Saturday, 7 March 2020

Ketika Memilih Teknik Elektro

Kabut masih menyelimuti jalan depan rumah. Sesekali angin semilir, membawa dingin yang menusuk tulang. Dari ufuk timur, berkas lazuardi perlahan nampak. Ine dengan raut keriput, kulit beliau berwarna hitam legam, tergopoh-gopoh menuju dapur. Dibukanya gentong dan mengambil 2 gayung air kemudian menuangnya kedalam teko aluminium yang kilapnya sudah memudar. Sesaat kemudian, asap perlahan mengepul, nyala api sekarang tinggal menunggu waktu untuk membuat panas, air dalam teko.

“Uto, bangun. Maria bangun. Ini sudah pagi. Ayo persiapan berangkat sekolah. Jangan lupa, Uto ambil air di pancoran Muring. Maria, bantu Ine masak disini” terdengar dengan samar teriakkan Ine membangunkanku dan adik laki-lakiku, Uto. Ine dalam bahasa manggar berarti Ibu.

Seperti rutinitas biasa, aku pun bergegas ke dapur membantu Ine mempersiapkan sarapan pagi dan perbekalan. Dari balik celah dinding anyaman bambu, aku melihat Uto bergegas membawa 5 buah jerrycan untuk diisi dengan air dipancoran Muring.

Sadar Gender



Bulan ini adalah musim panen, meskipun air sangat terbatas bukan berarti proses tanam padi di kaki bukit membentuk terasering tidak berhasil. Bagi kami warga Bea Muring, air dan listrik adalah dua kendala utama yang setiap hari menghantui. Tetapi, kami bersyukur masih bisa hidup dan bertahan hingga hari ini. Melalui hasil perkebunan lainnya, yaitu cengkeh.

Pukul 06.00 WITA, selesai mandi dan sarapan. Aku bergegas ke pinggir jalan depan rumah. Seperti biasa, menumpangi Colt kayu, kendaraan yang akan mengantarkanku ke sekolah SMA di kampung atas. Berjarak tempuh 30 menit perjalanan jika lancar dan jalanan tidak longsor. Sebenarnya, jika menggunakan motor waktu tempuhnya hanya 10 menit. Tetapi bagi keluarga kami, motor adalah barang yang sangat mewah. Sejak SD hingga SMA seperti sekarang, di rumah hanya ada radio baterai sebagai barang termewah yang ayah beli di pasar Ruteng.

“Maria, jangan lupa mampir beli kapur dan daun sirih untuk persiapan Tari Caci”. Teriak Ine, sebelum akhirnya Colt kayu tiba.

“Baik, Ine” aku pun bergegas naik Colt kayu dari belakang. Mengangkat sedikit rok seragam sekolah dan lompat masuk ke dalam Colt kayu. Beberapa Ine Ine lainnya yang sudah ada didalam Colt kayu, geleng-geleng kepala melihat caraku naik kendaraan ini. Bagi mereka, hanya laki-lakilah yang biasa naik dengan cara tersebut. Maklum, desa ini memang hanya memandang laki-laki dan perempuan berdasarkan kodratnya, sehingga sadar gender sangat jauh dari harapan. Tetapi, aku selalu tidak peduli tentang hal ini, selama tidak mengganggu pikiran dan keinginanku. Meskipun sering menjadi bahan perbincangan warga desa.

Kini, Colt Diesel melaju pelan, menembus jalanan berbatu dengan aspal seadanya. Bahkan lebih banyak jalanan rusak dibanding jalanan beraspal. Pepohonan dan bukit sudah menjadi sahabat perjalanan yang selalu dijumpai sepanjang jalan. Begitupun aliran sungai di sebelah kiri jalan, sebagai satu-satunya sungai yang melintasi desa ini.
 
Sadar Gender
Sengkedan Terasering di Bukit kawasan Bea Muring

Insiden Pesta Panen

Alunan tabuhan gendang dari microphone begitu menarik perhatian. Puluhan hingga ratusan warga sudah mulai memadati lapangan depan gereja. Dua kelompok pria, masing-masing terdiri 4 orang sudah siap menunjukkan kebolehannya. Mereka semua menggunakan pakaian khas dengan penutup kepala dari kulit sapi. Tangan kanan memegang cemeti, dan tangan kiri memegang tameng. Setiap kali mereka bergerak, maka terdengar suara gemercik dari lempengan bulat yang digantungkan dibelakang tubuh mereka. Tarian ini bernama Tarian Caci atau Cicaci.
 
Setiap gerakan penari Caci akan menimbulkan bunyi

Tarian Caci hanya diselenggarakan ketika musim panen tiba sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen. Semua penarinya adalah laki-laki. Mereka saling serang menggunakan cemeti dan bertahan menggunakan tameng. Tidak jarang, darah segar bermunculan dari tubuh mereka. Ketika darah ini keluar, maka langsung diobati menggunakan ramuan kapur dan daun sirih, agar tidak bertambah parah dan pendarahan akan berhenti seketika.

“Romo Elie, kenapa hanya laki-laki saja yang boleh ikut Tari caci, padahal semua pasti senang kalau ada perempuan yang ikut berpartisipasi dalam tarian ini” tanyaku kepada Romo Paroki Bea Muring, disela-sela menikmati Tarian Caci.

“Maria, Tari Caci ini penuh dengan gerakan fisik yang menguras tenaga. Coba kamu lihat itu, cemeti yang digunakan. Itu adalah simbol kekuatan seorang laki-laki. Begitupun juga dengan tameng sebagai simbol pertahanan jika ada yang menyerang. Dengan semua peralatan yang dimiliki, sudah sepantasnyalah Tari Caci dimainkan oleh laki-laki. Jika Maria ingin menari, belajarlah Tarian Lipa Songke yang gerakannya lemah lembut nan gemulai”

Sadar Gender

Aku pun terdiam mendengar penjelasan dari Romo. Mungkin ada benarnya juga. Jika Tarian Caci hanya untuk para laki-laki karena karakter kerasnya, begitupun dengan Tarian Lipa Songke hanya untuk perempuan dengan karakter lemah lembut.

Belum habis aku cerna semua analogi ini, tiba-tiba suara tabuhan gendang tidak terdengar dengan jelas. Alunan gendang yang awalnya nyaring sekarang tergantikan dengan suara gaduh dari penonton. Ternyata, ada masalah dengan microphone.

Ini insiden, jika tidak segera diatasi, maka pertunjukkan bisa langsung berhenti. Para penabuh gendang saling menatap, mereka bingung mengatasi hal ini. Apalagi ini adalah pesta panen. Jangan sampai ‘bala’ atau bencana datang menghampiri setelah ini.

Wakil kepala Desa yang biasa menjadi teknisi dadakan jika ada masalah dengan microphone, sekarang lagi berada di Labuan Bajo, ada agenda yang beliau tidak bisa tinggalkan. Aku pun inisiatif untuk cek sambungan microphone. Siapa tahu ada kabel penghubung yang putus dari sambungan generator bertenaga diesel dengan microphone.

Sadar Gender



Benar saja dugaanku, setelah menggunakan obeng dan membuka ujung microphone terdapat salah satu kabel yang putus. Aku mencoba melilitkan pisau untuk memotong lapisan pelindung kabel hingga muncul serat tembaganya. Kemudian aku sambungkan dengan panel berlambang positif sebelum bautnya aku kuatkan kembali. Sejatinya tidak membutuhkan tenaga yang kuat untuk menyelesaikan insiden ini. Meskipun bagi warga disini yang belum sadar gender, hanya beranggapan bahwa, cuma laki-laki saja yang bisa menyelesaikan masalah kelistrikan. Tetapi, kali ini tidak. Akhirnya selesai sempurna. Kini microphone sudah bisa digunakan kembali dan acara terus berlanjut. Tarian Caci ini akan dinikmati hingga 3 hari kedepan.

Salahkah, Jika Aku Memilih Teknik Elektro

Sejak insiden Tari Caci, aku pun sadar akan potensi yang aku miliki. Selama sekolah, aku memang sangat suka dengan mata pelajaran fisika khususnya tentang listrik. Apalagi, kelulusan ujian nasional yang berlangsung minggu kemarin, membuat aku yakin untuk memilih kuliah di jurusan Teknik Elektro. Hal ini rencana akan aku bicarakan dengan Ema (artinya ayah dalam bahasa manggarai) dan Ine malam nanti.

“Ema… Maria kan sudah lulus SMA. Maria berencana untuk kuliah dijurusan Teknik Elektro. Apakah boleh?” Aku pun langsung menundukkan kepala selepas menyampaikan hal ini.

“Maria…Apa yang kamu harapkan sehingga ingin kuliah di Teknik Elektro. Kampung kita ini, sejak dahulu hingga sekarang, para perempuan pasti memilih sekolah bidan atau perawat, agar kelak bisa mengabdi di puskesmas. Nah, ini…Maria, mau kuliah Teknik Elektro. Coba kamu lihat, anak Pak Yuki yang kuliah teknik di Ruteng, rambutnya gondrong dan suka merokok. Tetapi dia kan laki-laki, sedangkan Maria kan perempuan. Mana bisa Ema biarkan Maria menjadi seperti itu” jawaban Ema yang seakan tiba-tiba meruntuhkan harapanku.

“Ema… Memang benar, kalau perempuan disini kebanyakan lanjut sekolahnya sebagai bidan atau perawat. Tetapi, apakah kita juga harus memaksakan Maria untuk mengikuti jejak mereka. Padahal, Ema kan tahu kalau Maria memiliki bakat khusus dalam dunia listrik. Pas acara pesta panen, hanya Maria yang bisa menyelesaikan masalah microphone yang putus itu, jadinya acara tetap berlangsung. Mungkin pula suatu saat nanti, melalui tangan Maria lah, desa kita bisa menikmati listrik tanap perlu pakai generator diesel. Lagian Teknik Elektro, pastinya tidak akan melihat apakah perempuan atau laki-laki yang kuliah disitu, yang penting bisa memenuhi syarat akademik. Maria kan hebat dalam Fisika. Ina yakin, Maria bisa masuk kuliah dijurusan Teknik Elektro” ucapan Ina yang tiba-tiba tidak terduga olehku sama sekali.

Dahulu, Ina selalu diam jika membahas hal pelik dikeluarga, semuanya selalu mengandalkan keputusan Ema. Tetapi kali ini berbeda. Ina lah yang mendukungku. Bahkan Ina berani mengeluarkan pendapatnya sebagai seorang perempuan sekaligus sebagai Ibu.

Sadar Gender


Sekarang aku tersadar, ternyata tidak semua orang di kampung ini tidak sadar gender. Ina lah orang pertama yang mengerti dan memahami bahwa memilih jurusan pendidikan bukan masalah gender tetapi masalah kemampuan yang dimiliki. Karena Ina pula lah, akhirnya Ema luruh dan mengizinkan ku kuliah di jurusan teknik elektro.

Mungkin aku terlahir di Bea Muring, desa yang hanya memandang bahwa sejatinya pekerjaan laki-laki dan perempuan sudah berbeda berdasarkan kodratnya. Tetapi, bukan berarti bahwa memilih masa depan juga hanya berdasarkan kodrat. Masih ada aspek lain yang lebih penting, yaitu masalah bakat dan minat tanpa hanya memandang jenis kelamin.


1 comment:

  1. mungkin itu juga yg menyebabkan pemberontakan RA Kartini ya untuk menyetarakan gender.

    ReplyDelete

Comments system

Disqus Shortname

Powered by Blogger.