Salah Satu Cara Memerdekakan ‘Kartini Muda’ adalah Dengan Tidak Menjadikan Mereka Iklan Berjalan Brand Rokok

April 22, 2019
Bulan April sangat istimewa, bukan karena keberadaan April Mop yang sering diartikan sebagai hari berbohong sedunia sehingga menimbulkan efek merugikan akibat lelucon yang dibuat. Bukan itu, tetapi bulan April yang dimaksud adalah tanggal 21 setiap tahunnya. Dahulu kala pada tanggal 21 April tahun 1879 di Jepara lahir seorang wanita bernama Raden Ayu Kartini yang lebih dikenal dengan nama Raden Adjeng Kartini sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi. Karena jasa beliau, wanita pribumi pada zaman tersebut bisa mendapatkan pendidikan layak. Dan sekarang, R.A Kartini dikenal melalui bukunya berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang merupakan kumpulan surat yang ditulis oleh R.A Kartini. Penting untuk memahami bahwa, keberadaan kartini membuat persamaan hak untuk mendapatkan pendidikan anatara pria dan perempuan adalah sama. Semangat inilah yang kemudian masih terpatri hingga saat ini, 140 tahun sejak kelahiran R. A karitni.

Tidak jauh dari Jepara, kota kelahiran R A Kartini terdapat industri rokok terbesar di Indonesia yaitu PT Djarum yang berdiri sejak tanggal 21 April 1951 di Kota Kudus Indonesia dengan merek Djarum Gramofon. Tanggal yang sama hanya berbeda tahun dengan kelahiran R. A kartini, tetapi memiliki tujuan yang jelas-jelas berbeda. PT Djarum bertujuan untuk mensejahterakan orang disekitar Kudus dengan memproduksi rokok kretek.

Seperti yang diketahui bersama bahwa, penggunaan rokok secara terus menerus dapat menimbulkan penyakit berbahaya seperti penyakit paru-paru, penyakit impotensi dan organ reproduksi, penyakit lambung hingga resiko stroke. Bahkan dampak yang paling mengerikan dan tertulis dengan jelas pada kemasan rokok adalah bahaya kematian.
 
Rokok bisa membunuhmu
Layaknya dua sisi mata uang, audisi beasiswa Djarum bulutangkis dibawah naungan PB Djarum muncul sebagai salah satu program CSR (Corporate social responsibility) dari PT Djarum yang bertujuan untuk memberikan beasiswa bagi mereka anak-anak terdidik yang memiliki bakat dan minat untuk meningkatkan kemampuan dalam olahraga bulutangkis. Sayangnya, semua mereka, anak-anak terdidik tersebut ketika audisi harus bertindak sebagai brand ambassador berjalan dari keberadaan PT Djarum yang notabenenya adalah produsen rokok. Secara tidak langsung, semua anak yang ikut audisi beasiswa Djarum bulutangkis sudah dieksploitasi untuk mempromosikan rokok ke khalayak ramai melalui audisi ini.


Hal ini pun mengundang perhatian dari Yayasan Lentera Anak (YLA) dalam Ruang Publik KBR yang bertema “Desakan Stop Anak Jadi Media Promosi Rokok”. Berdasarkan hasil kajian dari YLA terhadap kegiatan audisi beasiswa Djarum bulutangkis selama 10 tahun terakhir terdapat 23.000 anak dan hanya sekitar 200 anak saja yang mendapatkan beasiswa bulutangkis tersebut.

Tulisan merek rokok yang terpampang dengan jelas

Menurut Reza Indragiri, Pakar Psikologi Forensik dari YLA menilai kegiatan CSR dari PT Djarum merupakan ‘Ironi’ yang sempurna. Hal ini ditekankan bahwa “Bagaimana mungkin suatu produk yang dipandang sebagai benda paling mematikan di dunia justru mencoba itu semua dan membayar itu semua melalui suatu program pertanggung jawaban sosial yang sampai kapanpun tidak pernah untuk disandingkan, antara perusahaan rokok dengan CSR audisi bulutangkis. Inilah ironi yang sempurna, mensandingkan antara olahraga anak dengan rokok yang membunuh”. Pada proses audisi sudah terjadi eksploitasi anak antara lain:

  1. Pemanfaatan anak dalam menggunakan pakaian bertuliskan merek pabrik rokok dengan desain besar dan bentuk tulisan yang sama persis sesuai nama perusahaan tersebut.
  2. Di Kota tempat pelaksanaan audisi juga terpampang dengan jelas banner, baliho dan spanduk, juga menggunakan nama perusahaan pembuat rokok dengan warna dan bentuk tulisan yang identik.
  3. Jumlah anak lolos audisi hanya sebesar 0,01 % dari total peserta audisi yang semuanya wajib menggunakan atribut perusahaan rokok sehingga jumlah tersebut sangat tidak sembombastis dari kemeriahan acara yang ujung-ujungnya sebagai bentuk promosi rokok.


Bentuk eksploitasi anak ini merupakan bagian dari Grooming Behavior dengan menjadikan anak sebagai targetnya tanpa anak tersebut menyadari melalui kebiasaan sehari-hari. Hal ini pun juga didukung oleh narasumber lainnya ibu Nina Mutmainah Armando selaku Ketua Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia. Menurut beliau “rokok dan anak merupakan dua hal sangat bertentangan, apalagi pada saat audisi penekanan kegiatan bukan terhadap audisinya tetapi merek rokoknya yang ditulis besar-besar disetiap proses audisi. Malah ketika audisi, anak bertindak sebagai media promosi rokok sehingga ke depan terkesan bahwa rokok bukanlah hal yang berbahaya”. Ditambahkan lagi bahwa “Ini bukan hanya acara audisi selama 3 hari tetapi anak-anak ditampilkan sebagai sarana promosi brand rokok Djarum pada berbagai media konvensional seperti televisi dan juga media sosial lainnya yang memiliki dampak tidak baik kedepannya, karena anak disandingkan dengan rokok”.

Ketika anak disandingkan dengan rokok

Agar eksploitasi anak ini tidak berlanjut maka dibutuhkan langkah konkrit bersama untuk putusin aja anak sebagai media promosi rokok yaitu dalam bentuk:
  1. Melakukan pelaporan kepada Komisi Perlindungan Anak Indonesia jika ditemukan dugaan ekploitasi anak pada setiap kegiatan audisi.
  2. Putusin aja semuanya terkait rokok dan tidak pernah berinteraksi baik secara langsung maupun tidak langsung karena membawa efek negatif.
  3. Pelaksana audisi di bidang olahraga yang dapat memberikan prestasi seharusnya dilaksanakan oleh sponsor-sponsor non produsen rokok.
  4. Negara harus memikirkan perusahaan yang harusnya mempromosikan audisi olahraga bukan dari perusahaan rokok.


Saat ini yang perlu diperjuangkan bukan lagi pemerataan pendidikan seperti yang R. A Kartini perjuangkan pada zaman dulu tetapi lebih kearah memperjuangkan nasib generasi muda Indonesia dari terpaan dan promosi rokok agar masa depan mereka lebih cemerlang. Berani mengatakan tidak terhadap segala bentuk audisi olahraga yang diselenggarakan oleh industri rokok demi menyelamatkan masa depan para 'Kartini muda'.

15 comments:

  1. memang csr pabrik rokok menyasar ke generasi bangsa ya, saya jadi inget juga dulu ditawarkan dpt beasiswa dr djarum untungnya saya menolak alasannya saya pilih beasiswa yg jumlahnya gede hahaha

    ReplyDelete
  2. Iya, sih, Mas.
    Soal rokok ini memang ibarat dua mata sisi uang. Di satu sisi merokok disebut merusak kesehatan, namun di sisi lain, banyak yang menggantungkan hidupnya dari rokok ini. Mulai dari petani tembako, pekerja di pabrik rokok, sampai pemasukan negara dari pita cukai rokok.

    Dan sebelumnya, Djarum ini sponsor utama Indonesia Open. Tapi karena dinilai produk rokok, maka diganti sponsornya.

    ReplyDelete
  3. Perusahaan rokok memng pasti paling kaya, ngak heran setiap tahun pemiliknya selalu bertengger di posisi lima besar orng terkaya di indonesia.

    ReplyDelete
  4. dari dulu saya kurang sreg krna sponsornya. tapi promo n iklannya gencar bngt

    ReplyDelete
  5. Duuuuh miris lihat kalau acara olahraga justru disponsori oleh perusahaan rokok
    Ditambah lagi atlitnya ternayata anak-anak
    Penyelenggara harus berani menolak

    ReplyDelete
  6. pemikiran yang kritis sekali mas...
    memang beginilah model "marketing" brand-brand sejenis...
    sangat halus dan yaa gitu lah yaa...
    btw, zaman kuliah dulu pernah dapet juga beasiswa djarum ini utk penulisan skripsi hihi

    ReplyDelete
  7. Kalau ada sosialisasi seperti ini seharusnya jadi pecut buat kita agar perusahaan non rokok bisa lebih berperan untuk generasi bangsa

    ReplyDelete
  8. Sepakat.
    Dari dulu juga saya berfikir ada yang aneh dengan jenis promosi seperti ini. Sementara olahraga dan rokok memiliki hasil yang bertentangan.

    ReplyDelete
  9. Iya sedih ya. Banyak yang tidak sadar akan fenomena ini. Bangga aja lihat anak jadi tukang iklan rokok. Padahal seharusnya kita sedih dan semoga segera ada solusi...

    ReplyDelete
  10. Aku tuh suka sedihnya. Anak-anak jadi iklan berjalan rokok begini. Aku tuh gamau anak bersentuhan sama rokok. Sedih aja sekarang banyak anak-anak malah ngerokok.

    ReplyDelete
  11. Keresahan dari entah kapan, dan sangat berharap ada tindakan nyata di tahun ini tentang Nasib Generasi Penerus Bangsa yang dimanfaatkan untuk kepentingan bisnis (rokok) tanpa dipikirkan dampak jangka panjangnya bagi mereka.

    Apalagi semenjak jadi Ibu dari 2 Jagoan, ini menjadi concern pribadi di rumah untuk sebisa mungkin memberikan pengertian kepada Anak-Anak tentang bahayanya rokok, ngerinya promosi rokok kedepannya malah semakin gencar dan akan menjadi konsumsi mata Anak2 yang masih polos, semoga dengan edukasi minimal dari Orangtua, promo2 itu tidak akan berdampak apa-apa. Miris banget dengan fenomena "Anak jadi Pecandu Rokok" :'(

    ReplyDelete
  12. Miris sebenarnya, csr yg di gaungkan
    Perusahaan rokok ini memang berpotensi menarik perhatian publik
    Tp jika dimaknai mendalam benar juga secara ga langsung telah menjadikan para anak2 sebagai objek iklan mereka

    ReplyDelete
  13. Wahhh terkadang dari hal itu memberikan prestasi prestasi cemerlang dari dampak yang diberikan pemilik rokok tersebut, dengan memberikan beasiswa bagi anak-anak yang baru lulus sekolah hingga kerja bersama saat sudah ingin kerja.. Rokok sebenarnya tergantung pada diri kita sendiri apakah kita ingin mengonsumsi atau tidak, memang sih dibuat rokok itu salah. Tapi bagaimana mengelola yang salah itu bisa menjadi manfaat yang besar bagi bangsa ini. Kalo di saya sih merasa terbantu dengan beasiswa plus yang diberikan djarum, sehingga saya bisa mencapai di titik ini.. bersyukur aja

    ReplyDelete
  14. Memang aneh sebetulnya ketika event olahraga itu sponsornya rokok. Semoga saja ada perusahaan lain yang peduli untuk mensponsori bidang olahraga

    ReplyDelete
  15. Agak aneh juga, klo event musik Djarum malah anak2 under 18 dilarang masuk ke lokasi acara.

    Semoga untuk event olahraga di kemudian hari sponsornya ya susu, produk elektronik bukan rokok ya

    ReplyDelete

Powered by Blogger.