Inspirasi Perjalanan dari Pesisir Pantai Tambu Bersama Astra


Terik matahari sangat menyengat kulit. Pasir pantai tambu pun terasa panas jika terinjak. Hari itu, Agustus tahun 2000, masih seperti hari-hari lainnya. Saat perjalananku kembali dari sekolah di kampung atas, melintasi perkebunan warga di ujung jalan hingga hutan mangrove yang mengapit disisi kiri dan kanan sepanjang perjalanan pulang. Di pinggir pantai, pohon ketapang yang tumbuh sendiri tidak mampu lagi menahan sengatan matahari yang seakan-akan membakar ubun-ubun. Pohon ini lah yang biasanya selalu membuat rindang sekaligus peneduh menanti kabar dari laut. Tapi hari itu begitu spesial, kabar yang dinantikan berasal dari desa di daratan atas, berjarak 35 km dari kampung nelayan, kami menyebutnya Desa Tolai. Disana pasar dan toko bangunan terlengkap berderet disepanjang jalan, setiap harinya transaksi dan kegiatan jual beli terjadi di pasar sana, hal yang sangat kontras dengan kampung disini, dimana pasarnya hanya ada setiap hari Kamis. Itu pun berlangsung 5 jam saja. Di Tolai lah, mimpi dan asa mulai menawarkan secercah harapan. Bukan karena keramaiannya, tetapi karena keberadaan dealer Astra Honda Motor yang siap melayani nasabah yang ingin memiliki motor, dan tepat hari itu, ayahku melakukan pembelian motor Honda Supra X yang kemudian menjadi tumpuan perubahan penghasilan keluargaku.

Suasana pesisir nelayan Desa Pantai Tambu saat ini


Awalnya, kami sekeluarga hidup layaknya keluarga nelayan lainnya. Ikan hasil tangkapan Ayah dan nelayan lainnya dipilah berdasarkan jenis dan ukuran. Setelah siap, karena kampung ini tidak memiliki tempat pelelangan ikan, maka ibuku lah yang senantiasa menjual hasil tangkapan laut. Menggunakan keranjang ikan berbahan plastik, ibuku mulai berjalan dari pantai ke kampung-kampung terdekat dengan menjunjung ikan yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Hanya beralaskan handuk bekas dan dibuat padat melingkar sebagai pembatas sekaligus penahan berat antara kepala dan keranjang plastik. Tidak jarang, puluhan kilometer ibuku lalui, menjajakan hasil tangkapan laut melewati Kampung Tabanan, Sisipan, Mertajati, Bali Indah bahkan sampai di Sausu Bawah jika dagangannya belum habis semuanya. Terkadang sepulang jualan, ibuku bukan hanya membawa uang, tetapi juga membawa beras hasil menukar antara ikan dan beras dari petani program transmigrasi Pulau bali. Jika rejeki belum berpihak dan dagangan ikan itu tidak habis meskipun sudah mengelilingi seluruh kampung, maka ikan tersebut dibelah, untuk dikeringkan agar bisa tetap awet karena kesulitan mendapatkan sumber es dikampung ini. Jangankan listrik, minyak tanah pun sulit didapatkan di kampung nelayan ini.

Tetapi hari ini, aku sungguh berharap, motor Honda yang Ayahku beli di Dealer Astra Tolai tersebut akan mengurangi beban Ibu dan merubah kondisi keluarga kami. Motor ini akan menjadi barang mewah pertama milik keluarga, hasil menyisihkan penjualan ikan bertahun-tahun. Bentuknya sangat modern kala itu, velg rodanya mengkilap, dengan desain warna hitam bersticker oranye tertulis Supra X. Kehadirannya pun sontak menjadi bahan perbincangan hangat dikampung nelayan, bukan hanya sehari, bahkan berminggu lamanya. Ini dikarenakan, motor merupakan barang termewah saat itu, disamping mesin perahu merek honda sebagai mesin penggerak perahu untuk digunakan melaut.

Rumah kayu nelayan

Kehadiran Motor Supra X dikeluarga kami juga membawa berita mengejutkan, ayahku memutuskan untuk menjadi penjual ikan menggantikan posisi ibuku selama ini. Sebuah keputusan luar biasa dan sekaligus sebagai pilihan terbaik, karena memang saat itu hanya ayahku yang bisa mengendarai motor tersebut. Keputusan ini pun, kelak akan menjadi keputusan merubah kehidupan keluarga kami secara bertahap dari keluarga penangkap ikan menjadi “padola ikan”. Padola berarti penjual dalam Bahasa Kaili.

Sore itu juga, dihari yang sama dengan kehadiran Motor Supra X sebagai anggota baru dikeluarga, ayahku mulai mempersiapkan peralatan jualnya menggunakan sepasang keranjang rotan dan dihubungkan dengan papan sebagai penahannya agar bisa diletakkan dibagian belakang motor, tidak lupa pula penutup keranjang rotan dibagian atas untuk menjaga ikan tetap segar tidak terkena matahari secara langsung ketika dijajakan keliling kampung.

Waktu berlalu, kehidupan kami pun sudah sangat mencukupi sebagai keluarga nelayan di pesisir yang menjual ikan menggunakan motor. Tepat di tahun 2002 bulan Mei, aku pun menyelesaikan ujian nasional di sekolah tingkat pertama dikampung itu, bernama SLTP N 3 Sausu, berdua dengan teman seperjuanganku dari pesisir. Bagi kami warga pesisir, tidak perlu untuk sekolah tinggi-tinggi, cukup bisa menulis, membaca dan menghitung, maka saat itulah sekolah sudah tidak diperlukan lagi. Itulah alasan, mengapa cuma kami berdua yang akhirnya bertahan sekolah di sekolah lanjutan tingkat pertama ini. Hampir semua remaja tanggung seusiaku, lagi-lagi dihadapkan dengan budaya dan kemauan. Budaya untuk menjadi nelayan tangguh dengan kemampuan bisa menulis, membaca dan menghitung saja atau melanjutkan impian untuk sekolah setinggi-tingginya semampunya. Ini lah yang menghantui pikirinku setiap hari sebelum akhirnya hari kelulusan tiba. Semua orang tua diundang untuk menyaksikan pengumuman kelulusan anaknya.

Matahari terbit di Pantai Tambu


Seperti biasa, selepas subuh, aku berjalan menuju Tajene sebagai lokasi sumur air payau terdekat dikawasan pesisir, berjarak 1 km dari tempat tinggalku. Bergegas aku mandi, karena hari ini adalah hari spesial, hari pengumuman kelulusanku dan ayahku sudah memutuskan untuk tidak berjualan. Beliau ingin mengantar dan menyaksikan kelulusanku menggunakan sepeda motor kesayangannya yang selalu menemani sejak 2 tahun lalu. Cukup 15 menit, menggunakan sepeda motor dari pesisir ke sekolahku yang berjarak 6 kilometer tersebut. Ini adalah pertama kalinya, ke sekolah tanpa perlu berjalan kaki. Motor Supra X ini sudah jauh membantu keluarga kami sejak pertama kali kehadirannya dan sekarang pun motor ini akan menjadi saksi langkah perjalanan awal ku merangkai masa depan.

Di Aula sekolah, rangkaian demi rangkaian acara kelulusan dimulai, para orang tua dan murid duduk di kursi terpisah, para wali murid disisi kiri aula sedangkan murid dengan wajah cemas disisi kanan aula. Satu per satu nama kami dipanggil, tidak banyak, hanya 25 siswa. Kami semua maju kedepan berdasarkan urutan dan menerima amplop dari Kepala Sekolah yang kemudian akan menentukan hasil belajar selama 3 tahun. Hampir serempak kami membukanya, begitupun juga denganku. Di dalam amplop tertulis, nomor induk siswa dan namaku serta terpampang dengan jelas tulisan “Lulus”. Aku bersyukur sambil menoleh kearah Ayahku dan memperlihatkan kertas tersebut, dan tanpa dikomando, Ayahku mengangkat kedua tangannya ke langit dan mengusapkannya ke wajah beliau. Hiporia kelulusan pun berlanjut dengan rangkaian acara seni lainnya, kami semua lulus 100 %.

Acara terakhir adalah pidato dari Kepala Desa Sausu Piore sebagai perwakilan sekolah yang begitu mengejutkan. Dalam isi pidatonya, beliau menggambarkan kehidupan salah satu orang tua siswa yang kesehariannya menggunakan sepeda motor menjajakan dagangannya demi menghidupkan keluarganya dan menyekolahkan anaknya di sekolah terpencil ini. Berjuang dibawah panas matahari ketika musim kemarau dan dinginnya air dari langit ketika musim penghujan, tetapi akhirnya berbuah manis. Anak beliau berhasil menjadi pemegang nilai peringkat 3 tertinggi untuk mata pelajaran IPA se kabupaten Donggala, sebuah prestasi yang sangat membanggakan dari sekolah yang baru meluluskan dua angkatan ini, dia adalah Anak “Padola Ikan” dari kampung nelayan, Pantai Tambu. Tepuk tangan penuh haru mengisi Aula sekolah, saat namaku disebutkan. Teman-temanku mulai memeluk ku, kami semua bangga atas pencapaian ini. Pencapaian presetasi di sekolah terpencil yang baru meluluskan dua angkatan.

Kami pulang dengan rasa haru dan tidak percaya, tidak ada percakapan yang terjadi sepanjang jalan pulang diatas motor supra X. Motor ini sudah menjadi inspirasiku untuk tetap sekolah setinggi semampuku. Motor ini pula, sudah menjadi media tulang punggung keluarga dalam mencari nafkah, sekaligus menjadi saksi setiap perjalananku. Hingga akhirnya, aku berhasil menjadi Magister Kimia pertama lulusan Universitas Indonesia dari pesisir Pantai Tambu dan meraih penghargaan “The best paper & Presentation” se Asia Pasifik pada “Corrosion Conference” tahun 2015 di Chennai-India.

"The best paper and presentation” se Asia Pasifik pada Corrosion Conference 2015 di Chennai-India







71 comments:

  1. Perjuangan yg berbuah manjs ya bang. Semangat terus!

    ReplyDelete
  2. Mas Talif bener2 sangat menginspirasi sampe 'ga berani' mau komen.

    Udah gitu, dari paragraf awal sampe penutup pemilihan kata dan penyusunan kalimatnya ky baca novel2, enak banget buat dibaca.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih kak. Semoga bisa diambil bagian positifnya. Ini lagi belajar juga, menulis dan merangkai kata.

      Delete
  3. Replies
    1. Terimakasih kak. Baru belajar menulis juga.

      Delete
  4. Asyik banget ya bisa punya barang mewah. Terus waktu naik motor diikutin anak-anak dari belakang, nggak? Hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak Nunik. Apalagi pas masa DVD masuk kampung, suaranya bisa didengar satu kampung. Dan itu juga menjadi barang mewah, kala itu.

      Delete
  5. OMG....nice story. Bikin terharu dan berkaca-kaca

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih kak. Mohon maaf, sampai "berkaca-kaca"

      Delete
  6. Terharu banget bacanya, alur ceritanya juga enak dibaca. Lanjutin jadi buku Mas ceritanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Terimakasih kak Antin. Mohon doanya, semoga bisa tercapai.

      Delete
  7. Mantabbb. Menginspirasi. Kpn coba main ke pantai tambu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo Bang Tengku. Kalau lagi mau maen ke Togean atau Sombori tinggal berkabar, nanti bisa mampir di Pantai Tambu

      Delete
  8. Ya ampuun... kirain maksudnya disponsorin Astra ke Pantai Tambu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Awalnya ingin menuliskan merek motornya, tetapi khawatir kepanjangan dijudulnya, jadilah memilih Astra πŸ˜€

      Delete
  9. Hebatnya ayah mas alif. Semoga bisa menjadi inspirasi untuk kita semua

    ReplyDelete
  10. Luar biasa. Salut untuk perjuangannya. Saya juga motornya dari awal beli sampai saat ini Supra X 125 D, tapi masih biasa-biasa saja hidupnya hehehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama kak Ris. Pasti ada kisah dibalik motor kak Ris juga, karena kak Ris sudah berhasil membeli motor itu sendiri.

      Delete
  11. Ceritanya bagus benerrr, endingnya pun mantep bang...

    ReplyDelete
  12. saya terharu bacanya, kisah perjuangan yang luar biasa. Desa tempat kelahiran Mas punya pemandangan cantik. oh ya itu di kalimat "ibu lalui" tanda komanya agak jauh, harusnya melekat. keep writing and cheer up

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih kak Yunita atas masukan dan koreksinya. Insha Allah tetap semangat menulis.

      Delete
  13. Tanpa sadar mata saya berkaca-kaca. Salut, mas!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih kak Zaoza, mohon maaf sudah membuat berkaca-kaca matanya, semoga bisa diambil positifnya.

      Delete
  14. Seru ya mas punya cerita masa kecil. Jaman aku, semua nya udah biasa. punya handphone biasa aja, punya motor biasa aja. Eh ada deng yang ga biasa, punya pacar. πŸ™ˆ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. Punya pacar dimasa kecil, itu cerita luar biasa ya kak Elsa

      Delete
  15. Bang, ini setting tempatnya di Bali atau di mana ya? Soale ada Tabanan, Bali lndah dll. Btw, ceritanya inspiring :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini di Pantai Tambu, Sulawesi Tengah, dimana memang banyak suku Bali dari program pemerintah zaman dahulu, transmigrasi langsung dari Pulau Bali. Makanya, kampung mereka pun namanya identik dengan nama kampung yang ada di Bali.

      Delete
  16. keren kak, sangat menginspirasi 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih kak, semoga bisa diambil bagian positifnya.

      Delete
  17. Bisa difilmkan nih Mas.. inspiring! (motornya jgn dijual yaa..hehe)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, Insha Allah. Semoga kelak, bakal muncul dilayar lebar. Insha Allah motornya masih ada, tinggal rangkanya.

      Delete
  18. Inspiratif banget bang kisahnya. Semoga makin banyak anak-anak terpencil yang menapaki jalan yang anang tempuh, sukses selalu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Terimakasih kak, sukses selalu buat kak Nasa juga

      Delete
  19. Luar biasa mas, ditunggu tulisan selanjutnya πŸ‘

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh, Uda Farid. Mampir juga di blog saya. Terimakasih Uda, Insha Allah akan ditulis lanjutannya.

      Delete
  20. Terharu asli..
    Inspiratif
    Salut untuk keteguhan perjuangan kakak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih kak Tuty. Salam sukses buat kita semua.

      Delete
  21. Ceritanya menginspirasi. Hasil tidak mengkhianati usaha ya Bang. Good Job.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, semoga bisa diambil sisi positifnya.

      Delete
  22. Awalnya aku kira ini sponsored by astra loh kak taumy.. hihihi..
    Inspiratif sekali ceritanya kak..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Awalnya mau tulis judulnya, Motor Honda Supra X, tapi terlalu panjang, jadi memilih kata ASTRA saja jadinya. Terimkasih sudah sempat baca.

      Delete
  23. Inspiratif banget perjalanan hidupnya, Mas. Menyemangati untuk tidak pantang menyerah.
    Semoga sukses selalu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Terimakasih kak, semoga bermanfaat. Sukses buat kita semua.

      Delete
  24. pesisir TIMUR sulteng.. hamak pe kangen kita dang...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hamma le..Kesini jo dang, kalo ngana so kangen.

      Delete
  25. Bang Taumy.... Kan bener kan,, tulisanmu slalu enak dibaca,, alur , konten, foto2nya,, berbakat bang nulis buku..

    Sy curiga bg Alif next keluarkan buku..,πŸ˜„

    Oh iya Bang,, smangat terus utk bangun Pantai Tambu nyaπŸ’ͺ,, smoga makin banyak klonning anak muda jaman now macam ginilah.. 😎

    Sukses dunia akhirat bg Taumy.. aamiin.. tks sdh menginspirasi 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Terimakasih banyak loh kak Ndari, semoga pengabdian kak Ndari juga bermanfaat dunia-akhirat.

      Insha Allah suatu saat, jika kisah perjalanan ini terbit, kak Ndari pasti jadi salah satu saksinya. Mohon doanya.

      Delete
  26. Mrinding bacanya, berasa baca novel Laskar Pelangi :)
    Sangat inspiratif bang ceritanya, apa resepnya bisa sepintar itu bang? belajar terus-terusan atau memang dari sananya udah pintar? hehe
    Bukan keadaan yang menentukan nasib kelak, tapi usaha dari diri sendiri. Eaaa,,, Mantap nih tulisannya!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih kak Ning ya. Kalau kami memang dari keluarga nelayan, dan adik saya tepat dibawa saya putus sekolah di kelas 5 SD. Jadi, sepertinya keadaan yang membuat seperti itu :)

      Delete
  27. Selamat mas, atas pencapaiannya. Tetap berkarya dan terus menginspirasi yaa.

    Dan selamat juga, Anda sudah membuat mata saya mbrebes mili.


    Hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih kak. Insha Allah, mata mbrebes milinya kakak akan mengingat bagian positifnya.

      Delete
  28. Mas... ini di daerah mana? Sulawesi ya?
    Btw.. kapan nih mau aktif lagi di kubbu mas?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Bang Eka. Tepatnya di Kecamatan Sausu, Sulawesi Tengah. Selama ini, memang jarang ikut agenda Kubbu karena kebanyakan dinas keluar kota. Mohon dimaafkan ya Bang.

      Delete
  29. Wah, hasil memang tidak pernah mengkhianati usaha. Salut!

    ReplyDelete
  30. Ceritanya menginspirasi Mas, salut!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih kak. Semoga bisa diambil bagian positifnya.

      Delete
  31. Menginspirasi bang. Apalagi pas baca paragraf yang lulus SMP dgn nilai IPA terbaik ketiga bla bla bla, itu bikin terharu. Mau nangis tapi malu. Ga mau ngomong apa-apa udah. Kereeennn

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih sudah sempat mampir. Aamiin. Semoga bermanfaat kak hasil baca tulisannya.

      Delete
  32. Bener kata ning, berasa baca novel Laskar Pelangi. Dari awal sampe akhir, suka banget bahasa, alur dan fotonya. Aaah keren dan menginspirasi, bang, klo bikin buku, saya pasti minta tandatangan nya ya 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Insha Allah. Terimakasih kak Hayati atas komentar penambah semangat untuk menjadikan catatan perjalanan ini kedalam sebuah buku πŸ˜€

      Delete
  33. terharu bgt aku baca nya mas. langsung merasa perjuangan ku g ad apa2nya πŸ˜₯

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih kak Titi, disetiap kehidupan kita pasti ada perjuangan luar biasa yang kita lewati.

      Delete
  34. Perjalanan hidup kakak inspiratif banget. Semoga banyak orang di luar sana yg punya semangat meraih mimpi setinggi-tingginya. Salut juga untuk keluarga kakak yg mengedepankan masalah pendidikan. Semoga selalu mendapat keberkahan untuk kakak dan sekeluarga 😒

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Terimakasih kak. Doa terbaik juga buat kakak, Insha Allah keberkahan selalu menyertai kakak sekeluarga. Aamiin.

      Delete
  35. aku terharu melihat perjuangannya, alhamdulillah hasil yg didapat juga sebanding dengan kerja keras dlu..

    terima kasih utk memotivasi saya yg masih berjuang :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih kak Derus. Semangat buat perjuangannya. Kita tidak bisa tahu hasilnya seperti apa, tetapi yang bisa kita lakukan adalah memaksimalkan semua yang kita bisa.

      Delete

Powered by Blogger.