Mimpi Anak Pantai Tambu


Subuh baru saja berlalu, saat langkah kaki kualihkan menuju tempat pelelangan ikan. Belum banyak aktivitas yang tampak. Tak ada suara motor, bising kendaraan atau pun suara klakson yang saling sahut-menyahut. Disisi kiri bangunan, terpampang plang bertuliskan "Kawasan Perlindungan Laut" lengkap dengan peta tak berskala dan desa-desa disekitarnya, ada Malakosa, Tolai dan Piore. Beberapa depa dari tempatku berdiri, dermaga kayu menjorok ke pulau sebelah. Seakan dermaga itu menjadi saksi akan budaya dan kehidupan pantai Tambu secara turun-temurun.

Sudah 30 menit, matahari pun mulai perlahan terbit, menghilangkan pekatnya subuh. Tergantikan jingganya lazuardi sepanjang bentangan khatulistiwa. Satu-dua, perahu berdayung sudah tampak mulai melintas, menuju keramba apung, berharap ada rejeki yang bisa dikais disana. Pulau seberang pun mulai terlihat lekukan putih pasir pantainya.

Aku bergegas, membawa gayung buatan ayahku berwarna merah bata, terbuat dari kemasan bekas pelumas 5 liter. Bagian atasnya dimodifikasi menggunakan kayu dan tali agar bisa untuk menimba air nantinya.

Di kiri jalan, pesona air laut menari-nari dengan riak ombak yang tak seberapa tinggi. Jingga mentari masih terpantul di atasnya. Di kananku, hanya ada deretan pohon ketapang menemani dan segera berganti hutan mangrove tepat 5 meter kedepan. Jalan setapak dengan jembatan kecil dari batang pohon sagu menjadi akses utama menuju tempat mandi. Kami menyebutnya Tajene, ‘sebuah sumber air berbentuk kolam terbuka, ukurannya tidak lebih dari 2 x 2 meter persegi’. Kolam ini selalu rindang, terlindungi dari kelompok pelepah dedaunan pohon sagu. Dari sini lah, sumber air untuk mandi dan mencuci pakaian.

Pagi pekat, seperti hari-hari sebelumnya selalu hanya ada kami berempat, setia mandi di Tajene. Aku dan La-tang, sobat seperjuanganku ditingkat akhir SMP dan dua adik kelasku. Semua proses mandi harus kami selesaikan dan balik ke rumah sebelum pukul 6 pagi.

“Ketemu di Ketapang ya” ucapku ke La-Tang sebelum berpisah menuju rumah panggung masing-masing. Jarak rumah kami terpisahkan 50 meter.

Tidak jauh dari rumah La-Tang, tumbuh mendongak sebuah pohon Ketapang dibawahnya dibuat ‘dekker’ dari bilah-bilah bambu dengan tonggak penguat batang mangrove. Dekker ini digunakan sebagai tempat duduk, meneduh atau menunggu nelayan, pulang melaut.

Senin adalah hari pertama kami menjalani EBTANAS. Sengaja benar kami pagi-pagi menuju sekolah dengan jarak 5 kilometer dari pesisir tempat tinggal, agar bisa melihat ruangan tempat ujian yang akan menjadi saksi hasil belajar selama 3 tahun lamanya. Tetapi jika dipikir kembali, ruangan mana pun tidak ada bedanya, karena di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negeri 3 Sausu, semua rungannya hampir sama, apalagi hanya untuk kami berdua puluh. Perasaan ragu, gugup dan kekhawatiran terlihat dengan jelas diraut wajah, bahkan rasa itu semakin membuncah saat lonceng dari rongsokan besi toko tukang service motor berbunyi nyaring. Ini lah saat penentu itu. Tanpa perlu disuruh, kami berbaris di depan kelas, 3 berbanjar menanti guru penjaga ujian tiba.

Dua menit berlalu, dari kejauhan terlihat seorang pria separuh baya, rambutnya ikal dengan wajah bersahabat, baju batik biru khas KORPRI menyempurnakan penampilan beliau, di kanan baju tercetak I Putu Widiana.

Tepat di depan kelas, Pak Widiana menyambut kami dengan senyuman sambil mempersilahkan masuk ke dalam kelas dan duduk di bangku yang sudah tertulis nomor induk masing-masing.

“Selamat pagi pak guru” serentak salam terucapkan dari seluruh penghuni kelas.
Pak Widiana pun tersenyum menjawabnya, sambil mengajak berdoa sebelum ujian dimulai.

Tanpa perlu memperpanjang waktu lagi, satu per satu kertas soal dan jawaban dibagikan. Hari ini mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam menjadi mata pelajaran pembuka. Ada 50 soal dan jawabannya diisi dengan memberikan tanda silang pada pilihan A, B, C atau D. Seketika itu pula, ruangan menjadi hening, hanya ada suara lembaran soal dibolak-balik. Sesekali terdengar samar soal-soal yang dibaca berulang-ulang oleh La-Tang, entah karena dia tidak paham maksud pertanyaanya atau memang La-Tang tidak mengetahui jawabannya.

“Ah. Entah lah” gumamku dalam hati.

Delapan puluh menit berlalu, raut muka sudah mulai memerah, kernyit pada dahi benar-benar tercetak dengan jelas. Suara-suara ujung pensil di atas kertas jawaban semakin ramai. Semua mulai sibuk membolak-balikan kembali lembaran soal dan memastikan lembar jawaban sudah terisi sempurna.

“Tinggal 5 menit lagi” suara lantang dari pak Widiana mulai membuyarkan pikirin seluruh penghuni kelas. Aku pun sendiri sudah selesai sebelum 5 menit itu terucapkan. Rekan lain secara serentak segera menyelesaikan dengan baik jawabannya, karena kami masih ingat dengan jelas, nasehat dari pak Wayan Suterna, wali kelas kami yang membujang di umur beliau mendekati kepala empat.

“Jika waktunya hampir habis, silahkan tetap disilang jawabannya dan berdoa semoga keberuntungan menyertai kita” begitulah kiranya nasihat beliau.

Nasihat yang menjadi jurus terakhir dan hampir seisi kelas menggunakannya. Lonceng kembali berbunyi, tanda berakhirnya waktu ujian dan hari pertama pun terlewati dengan baik.

“La-Tang bagaimana ujiannya, bisa tidak?” selidikku sambil berjalan pulang ke rumah di pesisir.

Hari ini, dibawah terik matahari menyengat kulit, kami menyusuri kebun warga Kampung Atas sebagai akses pulang ke rumah.

“Lumayan, meskipun tadi sempat panik ketika pak Widiana mengucapkan tinggal 5 menit, langsung saya silang sepuluh nomor lainnya, agar terisi semua” ujar La-Tang dengan mimik serius.

“Ah…Untung lah, jurus itu kamu gunakan Tang” ungkap ku seraya bersyukur kepadanya.

Obrolan masalah ujian tadi menyertai perjalanan pulang. Dari kebun warga, kini berganti menjadi jalan berkerikil. Debu-debu jalanan beterbangan dan menempel manja di sepatu hitam merek ATT. Sepatu ini benar-benar setia menemaniku selama tiga tahun, meskipun ada 2 tambalan jahitan diujungnya. Sekarang di kiri jalan, sawah membentang sepanjang 4 kilometer hijaunya benar-benar menyegarkan mata ditengah terik siang bolong. Di akhir pematang sawah, pemandangan berganti menjadi kawasan tambak dan hutan mangrove. Jalanan ini lah yang menjadi saksi perjuangan kami berdua.

Dahulu di sekolah dasar, setidaknya ada enam orang setiap harinya melintasi jalan ini. Tetapi, selepas lulus dari kelas 6, tinggal aku dan La-Tang yang melanjutkan sekolah di tingkat pertama. Ini dikarenakan hampir seluruh keluarga di Pantai Tambu terpatri turun-temurun akan budaya, “tidak perlu sekolah tinggi-tinggi untuk mencari uang, cukup bisa berhitung dan membaca maka sekolah sudah tidak ada lagi gunanya”. Alasan ini selalu menghantui pikiranku dan La-Tang.

“Apakah setelah lulus sekarang, kami bisa melanjutkan sekolah ke SLTA yang posisi terdekatnya ada di kecamatan, berjarak 30 km dari kampung kami” ah. Entah lah.

***************************************************************************

Hari libur telah tiba, seperti biasa sebagai keluarga nelayan aku pun ikut melaut meskipun sebenarnya aku lebih nyaman untuk menghitung berapa jumlah ikan hasil pukat sebelum dijual ke padola ikan. Setelah negosiasi harga antara ayah dan padola, aku pun selalu membantu untuk menghitungkan total harga ikan tanpa kalkulator. Perhitunganku selalu mendapat pujian dari kakek. Hal ini sangat berbeda dengan ayahku, bagi beliau yang terpenting adalah uang hasil pukat. Cuma itu.

Matahari baru naik sepenggalan. Posisinya tepat muncul dari kumpulan pohon kelapa di pulau seberang. Itu artinya, kami harus segera memasang pukat. Menggunakan 2 perahu bertenaga mesin Yanmar, kakek bertindak sebagai penunjuk arah ke laut. Ayah sendiri mengendalikan arah perahu, sesuai instruksi tangan dari kakek. Tidak sampai 30 menit berlabuh, akhirnya diputuskan untuk menyebarkan pukat disekitar pulau pilihan. Bagian ujung pukat dilemparkan mendekati pantai, kemudian perahu akan bergerak menuju ke bagian laut dalam sambil tetap melemparkan pukat hingga membentuk setengah lingkaran. Bagian ujung satunya pun akhirnya juga mendekati pantai disisi lainnya. Biasanya butuh sekitar 1-2 jam waktu pukat dilempar sebelum masing-masing ujung pukat ditarik ke daratan pulau pilihan. Ujung satu ditarik oleh 5 orang begitupun ujung lainnya, juga 5 orang.

“Al kamu tarik diurutan ketiga di belakang bapak mu” teriak kakek mengatur posisi tarik pukat.

“Satu….dua…tiga….satu….dua…tiga….satu…dua..tiga” dengan irama tersebut, proses penarikan pukat mulai berlangsung. Hingga semua ujung tali bertemu ditengah-tengah dan pukat berhasil menangkap ikan.

“Aduh..!!!” teriakku penuh kesakitan, kaki kanan terasa tertusuk benda tajam dan rasa sakitnya cepat menyebar hingga ke lutut.

“Astaga…itu bulu babi nak” segera ayah menggendong ke pantai dan menyiram bagian duri yang kelihatan menempel diujung ibu jari kaki  menggunakan spritus dari lampu petromaks.

Aku melihat kakek pun tidak kalah khawatirnya, diambilnya kain dan diikatkan dengan kencang dibagian telapak kaki. Untung durinya bisa dikeluarkan dan sakitnya sudah mulai berkurang. Sejak kejadian ini, kakek melarang untuk ikut melaut.


***************************************************************************

Hari istimewa pun tiba. seperti biasa, selepas subuh, aku berjalan menuju Tajene sebagai lokasi sumur air payau terdekat untuk mandi. Hari ini adalah hari pengumuman kelulusan dan ayah sengaja tidak melaut. Semua orang tua diundang untuk menyaksikan pengumuman kelulusan anaknya. Beliau memenuhi undangan sekolah. Ini adalah kali kedua, Ayah ke sekolah, sebelumnya ketika hari pertama masuk sekolah lanjutan tingkat pertama ini.

Di aula sekolah, rangkaian demi rangkaian acara kelulusan dimulai, para orang tua duduk di sisi kiri aula sedangkan murid dengan wajah cemas disisi kanan aula. Satu per satu nama kami dipanggil, tidak banyak, hanya 20 siswa. Semua maju kedepan berdasarkan urutan dan menerima amplop dari kepala sekolah. Nasib kami ditentukan dengan tulisan dalam amplop. Hampir serempak kami membukanya. Di dalam amplop tertulis, nomor induk siswa dan namaku serta terpampang dengan jelas tulisan “Lulus”. Aku bersyukur sambil menoleh kearah ayah seraya memperlihatkan kertas tersebut. Tanpa dikomando, ayah mengangkat kedua tangan ke langit sebelum akhirnya mengusapkannya ke wajah beliau. Di baris belakang, La-Tang pun menunjukkan tulisan lulus. Alhamdulillah, ternyata kami semua lulus 100 %.

Acara terakhir adalah pidato dari Kepala Desa Sausu Piore yang begitu mengejutkan. 
Dalam isi pidatonya, beliau menggambarkan kehidupan salah satu orang tua siswa. Kesehariannya hidup di pesisir sebagai nelayan dan menyekolahkan anaknya di sekolah terpencil ini. Berjuang di laut dengan ombak tinggi dan angin begitu dahsyat tetapi akhirnya berbuah manis. Anak beliau berhasil menjadi pemegang nilai peringkat 3 tertinggi untuk mata pelajaran IPA se-kabupaten Donggala, sebuah prestasi membanggakan dari sekolah yang baru meluluskan dua angkatan ini.

Pidato pun masih berlanjut, dengan suara lantang kepala desa mengucapkan “Anak itu adalah Altaf, dari Kampung Nelayan, Pantai Tambu”.

Kali ini, tepuk tangan penuh haru mengisi aula sekolah, saat namaku disebutkan. Teman-teman mulai memeluk, kami semua bangga atas pencapaian ini. Pencapaian presetasi di sekolah terpencil yang baru meluluskan dua angkatan dan dari sudut kiri aula, ayah pun terlihat bangga.

***************************************************************************

Dua minggu sejak pengumuman, dikala semua keluarga lagi berada di ruang tengah rumah panggung. Ayah dan kakek lagi mengecek kondisi pukat, memastikan bagian putus bisa segera disambung kembali menggunakan nilon dan alat jahit pukat. Sedangkan ibu dan nenek lagi mempersiapkan makan siang di lantai berpapan. Aku memberanikan diri membuka percakapan.

“Ayah, boleh kah saya lanjut sekolah di provinsi?” mencoba memulai percakapan.

Dari sudut rumah, ayah melepaskan pukat dan tali nilon. Begitupun juga kakek. Sepuluh detik berlalu, tidak ada jawaban dari mulut ayah. Ruang tengah tiba-tiba menjadi hening. Dua puluh detik berlalu, ruangan pun masih tetap hening.

“Tidak perlu sekolah lagi, Altaf sudah bisa membaca dengan baik, menghitungnya pun jago. Dengan kemampuan itu, Altaf sudah bisa jadi nelayan hebat dan menghasilkan uang. Jadi apalagi yang dicari untuk lanjut sekolah? Di provinsi lagi” jawaban ayah sekaligus langsung menghempaskan semua mimpiku untuk bisa lanjut sekolah. 

Aku tidak mungkin menangis mendengar jawaban ini dari ayah, karena aku adalah lelaki pesisir. Pantang bagi kami untuk menangis. Jawaban ini pun sama seperti yang dialami La-Tang 3 hari lalu.

“Eh…Nuddin…” teriak kakek memanggil ayah.

“Apa kamu tidak berpikir lagi, apa yang kamu harapkan hanya dari nelayan seperti kita?”

“Anak mu itu berbakat Nuddin. Lihat saja tangannya, pandai menulis hasil ikan tangkapan kita “badampar”, belum lagi kalau dia menghitung jumlah uang hasil penjualan ikan. Di keluarga kita dari Selatan sampai Poso, belum ada karakter seperti Altaf”

“Dan kamu ingin seperti keluarga lain, tetap menjadi nelayan…hah.? Altaf itu rejeki sangat istimewa” nada tinggi kakek membuat bungkam seisi rumah.

“Bagaimana bisa Altaf lanjut sekolah? di provinsi lagi. Tidak ada kenalan disana apalagi uang untuk membiayai sekolahnya” ucap ayah dengan nada rendah agar tidak menyinggung ucapan kakek.

“Jual saja tanahku yang 10 Aro, untuk biaya sekolah dan tempat tinggal Altaf di provinsi jika itu masalahnya” masih dengan nada tinggi, kakek menyampaikan solusinya.

Akhirnya, ayah mengangguk, sekaligus membuka lebar mimpi untuk tetap sekolah ke tingkat lebih tinggi.

***************************************************************************

Tujuh tahun kemudian setelah percakapan sengit di ruang tengah, akhirnya aku berhasil lulus sarjana dan bersaing dengan para mahasiswa negara lain di negeri jiran. Hasil riset selama studi juga mengantarkanku menjadi peneliti muda tingkat dunia dalam bidang kimia. Hal ini pula menjadi perhatian penting di universitas hingga rela mengirimkan surat khusus dengan perantara professor yang menjadi penanggung jawabku selama studi.

“Begini Altaf, pihak universitas ingin mengangkat Altaf sebagai tenaga peneliti dengan gaji tetap dan tunjangan tempat tinggal. Hal ini karena prestasi Altaf yang sangat luar biasa dan bisa memajukan universitas ini kedepan. Bagaimana Altaf, apakah Altaf bersedia?” Ujar professor Agam dengan intonasi dan suara santunnya.

Senyuman pun mulai merekah, aku sudah sangat paham dengan arah pembicaraan ini. Bagi setiap lulusan terbaik, menjadi tenaga pengajar adalah impian semua orang.

“Terima kasih yang luar biasa aku haturkan kepada professor dan pihak universitas karena bersedia memberikan penawaran luar biasa ini”.

“Tetapi dengan sangat menyesal dan mohon maaf sebelumnya, tawaran ini tidak bisa Altaf ambil”.

“Aku ingin kembali ke Indonesia, menerapkan segala ilmu terutama untuk kampung halamanku. Disana, aku ingin membangun pengetahuan agar setiap warga pesisir memiliki peluang sama untuk meraih pendidikan. Disana pula, aku ingin membangun sistem pengolahan air bersih, agar masyarakat pantai Tambu, tanah kelahiran bisa memanfaatkannya dengan baik” jawabku penuh semangat kepada professor.

Untungnya sebagai peneliti dan warga negara Malaysia yang baik, professor memahami penolakanku, dan aku pun bisa kembali lagi ke pantai Tambu, tanah kelahiranku.

***************************************************************************

Diatas pusara kakek, aku berdiri bersama ayah memanjatkan doa seraya mengucapkan terima kasih mendalam atas perjuangan dan dorongan kuatnya. Jika bukan karena beliau dan jika bukan karena hasrat beliau waktu itu, mungkin mimpiku akan terkurbur selamanya disini. Dan sekarang, aku siap menerapkan apa yang selama ini aku terima di luar sana. Pendidikannya, karakternya dan ilmu pengetahuan yang luar biasa tak terhingga agar bisa bermanfaat untuk masyarakat pantai Tambu.

“Mohon restu dan doanya Kek, karena setelah ini, cucu mu akan menyebarkan semangat merajut pendidikan, agar tidak ada lagi anak-anak pesisir pantai Tambu berhenti sekolah di tingkat lanjutan pertama” ungkapku dalam hati sebelum akhirnya meninggalkan pusara dan bekerja untuk segera membangun mimpi-mimpi anak pesisir pantai Tambu lainnya.




55 comments:

  1. Duh..berat juga ya perjuangan bersekolah di daerah terpencil, tapi salut dengan prestasi yang dicapai.
    Ditulisan ini diceritakan tentang bulu babi terus terang, saya sering membaca tentang bulu babi dan racunnya. Saya penasaran ingin lihat wujud aslinya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya kisah seperti ini banyak dialami oleh para anak-anak di pedalaman, maka beruntunglah buat mereka terlahir di kota besar.

      Bulu babi bisa lihat di Youtube saja dulu kak, jika belum ketemu aslinya

      Delete
  2. wah keren sekali tulisannya sangat menginspirasi!tulisan mas talif bagus-bagus ya :)

    ReplyDelete
  3. Mimpi yang akhirnya tercapai. Mengharukan sekali ceritanya. Perjuangan yang membuahkan hasil manis asal terus berusaha. Semoga semua anak-anak Indonesia bisa menempuh pendidikan setinggi-tingginya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Semoga kedepan akses pendidikan semakin mudah

      Delete
  4. Perjuangan yang nyata dan akhirnya terwujud, menginspirasi sekali mas

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih kak. Sampai ketemu dicerita inspirasi berikutnya

      Delete
  5. Sekilas teringat cerita di Laskar Pelangi, ttg perjuangan bersekolah di pedalaman

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak. Kisah Pendidikan memang banyak versinya

      Delete
  6. Sekarang anak Tambu sudah mengenyam pendidikan yang tinggi.
    Oh ya, passionnya memang jadi peneliti ya bang.

    Semoga mendapat tempat yang tepat untuk bekerja sebagai peneliti.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Terima kasih kak Ris. Penelitian memang mengasyikkan, banyak ilmu dan pengetahuan baru

      Delete
  7. Luar biasa.. aku aha suka telat berangkat sekolah.. kadang males2an.. sungguh tidak baik untuk ditiru

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. Untung sudah sadar kak. Semangat menularkan energi positif

      Delete
  8. Awalnya saya menikmati tutur yang indahnya perjuangan di masa kecil. Selanjutnya saya terbawa alur cerita yang bukan sekedar mimpi si anak Pantai Tumbu. Determinan sang Kakek tentang masa depan sungguh membuat takjub... Terinspirasi kisah nyatakah kak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih sudah menikmati tulisannya. Alhamdulillah semua tulisan di blog saya adalah kisah nyata

      Delete
  9. Aku kok jadi mewek bacanya ya..
    Semoga akan banyak lagi Altaf-Altaf lainnya di negeri ini yang bisa meraih mimpi dan membaantu sesamanya merengkuh mimpinya juga.
    Keren ceritanya. Sangat!

    ReplyDelete
  10. Seperti sedang baca kisahnya ikal dkk. Inspiratif banget bang. Dan tulisannya memang selalu menginspirasi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih kak sudah mampir. Semoga pesan inspiratifnya tersampaikan

      Delete
  11. Haru, sedih, inspiratif banget mas, pengalaman hidupnya, bisa bikin bangga orang tua, dan bisa bermanfaat buat orang banyak.....

    ReplyDelete
  12. Inspiratif mas. Dibikin novel bisa lebih seru nih

    ReplyDelete
  13. Saya pikir ini cerpen. Ternyata oh ternyata bukan. Tulisannya bagus. Inspiratif banget. Semoga semakin banyak ya yang seperti altaf.

    ReplyDelete
  14. Baca paragraf pertama dan kedua, aku langsung membatin “Tulisannya bagus nih, rapi lagi”

    Baca paragraf berikutnya jadi melow.

    Terima kasih cerita tentang mimpinya. Mari kita terus bermimpi, memeluk mimpi” itu dan mewujudkannya 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih mba sudah mampir. Ayo kita wujud semua mimpi anak Indonesia untuk tetap sekolah tinggi

      Delete
  15. Cerita ini sangat menyentuh sekali, semangat yang lar biasa

    ReplyDelete
  16. Wah... ceritanya mengingatkan aku waktu volunteer mengajar anak-anak di Desa Tanusan, Papua Barat. Memang ya kak, kalau daerah yang cukup jauuuhh dari perkotaan butuh diberi semangat lebih untuk mereka berjuang meraih cita-cita di masa depan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wuih keren kak, bisa jadi volunteer di papua. Terimakasih sudah mampir

      Delete
  17. Ceritanya bagus banget mas, karena hidup memang butuh perjuangan. Agar membuahkan hasil yang manis

    Terimakasih sekali cerita inspiratif nya

    ReplyDelete
  18. Ceritanya ngalir dan menginspirasi, semoga dunia pendidikan akan terus semakin baik dan bisa dirasakan seluruh masyarakat Indonesia.

    ReplyDelete
  19. Salah satu impian aku yang belum kesampaian nih :') Pengen banget jadi volunteer ke pelosok gitu haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, sekarang sudah banyak kok kak lembaga yang urus volunteer ke pedalaman

      Delete
  20. Pingin punya pengalaman volunteer bisa merasa berguna hidup di dunia ini :)

    ReplyDelete
  21. Suka sedih lihat perjuangan anak pedalaman dalam mencari ilmu jadi jengkel melihat anak-anak perkotaan yg segalanya mudah tapi di sia-siakan malah pada berantem.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak. Ibarat bumi dan langit. Perbedaannya benar2 jauh jaraknya

      Delete
  22. MasyaAllah.. inspiring banget ini kisah mimpi anak pantai Tambu. Keren, Mas.. Jadi ingat laskar pelangi sih, mirip ya perjuangannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah. Semoga semangatnya bisa diambil

      Delete
  23. Cerita-cerita seperti ini yang mengingatkan betapa beruntungnya kita dan harus banyak-banyak bersyukur. Semoga makin banyak mimpi anak tambu yang menjadu nyata

    ReplyDelete
  24. Sedih, haru, dan inspiratif kak bacanya. Usaha tak pernah menghianati hasil ya, malu jadinya sama diri sendiri yang udah dikasih serba mudah tapi masih suka ngeluh huhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuk. Kita tularkan semangat kebaikan buat lainnya

      Delete
  25. Wah, cerita yg sangat menginspirasi. Perjuangan seorang anak dr desa terpencil. Hingga menyelesaikan studi di negeri tetangga, namun karena ingin membangun kampung ia dengan tegas menolak. Mimpi yg luar biasa. Semoga bisa menularkan semangat buat anak anak kampung lainnya

    ReplyDelete
  26. Neng Rin terharu atuh sama perjuangannya Altaf. Terharu dan inspiratif banget. Itu yang bikin semangat buat ngelanjutin pendidikan. Orang pesisir yang jauh dari sekolah aja semangat juangnya tinggi, kenapa kita yang sekolahnya deket nggak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyes. Kita yang lebih dimudahkan harus bisa lebih semangat

      Delete
  27. Ceritanya begitu inspiratif dan bikin terharu, membuka mata lebar untuk anak2 yang berada di kota besar supaya tidak kalah semangatnya dengan yang tinggal di pesisiran seperti kisahnya si altaf.

    ReplyDelete
  28. Ah menyentuh sekali bang ini tulisannya.. makasih kakek sudah mendukung ayah untuk menyekolahkan altaf lebih tinggi. Dan syukur sekali altaf selalu ingat kota kelahiran. Keren..

    ReplyDelete

Powered by Blogger.