MASIGNASUKAv102
1508570391356967755

Memaknai Perjalanan Kebaikan, Dari Masyarakat Hingga Indonesia Fundraising Awards 2020

Memaknai Perjalanan Kebaikan, Dari Masyarakat Hingga Indonesia Fundraising Awards 2020
Add Comments
Saturday, 18 July 2020

Sebagai bagian dari kaum urban. Bekerja dari pagi hingga sore dan jauh dari kampung halaman membuat rutinitas monoton 8 ke 5 adalah hal biasa. Bahkan ada pepatah yang mengatakan, berangkat sebelum matahari terbit dan pulang setelah matahari terbenam. Pekerjaan seperti ini memang masih menjadi daya tarik tersendiri, disamping glamornya kehidupan kota besar hingga peluang akan penghasilan lebih baik.

Tetapi, sampai kapan rutinitas ini akan berjalan normal seperti itu? Tanpa peduli akan kehidupan sosial lainnya. Hingga pada suatu malam, ada pesan singkat masuk ke handphone. Nomor tersebut, benar-benar aku kenal. Beliau adalah salah satu orang terpandang di kampung, tempatku berasal.

 “Pak, ada waktu luangnya? Bisa aku curhat dengan bapak?”

 

“Minta solusinya, bagaimana pak terkait bangunan masjid yang di pantai?”
 

“Target kami, masjid bisa dipakai ketika ramadan nanti. Kendalanya adalah material yang tersedia hanya seadanya dan belum ada dana terkumpul untuk biaya upah tukang”
 

Memang, sejak dahulu, kampung kami berada di pesisir pantai dengan mayoritas mata pencaharian sebagai nelayan dan tidak memiliki masjid. Adapun, masjid terdekat berjarak sekitar 5 kilometer di kampung atas.

Jika hari Jumat tiba, maka kami para lelaki bergerak menuju kampung atas untuk menunaikan sholat jumat secara berjamaah.

Awalnya, hanya terdapat sekitar 30 kepala keluarga kemudian seiring berjalannya waktu, maka bertambah hingga lebih dari 100 kepala keluarga. Mata pencaharian sebagai nelayan sudah menguras waktu yang dimiliki, dimana berangkat ke laut pada sore hari dan kembali ke darat di pagi hari. Waktu siang yang dimiliki benar-benar hanya ditujukan untuk isitirahat.

Penghasilan nelayan yang tidak menentu, sehingga kesulitan untuk mengumpulkan iuran pembangunan masjid yang pada saat itu hanyalah sebuah mushollah kecil. Belum lagi ditambah dengan letak kampung yang jauh dari jalur lintas trans Sulawesi sehingga peluang untuk melakukan penggalangan bantuan pembangunan masjid dipinggir jalan seperti yang sering terlihat dibeberapa kota besar, sulit untuk dilakukan.

"Baik pak. Nanti aku coba untuk mencari cara, agar pembangunan masjid bisa berjalan”
 

“Untuk saat ini, mohon untuk dikirimkan foto tampilan awal dari biaya rencana masjid yang akan dibangun” Begitulah jawaban singkat ku saat itu yang bisa menjadi harapan buat mereka di kampung halaman.

 

Entah mengapa, ketika ada tekad dan niat baik selalu saja ada kemudahan di dalamnya. Ketika makan siang bersama rekan sekantor dan menceritakan hal ini. Mereka langsung merespon.


“Bro. Kenapa tidak coba layanan pengumpulan dana via digital yang disediakan oleh lembaga amal?” jawaban dari salah satu rekan kerja.
 

Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Ide ini langsung aku eksekusi. Membuat “campaign Masjid Nelayan” dan mengisi latar belakang “campaign” ini pada salah satu lembaga fundraising.


Perjalanan Kebaikan dalam Indonesia Fundraising Award


Alhamdulillah, sebelum hari terakhir “campaign”, total dana terkumpul sudah bisa membiayai pembangunan masjid nelayan di Pantai Tambu.

Ternyata, keberadaan lembaga fundraising seperti ini bisa mempertemukan orang-orang yang ingin beramal sesuai dengan tempat dan proporsinya. Meskipun tanpa harus bertemu secara langsung.


Kehadiran Lembaga Amal dari Masyarakat untuk Masyarakat

Bulan September, tanggal 28 tahun 2018, Indonesia kembali berduka. Tsunami dan gempa meluluh-lantahkan Kota Palu dan Donggala secara bersamaan. Ribuan orang meninggal seketika dan ribuan bangunan hancur dalam sekejap. Puing-puing bangunan berserakah, jenazah bertebaran disana-sini.

Setiap detiknya adalah ratapan. Sangat sulit untuk melewati. Putusnya akses dan keterbatasan sumber pangan ikut serta memperparah keadaan ini. Tetapi, apalah daya, bertahan dan memanfaatkan apa yang tersisa sangat penting kala itu. Hingga berbagai bala bantuan berdatangan, tak terkecuali dari lembaga fundraising.


Lembaga sosial di area bencana

Keberadan lembaga fundraising benar-benar menjadi salah satu garda terdepan ketika bencana itu tiba. Menjadi fasilitator sekaligus penghubung dan pelaksana eksekusi lapangan antara pemberi dan penerima bantuan.

Dalam skala kacamata bencana, banyak orang pasti berempati dan bersimpati untuk membantu, tetapi tidak semua memiliki kemampuan dan keahlian untuk terjun langsung ke daerah terdampak. Maka disinilah pentingnya keberadaan lembaga fundrising. Memgumpulkan bantuan dari masyarakat dan menyalurkan bantuan tersebut kepada masyarakat yang terdampak berdasarkan prioritas kebutuhan saat itu. Inilah yang menjadi alasan, mengapa lembaga sosial bertindak sebagai fasilator dan garda terdepan.


Indonesia Fundraising Award 2020, Sebuah Apresiasi atas Pencapaian Misi Sosial

Dibalik kinerja berbagai lembaga fundraising ternyata menyimpan banyak cerita dan keterkaitan emosional, bukan hanya sekadar proses pengumpulan dan penyaluran bantuan. Mungkin beberapa lembaga memiliki kinerja baik dan beberapa lembaga lainnya butuh untuk penguatan dan kaderisasi.

Berawal dari sinilah, maka Institut Fundraising Indonesia (IFI) menginisiasi terselenggarakannya Indonesia Fundrising Award 2020.

Award atau ajang penghargaan, bukan hanya sekadar acara seremonial belaka, tetapi merupakan salah satu bentuk apresisasi atas kinerja dan pencapaian yang telah ditorehkan.

Sejak didirikan oleh Arlina F. Saliman dan M. Arifin Purwakananta tahun 2013 lalu, IFI tumbuh menjadi lembaga yang fokus terkait training, consulting dan publishing bidang fundraising. Berangkat dari visi untuk melahirkan sumber daya manusia yang tangguh di bidang fundraising dalam dan luar negeri serta didukung akan misi mendorong kemandiriaan Indonesia melalui kemitraan fundraising agency serta membangun jaringan lembaga sosial untuk program sustainable development.



Tim IFI


Keberadaan IFI juga sebagai penyedia literatur fundraising yang relevan untuk Indonesia sehingga merasa perlu diadakan Indonesia Fundraising Award 2020. Menurut Ibu Arlina F. Saliman, penyelenggaraan IFA Award ini memiliki beberapa tujuan yaitu untuk:

  • Mengapresiasi berbagai lembaga yang telah berkiprah di bidang sosial kemanusiaan di Indonesia. 
  • Mendorong lembaga sosial kemanusiaan agar termotivasi melakukan fundraising.
  • Mendorong ketertarikan anak-anak muda untuk masuk ke dalam dunia sosial kemanusiaan.
  • Mendorong lembaga sosial kemanusiaan untuk mengelola lembaganya secara profesional dan transparan.

 

Peraih Penghargaan IFA Award 2020

Melalui proses panjang dimulai dari seleksi administrasi, pembagian lembaga fundraising dalam berbagai kategori, tabulasi dan analisa data hingga uji kelayakan lembaga sebelum penetapan para pemenang penghargaan IFA Award.

Proses penjurian IFA Award dilakukan oleh Direktur KNKS Ahmad Juwani, Direktur IFI Arlina F.Saliman dan Direktur Eksekutif Forum Zakat (FOZ) Agus Budiyanto. Sebanyak 16 kategori nominasi yang akan dianugerahkan kepada berbagai lembaga dan 1 kategori spesial kepada “Tokoh Pendukung Gerakan Fundraising di Indonesia”. 

Acara IFA yang dilakukan secara online pada tanggal 9 Juli 2020, benar-benar dipersiapkan dengan baik mulai dari pembacaan nominasi hingga pengumuman pemenang.


Pemenang Indonesia Fundraising Award 2020
Daftar pemenang Indonesia Fundraising Award 2020

Untuk kategori spesial yaitu Tokoh Pendukung Gerakan Fundraising di Indonesia diberikan kepada Almarhum K.H. Salahuddin Wahid atau yang dikenal dengan Gus Sholah.

Di masa hidupnya, beliau adalah ulama tanah air yang mengabdi untuk pendidikan pesantren dan perkembangan islam di Indonesia selain kepedulian beliau terhadap bidang sosial kemanusian. Menurut beliau bahwa fundraising adalah salah satu poin utama dalam kemandirian organisasi.


Gus Sholah

Dari acara IFA Award 2020 mengajarkan kepada kita bahwa penghargaan ini hanyalah pemicu akan apresiasi kinerja berbagai lembaga fundraising. Mereka tumbuh karena budaya berderma warga Indonesia yang tinggi dan saling bekerjasama meskipun terpisahkan lautan dan berbeda pulau.

Semoga acara ini menjadi booster untuk tetap berbagi, dari masyarakat melalui lembaga fundraising untuk mereka yang membutuhkan. Karena sejatinya, perjalanan sebuah kebaikan, nilai dan pahalanya akan kembali kepada kita.

Taumy Alif Firman

Menjadi lulusan kimia di Universitas terbaik di Indonesia bukanlah menjadi halangan untuk menuangkan tulisan tentang destinasi wisata dan gaya hidup selama menikmati keindahan di seluruh penjuru negeri.