Berkelana Ke Masjid Jin Turen

October 28, 2018

Hiruk pikuk penumpang di Terminal Gadang Malang sudah mulai tampak. Beberapa penjual asongan pun dengan gigih naik dan turun dari satu bis ke bis lainnya. Asap knalpot bis menghiasi udara pagi yang sejam berlalu melewati pekatnya fajar. Sekitar pukul 7 pagi, aku pun berusaha mencari bis sesuai rute tujuan ku. Beberapa kali bertanya dengan petugas berseragam penjaga pos terminal dan mengarahkan ku mencari bis tersebut di dalam Kawasan terminal Gadang. Untungnya, pedagang asongan yang sempat air mineralnya aku beli memberikan informasi terbaik kala itu.

“Mas, sebaiknya tunggu di pintu keluar terminal saja. Nanti tinggal lihat rute bis ditempel dibagian depan. Disitu cepat kok mas, jadi tidak perlu tunggu lama di dalam terminal. Ada bis langsung berangkat” ungkap pedagang tersebut, sembari aku serahkan uang 5 ribu.

“Ide briliian” sembari berjalan ke jalur utama dekat pintu keluar terminal.

Benarlah adanya, tidak sampai 5 menit. Bis tujuan Dampit diiringi teriakan seoarng karnet dengan gerakan bis perlahan menghampiri tempat ku menunggu. Cukup dengan lambaian tangan kanan ke depan, maka bis pun berhenti dan hanya hitungan detik, aku pun sudah duduk tepat di belakang kursi sopir.

Bis dengan formasi 2-2, akan menemani perjalanan kali ini. Bis yang separuh lebih kursinya terisi sangat membantuku untuk tetap mawas memperhatikan jalan yang dilintasi. Aku pun juga tidak ragu, untuk bercakap-cakap dengan penumpang lainnya apalagi ke karnet, dengan menyampaikan rute tujuan ku, yaitu Turen. Cara ini selalu ampuh sebagai penikmat perjalanan secara mandiri agar tidak tersesat dari rute yang diinginkan.

Sekitar satu jam berlalu, karnet pun memberikan sinyal kepada ku untuk bersiap-saip. Titik turun ku di desa Turen sudah semakin dekat, sebelum akhirnya berhenti dipertigaan jalan lintas Malang-Dampit.

“Itu mas, jalan menuju Turen” pesan karnet bis sembari menunjuk jalan kecil pedesaan yang masih bisa dilalui 2 kendaraan roda empat dari sisi berlawanan.

Aku pun bergegas turun, memperhatikan sekitar dan mengalihkan langkah ke warung sederhana, dengan meja persegi beralaskan plastik dengan corak flora, di sekelilingnya  6 buah kursi plastik berwarna merah sempurna berpasangan. Di ujung meja, lemari kaca berangka aluminium dengan tinggi tidak lebih semester menjadi wadah sempurna berisi aneka bahan yang dijajakan, tak luput stiker bertuliskan “Gado-Gado” menjadi keterangan utama, menu yang ditawarkan. Sepiring gado-gado dengan segelas teh hangat tanpa gula menjadi pilihan ku.

Sembari menikmati santapan pagi bercita rasa lokal, sesekali pertanyaan ku lontarkan kepada Ibu penjaga warung terkait cara menuju Masjid Jin tujuanku. Jaraknya memang tidak jauh, hanya sekitar 5 kilometer masuk ke desa Turen, dan ibu tersebut menyarakankan naik ojek. Aku pun tersenyum mengiyakan sekaligus berterima kasih atas informasi berharga tersebut.

Belum jauh meninggalkan warung menuju pangkalan ojek yang tidak sampai 100 meter, tiba-tiba truk pengangkut pasir melintas di belakang ku. Refleks tangan ku pun berfungsi, seperti biasa mengangkat tangan kanan dan menggerakkannya naik turun agar truk tersebut berhenti. Tanpa terduga, truk pasir tersebut benar-benar berhenti.

“Pak, numpang ke Masjid Jin Turen bisa”

“Monggo mas, silahkan naik di depan kebetulan saya lewat sana” ungkap supir truk pasir dengan keramahannya. Kembali, perjalanan ini menunjukkan keramahan warga lokal terhadap pendatang sepertiku.

Sepanjang perjalanan, bincang-bincang sederhana mengalir. Mulai dari menanyakan asal ku hingga alasan mengapa tertarik mengunjungi masjid jin Turen. Hampir sepuluh menit berlalu, tanpa terasa perbincangan kami benar-benar mengalir apa adanya.


“mas, itu bangunannya” sambil menunjuk ke sebelah kanan dari sisi truk pasir yang aku tumpangi. Aku pun turun dan mengucapkan terima kasih atas tumpangannya.

Menyusuri Masjid Jin Turen Malang sebagai wisata religi
Pintu masuk Masjid Jin


Dari ujung gang, deretan-deretan penjual makanan dan cindera mata menghiasi kiri dan kanan jalan sebelum bertemu dengan gapura dan bangunannya yang luar biasa megah.


“Pak, ini Masjid?” tanyaku langsung kepada penjaga pintu masuk sembari menuliskan nama dan alamat ku dikertas pengunjung.

“Lihat sendiri saja mas, nanti bisa tahu kok, ini bangunan apa sebenarnya. Mulai dari lantai 1 ya mas” jawab bapak penjaga pintu masuk dengan perawakan teduh berkopiah hitam.

Memasuki bangunan Masjid Jin, mataku benar-benar dimanjakan dengan berbagai seni kaligrafi yang menempel disetiap dinding dan langit-langit bangunan. Meskipun dikatakan Masjid seperti yang tertanam dipikiranku sebelum mengunjungi tempat ini, sejatinya bangunan berlantai 10 ini tetap tidak ditemukan satu pun masjid disalah satu lantainya. Hanya ada Musholla yang terpisah antara pria dan wanita di lantai 1. Di lantai ini pula, imajinasi dari “Planet Ego” di Film Guardians of The Galaxy 2 seakan-akan terpampang di depan mata, identik meskipun tak serupa. Hal in terlihat dari kemegahan bangunannya sampai pada pemilihan detail interiornya. Sangat menawan. Ditambah lagi dengan pemilihan warna keemasan, membuat kesan mewah disetiap langkah demi langkah area yang dilewati.

Menyusuri Masjid Jin Turen Malang sebagai wisata religi
Salah satu ruang di lantai 1 Masjid Jin


Beranjak ke lantai berikutnya , mataku kini disajikan dengan “area khusus keluarga”, kursi dan sofa menjadi pelengkap konsep ini. Selain itu pula, di salah satu lantai lainnya terdapat kolam renang yang menyejukkan mata. Hingga batu besar dengan panjang lebih dari 4 meter menjadi salah satu yang dapat dilihat dil lantai berikutnya. Bahkan, pembelian souvenir dan cindera mata khas Turen dapat dibeli di lantai 6-8.

Bangunan megah berlantai 10 ini, memang memiliki sejarah panjang sebelum akhirnya tampil menawan seperti yang terpampang ketika berkunjung. Belia adalah Romo Kyai Ahmad sebagai perintis Masjid Jin 10 lantai ini yang sejatinya adalah Pondok Pesantren, bukan Masjid seperti desas-desus yang beredar dikalangan luar.

Pembangunan ponpes ini dimulai pada tahun 1978 oleh para santri yang menetap dengan material apa adanya menggunakan bata merah yang dipasang bersama “luluh”, berupa adonan dari tanah liat. Bangunan ini pun berkembang dari tahun ke tahun hingga menjelma menjadi bangunan artistik dengan gaya arsitektur Arab, China dan India. Tepat di bagian atas bangunan, terdapat beberapa Menara yang menjadi penyempurna, anggapan bahwa bangunan ini adalah masjid. Untungnya kali ini, aku membuktikan sendiri bahwa Masjid Jin itu bukanlah Masjid yang tiba-tiba muncul dengan kemegahannya melainkan bangunan Pondok Pesantren.

Menyusuri Masjid Jin Turen Malang sebagai wisata religi
Bentuk menara yang ada di atas Masjid Jin


Ah. Lagi-lagi, aku teringat sebait kalimat itu. “Jangan menghakimi sesuatu hanya karena tampilan luarnya”. Dan sekarang, bangunan ini menjadi tujuan wisata religi di sekitar Malang, dengan label “Masjid Jin”.

27 comments:

  1. Aku kayaknya pernah kesini? Beda g mas sama masjid tiban malang?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama kak Airin. Kawasan ini juga disebut Masjid Turen atau Masjid Ajaib.

      Delete
  2. Be carefule with your thought. Kalau ketemu Mentis, semua prejudice itu akan kebongkar. hahhahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. "Kebongkar". Sepertinya ini sengaja dijulukim seperti itu, agar penasaran untuk datang

      Delete
  3. Beda gak sama mesjid Biru.. Hehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama. Kawasan ini juga disebut Masjid Biru Turen

      Delete
  4. Beda gak sama mesjid Biru.. Hehe..

    ReplyDelete
  5. Masjidnya bagus banget, kaya berada di negeri dongeng yaa. Harus banget nih ke sini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau ke Malang, siapkan waktu setengah hari jika ingin kesini kak Yun.

      Delete
  6. Bolak balik ke Malang, belum pernah ada yang info tentang Masjid Jin. Penasaran euy, rencana nya doakan waktu dekat no ke Malang lagi, kudu disempatkan mampir nih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Siapkan waktu setengah hari ya kak Tuty. Ini didaerah Turen

      Delete
  7. Bolak balik ke Malang, belum pernah ada yang info tentang Masjid Jin. Penasaran euy, rencana nya doakan waktu dekat no ke Malang lagi, kudu disempatkan mampir nih

    ReplyDelete
  8. Enak yaa kalo cowok bisa jalan sendiri tinggal cari tumpangan tanpa rasa takut hhe, btw saat ini hanya jadi wisata religi atau masih jadi ponpea dan masih ada santrinya? Terus ko ada kolam renangnya, apa itu bisa juga dipake untuk umum?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masih ada santrinya, karena ini memang ponpes.

      Kolam renangnya tidak untuk berenang, ada tulisan larangannya soalnya.

      Delete
  9. Pertanyaanku sama dengan mba airin, terus ngebolang nya sendirian aja nih mas??

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes. Kemarin sendiri. Ini pun iseng setelah muncak dari Semeru, tim lain sudah pulang naik kereta. Saya mah extend sehari.

      Delete
  10. Oh ini pesantren ya, selama ini mikirnya masjid

    ReplyDelete
  11. Owalaah ini tuh pompes ya.. bagus banget bangunannya. Duh pengen kek bang taumy, bisa backpackeran sendirian, trus numpang2 gitu. Seru banget.

    ReplyDelete
  12. Ini keren banget sih masjidnya! Tempat ibadah sekarang bisa buat spot foto juga ya hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Makanya orang kesana untuk menikmati wisata religi.

      Delete
  13. banyak spot menarik ya bang, jangan jangan aku betah nih lama-lama disini. dari subuh smpe isya. hehe

    ReplyDelete
  14. Ini dari mana asal kata jinnya yah, ko ga nemu. Namanya unik masjid jin wkwkwk.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, penterjemahan masjid jin tersirat dibagian akhir.

      Delete
  15. Wah baru Tau ternyata itu ponpes. Kayanya instragramable bgt ya kak

    ReplyDelete

Powered by Blogger.