Dari Writingthon Asian Games 2018 untuk Indonesia



Berkenalan dengan Writingthon oleh Kgs. M. Rio Aldino

Beberapa waktu lalu sebuah info menarik menyinggahi saya, ajang lomba menulis bertajuk Writingthon Asian Games 2018 sangat menyita perhatian saya. Sempat merasa ragu untuk berpartisipasi pada ajang ini karena rasa kepercayaan diri yang tak terlalu kuat ditambah lagi akan bersaing dengan berbagai penulis hebat dari seluruh penjuru negeri. Namun, tekad saya berkata, saya bisa menjadi bagian dari Writingthon Asian Games 2018.

Sebagai wadah bagi penulis-penulis berbakat dari seluruh Nusantara, Writingthon Asian Games 2018 bertujuan untuk menunjukkan rasa bangga terhadap kemampuan Indonesia menjadi tuan rumah bagi penyelenggaraan Asian Games ke-18. Kominfo melalui program dukung bersama menggandeng Bitread dalam menginisiasi acara Writingthon guna menghimpun penulis berbakat dari seluruh Indonesia untuk saling berkolaborasi dan menginspirasi satu sama lain. Dari sekian ribu peserta yang berpartisipasi dalam dua kategori lomba yaitu kategori Blogger dan Pelajar/mahasiswa, alhasil terpilihlah 34 peserta kategori Blogger dan 34 peserta kategori  pelajar/mahasiswa dan tentu masing-masing peserta adalah perwakilan serta kebanggaan dari provinsi dan daerah masing-masing.


Dapat di bayangkan betapa positifnya agenda ini ketika berhasil menjadi wadah yang mempertemukan berbagai pemuda/i Indonesia yang notabene memiliki latar belakang dan budaya yang berbeda menjadi satu kesatuan keluarga di Writingthon Asian Games 2018. Dukung bersama Asian Games 2018 menjadi tagline kami, karena dengan keyakinan segenap dukungan dari seluruh masyarakat Indonesia maka bangsa ini dapat menjadi tuan rumah yang baik serta ramah bagi seluruh kontingen negara lain yang berpartisipasi di Asian Games 2018 .

Menuju Karantina Writingthon dari Kalimantan Timur oleh Alfian Fikri F

Perjalanan dimulai 14 Agustus 2018, 22:00 WITA. Menggunakan bis antar kota, saya berpamitan dengan orangtua serta dengan adek saya. Sedih bercampur senang, sedih karena harus berpisah dengan orangtua dan akan kembali ke perantauan dan senang karena akan berangkat ke Jakarta mengikuti rangkaian acara Writingthon Asian Games bertemu dengan teman-teman dari 34 Provinsi di Indonesia serta menonton langsung pembukaan Asian Games di Jakarta. Perjalanan menggunakan bis ditempuh selama 6 dengan 1 kali Istirahat.

Setibanya di Bandara Internasional Sepinggan Muhammad Sulaiman Sepinggan di Balikpapan, yang saat itu masih gelap dan belum dibuka, saya sempatkan untuk keliling dari lantai 3 menuju lantai 1. Saya melihat beberapa spanduk untuk menyukseskan Asian Games 2018, walaupun di Balikpapan dan Kalimantan sendiri bukan tuan rumah Asian Games 2018. Rasa bangga pun muncul sebagai pengusir rasa sedih saya karena berpisah dengan orangtua. Rasa bangga tersebut sampai membuat saya tidak dapat berkata-kata.

Lampu bandara dinyalakan, pertanda bandara dibuka. Semua orang yang berkumpul di depan bandara, dengan cepat masuk ke Bandara dan sebagian masih ada yang bertahan diluar untuk menunggu giliran check in. Saya pun memilih untuk masuk dan duduk di dalam, sembari menunggu check in dibuka pukul 05:34 WITA. Setelah tiba untuk menaiki pesawat 07:36 WITA saya pun berdo’a untuk kelancaran perjalanan, acara dan untuk kedua orangtua saya dan berharap bisa membanggakan orangtua lagi. Perjalanan memakan waktu 2 Jam perjalanan menggunakan pesawat Lion Air dengan nomer penerbangan JT637. Pukul 08:44 WIB saya tiba di Jakarta, saya langsung dihubungi oleh pihak panitia yang bertugas di terminal 1, namanya Mas Deddy. Setelah turun dari pesawat dan mengambil bagasi, saya ditelpon oleh seseorang yang saya mengira adalah panitia Writingthon Asian Games. Saya disuruh untuk menunggu di depan Halte Bis tepatnya di depan Kedatangan 1A. Saat bertemu dengan orang yang menghubungi saya, ternyata adalah orang dari salah satu agen tiket online. Dan saya teringat, sehari sebelumnya saya sudah memesan tiket online di tiket tersebut untuk berjaga-jaga, sementara mas Deddy menayakan posisi saya. Kemudian saya bilang ke orang yang menghubungi saya, jika saya sudah dijemput.

Saya bertemu dengan Mas Deddy di keberangkatan 1B, dan saya diajak untuk menunggu di Red Corner untuk memesan makanan sembari menunggu peserta lain. Sejam kemudian, saya bertemu dengan teman baru Asal Palu, kemudian bertemu dengan teman baru lagi yang berasal dari Ternate, bernama Dhavid katagori Pelajar/Mahasiswa dan Fani katagori Blogger. Kami saling berkenalan sekaligus menunggu Bis datang sekitar pukul 14:00 WIB. Selama perjalanan, saya melihat banyak atribut Asian Games, mulai dari Bis, patung maskot yang terlihat dibeberapa Spot bandara dan Baleho ajakan untuk menyukseskan Asian Games. Rasa senang telah menghilangi rasa sedih karena berpisah setelah saya bertemu dengan teman-teman baru karena kebersamaan yang sangat terasa.

Pembukaan Writingthon oleh Taumy Alif Firman

Tepat pukul 19.15, acara pembukaan Writingthon dimulai. Sekarang, para peserta sudah menggunakan tanda pengenal, berlatar putih untuk kategori blogger dan berlatar biru dongker untuk kategori pelajar/mahasiswa. Satu per satu, peserta memasuki ruangan dan mengisi tempat duduk yang masih kosong. Acara dibuka dengan perkenalan antar peserta dari seluruh penjuru Indonesia. Kali ini, diiringi Official Theme Song Asian Games 2018 berjudul Meraih Bintang yang populer dibawakan oleh Via Vallen menjadi musik pengiring perkenalan kami.



Sambutan dari Bapak Andi Ismail

Dari sesi perkenalan, acara berlanjut ke sambutan pelaksana Writingthon Asian Games 2018 yang dibawakan oleh Bapak Andi Ismail. Dalam sambutannya, beliau berpesan bahwa acara Writingthon Asian Games ke 2018 ini merupakan salah satu bentuk dukungan dari seluruh wilayah di Indonesia agar dunia tahu, bahwa Indonesia bangga menjadi tuan rumah. Kebanggan itu pun bukan hanya Jakarta dan Palembang yang bisa menikmati eforia Asian Games, tetapi seluruh kawasan Indonesia dari Sabang sampai Merauke bisa menikmati dan menggemakan ajang olahraga paling bergengsi tingkat Asia. Beberapa kali tepukan membahana dari peserta menghiasi acara sambutan dari panitia pelaksana. Selepas sambutan dari panitia pelaksana, acara kini memasuki kesan dan pengalaman peserta sebelum akhirnya, acara pembukaan Writingthon hari pertama ditutup dengan foto bersama.

Tantangan Menulis Marathon

Hari kedua Writingthon diisi dengan tantangan menulis marathon dalam kelompok. Setiap kelompok terdiri atas 4 orang yang merupakan gabungan kategori pelajar/mahasiswa dan blogger. Tantangan utamanya adalah menulis artikel selama 1 jam sebanyak 4 – 8 halaman. Tema yang diangkat pun masih seputar Writingthon untuk dukung bersama Asian Games 2018.

Suasana writingthon hari kedua

Diskusi dan menulis antar kelompok menjadi suasana yang benar-benar tampak di hari kedua ini. Sesekali, rekan satu tim mengingatkan batas waktu. Akhirnya, setelah 1 jam berlalu, semua kelompok memposting hasil karyanya di blog masing-masing sebagai tanda berakhirnya kompetisi menulis marathon.

Kesan dan Pesan Mengikuti Writingthon Asian Games 2018 oleh Vivi Oktaviani P

Kesan pertama dan paling utama yang ditimbulkan saat menjadi peserta Writingthon Asian Games 2018 ini adalah rasa kagum akan keberagaman yang ada di Indonesia. Seluruh peserta datang dengan mengantongi ciri khas, cerita dan pengalaman dari daerah masing-masing. Dengan Writingthon sebagai wadahnya, para peserta saling bertukar informasi dan inovasi dalam bentuk pemikiran dan dukungan untuk menyemarakkan Asian Games 2018 yang mendaulat Indonesia sebagai tuan rumahnya.

Tak hanya itu, Writingthon Asian Games ini pun secara tidak langsung mendorong para peserta sebagai generasi andalan bangsa untuk memanfaatkan media social dengan baik dan bijak. Penggunaan blog, facebook, instagram dan lain sebagainya untuk mendukung Asian Games 2018 pada kenyataannya tidak sekedar mengangkat nama baik Indonesia di mata dunia, namun juga memupuk kepedulian generasi muda penerus bangsa terhadap tanah airnya sendiri.

Partisipasi kami sebagai peserta Writingthon Asian Games 2018 ini merupakan salah satu bentuk ikhtiar nyata untuk Indonesia di mata dunia. Setelah melalui berbagai rangkaian kegiatan Writingthon ini, kami menyadari dan memahami bahwa seluruh pihak harus berperan nyata dalam menyemarakkan Asian Games 2018, dengan bentuk tulisan atau apapun itu. Asian Games 2018 bukan sekedar perhelatan olahraga terbesar di Asia, namun juga momen pembuktian diri bagi Indonesia perihal kematangannya dalam menyelenggarakan perhelatan luar biasa. Bagi kami, tulisan demi tulisan, goresan demi goresan pena, karya demi karya yang kami rumuskan bersama ini merupakan bentuk cinta dari Writingthon Asian Games untuk Indonesia.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                       

No comments:

Powered by Blogger.