Demi Langit Biru, Pertamina Kembangkan Bahan Bakar Gas


Polusi udara di Indonesia memang sudah sangat memprihatinkan. Kualitas udara perkotaan pun semakin hari semakin tidak sehat, tidak terkecuali Jakarta. Buruk tidaknya kualitas udara suatu kota, ditentukan berdasarkan angka Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU). Udara perkotaan dikatakan baik jika memiliki angka ISPU 0-50 (hijau), kualitas sedang di angka 51-100 (biru) dan sudah tidak sehat jika angka ISPU sekitar 101-109.

Banyaknya jumlah kendaraan Kota Jakarta (Sumber: mobilkamu.com)

Berdasarkan indeks kualitas udara yang  terekam secara terus menerus di laman internet Airvisual.com bulan Oktober 2017, menempatkan Jakarta di posisi ke-empat sebagai kota dengan tingkat polusi tertinggi di dunia setelah Dhaka, Karachi dan Ulaanbaatar. Tingginya tingkat polusi ini tidak terlepas dari banyaknya penggunaan kendaran bermotor yang menghasilkan emisi gas buang sebagai salah satu penyebab utama tingginya polusi udara kota Jakarta. Badan Pusat Stastik tahun 2016 di katalog “Jakarta dalam Angka 2016”, mencatat sebanyak lebih dari 18 juta kendaraaan bermotor yang dimiliki oleh warga Jakarta di bulan Desember 2015. Angka yang sangat fantastis, sebagai penyumbang tingginya emisi buang gas kendaraan bermotor yang akan berdampak penurunan kualitas udara dari hari ke hari dan jika hal ini terus berlanjut, maka suatu saat langit tidak lagi berwarna biru akibat tertutupi asap kendaraan bermotor.

Indeks Kualitas Udara (Sumber: PT Tridinamika)

Melihat tantangan ini, maka Pertamina sebagai salah satu perusahaan nasional dibidang pengolahan minyak dan energi berusaha terus berinovasi dengan mengembangkan bahan bakar ramah lingkungan demi terwujudnya program langit biru yang merupakan salah satu program pengendalian pencemaran lingkungan udara dari segala bentuk kegiatan sumber bergerak seperti kendaraan bermotor maupun sumber yang tidak bergerak seperti aktivitas industri dengan tujuan terciptanya mekanisme kerja dalam pengendalian pencemaran udara yang berdaya guna dan berhasil guna.

Sebenarnya, inovasi penggunaan bahan bakar non minyak mulai diperkenalkan Pertamina di tahun 1986 serta berlanjut di tahun 1993 dan memang menjadi salah satu bagian untuk mendukung program langit biru. Kemudian di tanggal 10 Desember 2012 produk bahan bakar gas ini diluncurkan kembali dengan brand baru “Pertamina Envogas”.

SPBG-Envogas (Sumber: Pertamina.com)

Produk Pertamina Envogas merupakan salah satu bahan bakar alternatif dalam bentuk CNG (Compressed Natural Gas) atau Gas Alam terkompresi yang diperoleh melalui proses kompresi metana (CH4) sebagai hasil ekstraksi gas alam dengan tekanan 200 – 275 bar. Dari segi emisi yang dihasilkan, penggunaan CNG sebagai bahan bakar alternatif jauh lebih ramah terhadap lingkungan jika dibandingkan dengan penggunaan bahan bakar berbasis minyak atau sering disebut BBM. Hal ini lebih disebabkan emisi CNG hanya menghasilkan 1/3 dari kadar emisi BBM. Selain itu penggunaan CNG, sangat baik buat mesin kendaraan karena kandungan oktannya (RON-Research Octane Number) sebesar 120, yang mampu menghasilkan pembakaran lebih bersih, sehingga mesin kendaraan lebih awet dengan perawatan yang lebih efisien. Dari segi keamanan penggunaan, meskipun CNG dalam bentuk gas, ketika terjadi kebocoran maka CNG akan seketika terlepas ke udara karena tersusun atas fraksi gas yang lebih ringan yaitu metana (CH4) sehingga relatif lebih aman dibandingkan bahan bakar minyak.

Selain produk Envogas (CNG), Pertamina juga mengembangkan produk alternatif lainnya non minyak dengan merek Pertamina Vi-Gas yang merupakan produk turunan dari LPG yang dinamakan LGV (Liquified Gas for Vehicle) dengan campuran propana dan butana. Produk ini dikemas dalam tabung yang sekaligus berfungsi sebagai tangki bahan bakar sehingga cocok digunakan kendaraan kecil, baik kendaraan umum maupun kendaraan pribadi.

Pertamina Vi-Gas (Sumber: baliekbis.com)


Penggunaan CNG dan LGV sebagai bahan bakar alternatif  non minyak sangat membantu mengurangi polusi udara yang disebabkan oleh kendaraan bermotor. Kedua produk ini mampu menghasilkan emisi yang lebih rendah dibandingkan BBM sehingga akan menciptakan kualitas udara lebih baik akibat menurunnya angka ISPU  di kisaran 0-50 (kualitas udara sehat). Jadi sekarang, pilihannya ada di kita. Jika ingin mendukung program langit biru, maka sudah saatnya lah kita menggantikan bahan bakar minyak menjadi bahan bakar berbasis non minyak demi masa depan langit yang lebih cerah.

#GenLangitBiru

10 comments:

  1. Saya baru tahu tentang envogas loh... Padahal sering isi BBM di POM. Apa tidak merata ya penyebarannya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saat ini memang, sebaran Envogas belum merata diseluruh Indonesia, baru ada di Jabodetabek, Jawa Timur, Sumsel, Jawa Tengah, Riau dan Batam serta di Balikpapan. Semoga kedepan, seluruh Indonesia sudah dipenuhi dengan SPBG demi terwujudnya generasi langit biru.

      Delete
  2. Replies
    1. Siap. Semoga kita bisa jadi Generasi Langit Biru untuk mengurangi polusi udara

      Delete
  3. Serasa kembali nge lab q3a.. Informatif! Tks kakak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama2 kak, semoga bermanfaat tulisannya.

      Delete

Powered by Blogger.