Taj Mahal: Bukti Cinta dan Kesedihan yang Terabadikan Zaman



Pagi ini New Delhi terasa istimewa buatku, orang Indonesia. Temperatur 13 oC sudah cukup membuat badan ini menggigil, menahan dingin. Polo T-shirt berbahan katun pun tak mampu menahan terpaan hawa dingin ini. November, merupakan musim dingin di New Delhi. Musim yang cukup baik untuk menikmati liburan di tanah Jodha akbar. Sambil menunggu Mr Vishnu yang akan mengantarkan aku ke Agra, aku mencoba untuk menghibur diri dipelataran hotel The Royal Plaza. Mulai dari mengamati gerombolan turis, yang dari bahasanya aku bisa pastikan bahwa mereka berasal dari Thailand tanpa harus menanyakan kepada mereka, sampai mendengarkan kicauan burung yang sempat terbang merendah melintasi langit-langit sekitar pelataran. Lima menit berselang, aku pun tidak mampu menahan dingin nya udara pagi ini, padahal jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Bergegas kemudian, aku kembali kekamar di lantai 8 untuk mengambil jaket penghangat yang selalu aku bawa ketika bepergian kemanapun


Tepat pukul 08.12, panggilan masuk dari Mr Vishnu muncul dilayar elektronik 5.5 inchi yang aku punya. Tanpa mengangkat panggilan tersebut, aku keluar lobby hotel dan langsung menghampiri Mr Vishnu. Cukup gampang mengenalinya, meskipun baru pertama kali bertemu. Menggunakan Jaket tebal berbulu angsa, beliau menyapa aku dengan bahasa Inggris. Beliau cukup fasih berbahasa Inggris karena bahasa ini menjadi bahasa kedua setelah bahasa hindi, dinegeri berpenduduk setengah milyar.

Pintu Jalan Bebas Hambatan yang Menghubungkan New Delhi dan Agra

Kijang Innova SUV, yang akan aku tumpangi beserta rombongan lain menuju Agra. Kota dimana terdapat salah satu bangunan keajaiban dunia. Waktu tempuh Delhi-Agra sekitar 3 jam 30 menit tergantung kondisi jalanan dan keramaian mobil dengan tujuan sama melewati jalan bebas hambatan. Mendekati Agra, papan penunjuk arah berlatar coklat dan bergambar kubah dengan tulisan “Taj Mahal” dikiri jalan diiringi dengan berubahnya lajur jalan dari 4 lajur menjadi 2 lajur menunjukkan bahwa kami sudah semakin dekat dengan tujuan utama kami. Setibanya di Agra, kondisi berubah drastis. 


Beberapa pedagang di Agra

Layaknya mengunjungi kota masa lampau tahun 70’an. Seluruh kawasan kelihatan tidak terawat, tidak satu pun bangunan modern ataupun pencakar langit tampak di kota ini. Kendaraan kami perlahan melintasi sungai Yamuna, dan tiba-tiba sirine polisi pengawal mobil orang penting tepat berada dibelakang kami. Seperti adegan salah satu film Bollywood, polisi pun teriak-teriak, sambil mengayunkan tongkatnya dari jok mobil bagian depan, agar mobil kami minggir dan mempersilahkan mobil yang dikawalnya lewat. Polisi dengan raut sangar khas film India pun tampak nyata didepan mata. 

Fatehpuri Gate

Tidak lama berselang bangunan berbentuk simetris, berwarna putih pun sudah Nampak. Masya Allah, inilah bukti cinta yang terabadikan zaman. Tidak banyak bukti cinta masa lalu yang masih berwujud sampai sekarang. Semakin mendekati gerbang masuk, sudah banyak tawaran "tour guide" lokal dengan kartu nama berstempel pemerintah setempat mendekat.

Taj Mahal

Berbekal kata “nehi” kami pun mencoba menolak tawaran mereka sembari tetap tersenyum, dan mereka pun tetap tidak menyerah. Mencoba kembali memberikan penawaran jasa yang mereka miliki. Gesit mengejar kami, dengan mensejajarkan langkah yang kami pun mulai mempercepat sejak mulai memasuki gerbang, layaknya balapan menuju kawasan pembelian tiket.

Sebagai pengunjung asing, tiket masuk Taj Mahal cukup jauh berbeda bila dibandingkan penduduk lokal. Jika penduduk lokal dihargai 40 rupee, maka pengunjung asing harus membayar 1000 rupee dengan fasilitas “fast track” dan sehelai kantung putih semi katun.


Bangunan Masjid dari Dalam Taj Mahal


“Fast track” ini pun memang sangat menguntungkan, tidak perlu antri panjang hingga berpuluh meter untuk masuk ke area Taj Mahal, karena diuntungkan dengan adanya jalur khusus. Memasuki kawasan via “Fatehpuri Gate”, kita sudah disajikan dengan berbagai bentuk bangunan simetri disegala penjuru mata angin. Memang salah satu mahakarya yang luar biasa. “Fatehpuri Gate” pun juga simetri dengan “Fatehabad Gate”.


Memasuki area utama, maka tatapan kita langsung terarahkan dengan bangunan putih menyerupai Masjid sejajar mata memandang, didepannya taman dan air mancur melengkapi keindahannya. Gabungan arsitektur, India dan Arab sangat kental dikawasan ini. Hanya bangunan yang menyerupai Masjid ini lah yang berwarna putih, sisa bangunan lainnya berwarna merah bata, begitu pun dengan Masjid sebenarnya disisi kiri bangunan yang juga berwarna merah bata simetri dengan Mehman Khana.












Marbel dalam Taj Mahal
Inilah Taj Mahal, sebuah tempat peristirahatan terakhir yang dibangun oleh Shah Jahan dari dinasti Mughal untuk mendiang istri ketiganya Mumtaz Mahal yang wafat ketika melahirkan putri sekaligus anak ke-14 mereka, Gauhara Begum. Arsitektur luar biasa karya Ustad Ahmad dengan teknik simetri yang dunia mengakuinya, sebagai bangunan paling simetris di dunia.

  

Bangunan yang melambangkan rasa cinta suami kepada istrinya dengan begitu indah dan megahnya, bahkan mungkin disini pula kita bisa melihat hologram pertama dimasanya, dari berbagai marbel dan permata yang akan bersinar ketika terkena cahaya, indah dan menawan.






Hingga akhirnya, struktur asimetri hanya ditemukan pada bagian dalam makam, yaitu makam Mumtaz Mahal dan makam Shah Jahan yang dibuat dengan ukuran berbeda. Inilah kisah itu, kisah cinta yang terabadikan zaman, hingga menjadi salah satu keajaiban dunia dan alhamdulillah, aku bisa menyaksikannya.


22 comments:

  1. Wah, Taj Mahal layak masuk whishlist nih? Btw abis berapa tuh ke sana?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kemarin ambil paket tur sehari, habisnya sekitar 450ribuan dari New Delhi ke Agra. Tapi kalau ditanya, habis berapa selama di India, sekitar 2 juta'an selama 4 hari. Diluar tiket pesawat.

      Delete
  2. Taj Mahal megah banget ya, fotografinya juga keren... Trus bisa ngebayangin anggota polisi yg pakai seragam cokelat2 mengacung2kan pentungan. Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih ka Ning. Hahaha..Iya, bener sekali, sama persis di film Bolywood, terutama seragamnya.

      Delete
  3. luar biasa menawannya Taj Mahal ini.
    btw, foto2nya keren kak!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih ka Lisa, kalau kesini jangan lupa dengan pasangan ya dan Taj Mahal, tutup dihari Jumat.

      Delete
  4. mau k indiaaaa.... arghhhh ketemu mithun ke tajmahal.. arghhh abs berapa mas?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo bang Doel, banyak makanan yang menggoda selera dengan rempah-rempahnya. Kemarin habis 2 juta'an sekitar 4 hari

      Delete
    2. Duuuh pengin juga gue ke india....

      Delete
    3. Yuk. Siapa tahu ketemu Amir Khan

      Delete
  5. Begitu menawanya taj mahal. Mupeng euy

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Bang, kalau kesana mungkin bisa sekalian ke Kashmir atau Ladakh, tempat syutingnya film '3 idiot'

      Delete
  6. Suka tulisannya kak, rapih. Foto-fotonya juga bagus :)

    ReplyDelete
  7. Begitu baca just Taj Mahal langsung ke bayang kisah cinta, salah satu destination yang pengen aku kunjungi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak. Taj Mahal menjadi bucket list jika berkunjung ke India

      Delete
  8. Pernah baca bukunya menyentuh bgt kisah nya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya sendiri, malah belum pernah baca bukunya 😁

      Delete
  9. Replies
    1. Terimakasih kak Zaoza. Jangan lupa ke Taj Mahal ya, jika berkunjung ke Delhi

      Delete

Powered by Blogger.