala bis dua tingkat bertuliskan “Surat Thani-Donsak Pier” antri menunggu penumpang yang akan menyeberang ke Koh Samui dari Airport Surat Thani. “Koh”,  dalam bahasa Thailand berarti Pulau. Pulau ini merupakan pulau kedua terbesar di Thailand setelah Phuket dan terletak di Teluk Thailand. Tidak banyak warga Indonesia  mengetahui dimana  letak persis Koh Samui.




Dari Airport, bis melaju perlahan meninggalkan gerbang “selamat datang” dan sesaat kemudian, jalan luas, sepi nan mulus pun menyambut. Dikiri-kanan, sepanjang perjalanan tampak deretan rumah warga yang tidak begitu berbeda dengan bentuk rumah di Indonesia, kecuali banyaknya “wat” sebagai tempat beribadat umat Budha. Papan penunjuk berlatar biru dengan tulisan Donsak Pier berwarna putih sebagai penanda bahwa dermaga Donsak sudah dekat, tempat penyeberangan menuju Koh Samui. Butuh waktu sekitar 1 jam 45 menit untuk tiba di tempat ini.




Riuh pikuk orang berlalu-lalang di Donsak Pier tidak seramai pelabuhan Merak, tetapi semuanya tergesa-gesa. Bunyi suara nyaring dari Kapal Ferry adalah penyebabnya. Setelah mengambil boarding pass Ferry, saya pun melangkah kan kaki dengan sedikit berlari menuju Gate 1. Tiket diambil, masuk ke bibir Ferry dan beberapa detik kemudian, pintu Ferry pun terangkat. Tidak disangka, saya adalah penumpang terakhir yang masuk ke kapal 4 tingkat ini. Tingkat pertama tampak parkir, mobil, truk dan kendaraan bermotor lainnya. Tingkat kedua dan ketiga merupakan area pengunjung. Untuk tingkat paling atas saya tidak berhasil melihat, ada apa gerangan diatasnya. Sekitar 1 jam 30 menit, waktu yang dihabiskan untuk berlayar dari Donsak ke Koh Samui.

Setibanya di Lipa Noi Pier, papan bertuliskan “Koh Samui” terpampang dengan angkuhnya. Laju langkah saya percepat, bergegas menuju pintu kedatangan dengan jarak begitu jauh dari bibir dermaga. Berbekal tiket mini van 200 baht ditangan untuk penggunaan mini van menuju Muslim Village. Kesan elegan tampak nyata didalam minivan bermuatan 10 orang. Semua barang bawaan diletakkan dibagian belakang, ditumpuk sedemikian rupa agar tampak rapi. Butuh waktu 45 menit dari Lipa Noi menuju Muslim Village. 




Tak pernah terbayangkan sebelumnya tentang kehidupan masyarakat muslim di Thailand, apalagi di kawasan pulau terpencilnya dan kali ini pun, saya membuktikan bahwa pulau ini masih menyimpan sejarah masa lalu, erat hubungannya dengan Muslim Melayu. 

Perut yang sudah mulai bunyi, menuntun saya menuju rumah makan sederhana, tepat disisi kiri Masjid Nurul Ikhsan. Tampak 2 buah meja berjejer, dipisahkan dengan jalan masuk warung. Tak satu pelanggan pun ada pada saat itu. Waktu tepat untuk mencari berbagai informasi terkait kehidupan muslim disini sambil menyantap makan siang yang lupa untuk ditunaikan sejak dari bandara Surat Thani. Menggunakan bahasa Inggris dan bahasa tubuh, saya pun menunjuk mie panjang nan tebal seperti penampakan mie medan. Sontak kemudian sang pramusaji wanita yang masyarakat sekitar memanggilnya “Mei”, mengeluarkan kata “kuning”. Kaget, tercengang dan bangga, tercampur aduk saat wanita tersebut bisa berbahasa Melayu. Kata “kuning” pun mengantarkan saya untuk lebih banyak mengeksplor bahasa sehari-hari mereka. 




Mei, wanita berperawakan gempal dan berkulit hitam berumur sekitar 60-an tahun. Keriput tampak nyata dari wajah beliau. Menggunakan penutup kepala yang diikat pada bagian belakang leher yang berbatasan dengan ujung rambut.  Meskipun bahasa Thailand merupakan bahasa ibu, tetapi ternyata ada beberapa kata sehari-hari, sama dengan bahasa melayu. Fakta itu tampak dari Mei. Percakapan pun berlanjut dengan bahasa melayu. Dengan gaya santai sambil duduk dikursi malas beliau menjabarkan kehidupan masayarakat muslim village yang mayoritas sebagai nelayan dengan jumlah populasi muslim mencapai seribu orang. Jumlah fantastis sebagai warga minoritas di pulau berpenghuni lebih dari 63 ribu orang.

Sungguh, suatu kehormatan mengetahui kehidupan muslim melayu peranakan di Teluk Thailand. Di akhir percakapan, saya pun bertanya harga santapan siang. Dengan santai, beliau menjawab “empat pulu” dengan bahasa melayu yang berarti 40 Baht. Kuserahkan 100 Baht, sesaat kemudian Mei, mengembalikan dengan pecahan 20 Baht sebanyak 3 lembar sambil berkata “Enam Pulu”.

No comments:

Powered by Blogger.